30

883 50 222
                                        

Jujur agak males buat up
karna ya gitulah udah bela belain nulis panjang malah Siders. Males jadinya

Tapi gapapa demi kalian juga aku bakal terus up
karna aku juga udah gak sabar menuju end. Hehehe...

Simbiosis mutualisme
Vote + Komen + Share + Follow
Maka aku akan cepet up guyss..

......... Happy Reading .....

" Kehilangan adalah hal yang tidak diinginkan
oleh semua orang "

     ********

Livy sedang menemani Cheryl yang baru saja sadar dari pingsannya. Kepala Cheryl sudah dibaluti oleh perban, tadi Livy sudah mengobatinya, kebetulan ia juga anggota PMR.

" Ada yang sakit gak Cher ?" tanya Livy

Cheryl tidak menjawab. Sejak ia bangun tadi ia hanya menatap kedepan dengan tatapan kosong dan air mata yang terus mengelir. Entah apa yang dipikirkan olehnya, hanya Cheryl yang tau dan tuhan.

Livy menghembuskan nafas pelan. Ia merasa bersalah kepada Cheryl karna ia telat untuk menolong Cheryl. Livy menggengam tanga Cheryl pelan dan mengusapnya juga.

Ceklek..

Pintu UKS terbuka menampilkan ketiga lelaki yang memiliki tinggi badan yang hampir setara. Ketiga laki laki itu berjalan mendekat ke blankar Cheryl

" Gimana kondisinya ?" tanya Arsen pada Livy

Livy menggeleng " Cheryl dari tadi diem. Dia bahkam gak jawab omongan aku, bahkan diajak ngobrol juga dia gak nyahut " jawab Livy

Jian dan Aksara menatap Cheryl prihatin. Mereka tau sulit bagi Cheryl mejalani semua ini. Bahkan ada segurat Rasa bersalah dihati Jian, ia tidak seharusnya  bersikap seperti  kemarin kemarin. Ia juga seharusnya mencari bukti bukan malah asal menuduh. Apalah daya kala itu, emosinya sedang tidak bisa dikontrol.

" Ngapain kesini ?"

Kini semua orang yang disana menatap kearah Cheryl yang enggan menatap mereka. Segurat senyuman dibibir Arsen terbit, kemudian ia berjalan mendekati keblankar.

" Pergi !"

Langkah Arsen terhenti. Senyuman yang tadinya terbit kini pudar secara perlahan. Hatinya seakan dipanah oleh ribuan anak panah.

" Cher.. Dia abang lo " ucap Livy

Cheryl menatap Livy sesaat kemudian ia menatap Jian dan Arsen bergantian

" Abang ? Lo yakin Liv mereka abang gue ? " pertanyaan itu mampu menohok bagi Jian maupun Arsen

" Abang mana yang menelantarkan adiknya disaat adiknya bahkan yang hampir sekarat ? Abang mana yang mitnah adiknya, bahkan itu belum tentu benar kejadiannya ? Abang mana yang gak pernah mencari tau kondisi adiknya ? Hah ? "

" Che- "

" Diem!"

Mulut Aksara langsung tertutup rapat. Ia mungkin akan membiarkan Cheryl untuk mengeluarkan unek uneknya.

 ARCHERYL Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang