Suasana menjadi kacau, banyak hati yang terasa sesak melihat apa yang terjadi. Melihat bagaimana jaemin yang dikenal sebagai orang yang kuat menghadapi semua ini selama tiga puluh dua tahun lamanya kini hancur juga dipelukan orang tersayangnya dan Haechan yang meraung-raung tak percaya bahwa orang yang sedang memeluk nya ini adalah orang yang sangat ia rindukan.
"Sakit je" Gumam Taeyong memeluk erat Jaehyun, mau bagaimanapun mereka adalah anak anaknya. Penderitaan yang mereka rasakan juga Taeyong rasakan.
"Aku juga" Balas Jaehyun, padahal Jaehyun dikenal dengan orang yang kuat dan terkesan cuek. Tapi melihat mereka yang berada di dunia ini, hatinya terasa sakit. Banyak sekali cobaan yang mereka rasakan. Rasanya kata maaf tak cukup untuk menutup luka ini.
Tangis itu bertahan cukup lama hingga akhir mereda perlahan-lahan menyisakan suara napas tersengal dan keheningan yang berat. Jeno masih memeluk erat Jaemin yang sudah cukup tenang, begitupun dengan Mark yang membawa Haechan menjauh dari mereka semua ketempat putra mereka yang sedang beristirahat.
Waktu terasa berjalan lambat. Sembilan jam sudah mereka menunggu. sembilan jam yang dipenuhi doa, kecemasan, dan harapan yang menipis namun tak pernah benar-benar padam.
Lampu di atas pintu ruang perawatan akhirnya padam, menandakan prosedur telah selesai. Semua refleks berdiri.
Pintu terbuka perlahan, dan seorang dokter keluar dengan wajah letih, masker masih menutupi sebagian wajahnya.
"bagaimana keadaan putra saya dok? " Tanya Jaemin cepat cepat, wajahnya tegang penuh harap bahwa putranya baik baik saja.
"kami sudah melakukan yang terbaik–" Dokter itu berhenti berbicara sejenak, dia menghela nafas seperti berat untuk menyampaikannya.
"Denyut jantungnya lemah, dan organ vitalnya mulai menunjukkan penurunan fungsi. Pasien dinyatakan koma untuk saat ini. Kami akan terus berusaha, tapi mohon bersiap pada kemungkinan terburuk." Lanjut dokter itu.
Jaemin tak lagi mampu menopang berat tubuhnya sendiri. Lututnya goyah, pandangannya kabur. Beruntung nya sebelum Jaemin terjatuh, Jeno segera menangkapnya dan membawanya erat ke dalan pelukannya.
“Anak kita, No...anak kita…” lirih Jaemin, suaranya pecah di antara isak.
Jeno hanya bisa memeluknya semakin erat, mencoba menenangkan, tapi air matanya ikut jatuh tanpa bisa ditahan.
"Dia kuat Na, Jisung pasti bisa berjuang untuk kali ini. Dia anak kita kan? Anak yang kamu besarkan dengan seluruh cinta kamu," ucap Jeno pelan, berusaha terdengar yakin meski suaranya sendiri bergetar.
Jaemin menggeleng lemah, tubuhnya bergetar hebat. "Aku takut, aku takut. Kalian udah ninggalin aku. Ayah, bunda, daddy, mommy bahkan kamu udah ninggalin aku. Aku takut kalau putraku juga ninggalin aku"
Jeno menatap Jaemin lama, hatinya terasa diremas mendengar kalimat itu. Ada luka yang tak pernah benar-benar sembuh di balik tangisan itu. luka kehilangan yang bertumpuk begitu lama. Jeno mengangkat tangannya, menyentuh pipi Jaemin perlahan.
"nggak, nggak. Dia nggak pergi, dia bakal tetap sama kamu. D-dia, dia cuma istirahat"
Jaemin menunduk, air matanya jatuh satu per satu ke pipinya. Ia lelah, sungguh.
"Dari dia kecil, aku udah sekuat tenaga ngelindungin dia. Aku rela jaga jarak bahkan bawa dia pergi jauh dari sisi aku biar dia nggak dilukai, aku selalu ngeliat dia dari jauh, ngeliat dimana dia tumbuh tanpa kita, ngeliat dia tumbuh tanpa penjelasan apa apa. Aku takut, selalu takut sama kondisinya. Semua yang terbaik bagi dia aku lakuin agar dia bisa hidup dengan normal kayak anak seusianya. Aku nggak mau kehidupannya kayak kita, aku nggak mau dia menderita" Jaemin berhenti sejenak, tangannya mengepal berusaha kuat walaupun berat.
KAMU SEDANG MEMBACA
rise again✓
Teen Fictiongo to the past season 2??? Yess. Cerita ini tentang jisung bersama Chenle yang berusaha membangkitkan nama keluarga jung kembali.
