ketigapuluhenam

1K 138 37
                                        

Sebuah mobil berhenti di depan gedung taman kanak-kanak yang tampak mencolok dengan warna-warna cerah dan suara riuh anak-anak di dalamnya.

Tak lama kemudian, seorang turun dengan langkah cepat. Dasi di lehernya miring, rambutnya berantakan, jelas orang itu tak sempat merapikannya. Wajahnya begitu tegang, napasnya sedikit terburu. Ia tidak mempedulikan penampilannya sama sekali.

Tanpa menunda, orang itu langsung melangkah masuk ke dalam gedung taman kanak-kanak itu.

Begitu memasuki gedung, pandangannya langsung menyapu ke segala arah. Lorong itu dipenuhi gambar-gambar anak, tempelan kertas warna-warni, dan suara langkah kecil yang berlarian.

"Permisi," ucapnya singkat pada seorang guru yang lewat, nadanya terburu.

Guru itu menoleh, tampak sedikit terkejut melihat kondisi orang di hadapannya.

"Ada yang bisa saya bantu pak?" Tanya guru itu mencoba profesional.

"Saya wali dari Jung Yejun ingin menjemput yejun" Jawab orang itu.

"Ahh, wali Jung Yejun. Baik pak, saya antarkan anda ke kelas yejun" Guru itu berjalan bersama orang itu.

Dalam perjalanan hening, keduanya sama sama diam.

Guru itu sempat mencuri pandang pada orang itu karena merasa asing. Dan orang itu sebenarnya tau jika guru itu sedang mencuri curi pandang, tapi ia mengabaikan hal itu.

"Kelas Yejun di ujung sana, Pak," ucap sang guru akhirnya memecah keheningan.

Ia mengangguk singkat, "Terima kasih"

Guru itu pun berbalik, kembali ke arah lain karena ada anak-anak yang harus diurus.

Sementara orang itu melangkah kembali beberapa langkah lagi sebelum akhirnya berhenti didepan pintu yang ditunjuk guru itu.

Terdengar suara tangis kecil dari balik pintu kelas yang terbuka sedikit. Tangis kecil iti kalah dengan riuhnya kelas, tapi masih cukup jelas didengar orang itu.

Napasnya tertahan.

Dadanya terasa mencelos.

Tanpa berpikir panjang, ia melangkah mengetuk pintu. Tangannya sedikit gemetar saat mendorong pintu kelas itu perlahan.

Di dalam, Yejun duduk di sudut ruangan. Bahunya naik turun, wajah kecilnya basah oleh air mata. Seragamnya kusut karena terlalu sering diremas oleh jemari mungilnya sendiri.

Seorang guru berjongkok di depannya, berusaha menenangkan.

"Juniee…" suaranya keluar pelan, nyaris berbisik.

Tangis itu seketika tersendat.

Yejun mengangkat kepala. Mata sembabnya menatap ke arah pintu, lalu membulat sempurna.

Guru dan beberapa anak lain ikut menoleh, memperhatikan sosok asing yang berdiri di ambang kelas.

Belum sempat sang guru bertanya, Yejun sudah lebih dulu bangkit. Kakinya berlari dengan terburu, ia kemudian menabrak kaki orang itu dan memeluknya erat-erat, seakan takut orang di depannya akan pergi lagi.

"Hiks, bunaa. Bunaa" Tangis Yejun pecah kembali.

Kepalanya terkubur di sela kedua kaki sang buna dan kedua tangan yejun mencengkeram kuat celana bunanya.

Chenle membeku sesaat, Dadanya terasa diremas keras.

Perlahan, Chenle berjongkok. Tangannya yang sedikit gemetar menyentuh punggung Yejun, lalu memeluk tubuh mungil itu dengan erat.

"Maaf" gumam Chenle lirih, nyaris tak terdengar.

Yejun tak menjawab. Ia hanya menangis di pelukan itu, wajahnya tersembunyi di dada Chenle, bahunya bergetar hebat. Tangis yang tak lagi bisa ditahan, seolah semua yang dipendam akhirnya tumpah begitu saja.

rise again✓Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang