22

1.6K 74 7
                                        

Vote komennya jangan lupaa

Happy reading 💃

*********

Kini Jian dan Cheryl sedang menunggu kedatangan Arsen diruang tamu rumah mereka, sebenarnya tadi mereka mendapat kabar bahwa Arsen pulang dari markas dalam keadaan babak belur. jadi mereka berdua berinisiatif untuk menunggu Arsen.

Cheryl terus berjalan mondar mandir sambil seseklai melihat kepintu utama berharap Arsen datang. semantara waktu sudah menunjukan jam 23.30 Malam.

" Sya, mending kamu tidur masalah Arsen biar abang yang urus. ini udah malem gak baik kalau kamu gadang, nanti kamu sakit " ucap Jian yang duduk disofa ruang tamu.

" Asya gak bisa tenang, Asya takut bang Arsen kenapa napa. pikiran Asya belum bisa tenang kalau belum liat bang Arsen dengan mata kepala Asya sendiri " jawab Cheryl dengan tatapan memelas menatap Jian

Jianpun bangkit dari sofa dan langsung berjalan mendekati Cheryl yang menatap dirinya sendu. kemudian ia memegang kedua pundak Cheryl

" Sya, pliss nurut ya, abang gak mau kamu sakit, Arsen pasti pulang dengan selamat dan dia pasti sebentar lagi datang. dan kamu mending istirahat dan urusan Arsen biar abang yang urus " ucap Jian membujuk sekaligus meyakinkan Cheryl

" tap- "

Ceklekk...

pintu utama rumah mereka terbuka menampilkan Arsen yang manatap Jian dan Cheryl dengan tatapan yang sulit diartika. tak lupa, wajah yang penuh dengan lebam, bibir yang robek, dengan hidung yang mengeluarkan darah dan sudah kering

Cheryl dan Jianpun langsung menghampiri Arsen yang diam di ambang pintu tanpa berniat membuka suara.

" dari mana aja si ba-"

BRUKK..

pelukan mendadak dari Arsen membuat Cheryl hampir saja terjatuh. namun, arsen menjaga keseimbangannya

" bang Arsen ?" tanya Cheryl yang tenggelam  dalam pelukan Arsen

" maaf.. maafin abang karena abang udah nuduh kamu " lirih Arsen

Cheryl terdiam begitupun dengan Jian yang menatap kedua adik kakak yang sedang berpelukan itu.

" maaf abang udah buat kamu nangis, abang udah buat kamu kecewa, abang udah nyakitin kamu. maafin abang Sya " ucap Arsen

Cheryl mendorong paksa tubuh Arsen hingga pelukanya terlepas. lalu ia mendongkang melihat wajah Arsen yang penuh dengan luka memar dan juga darah darah yang sudah kering.

" aku udah maafin " jawab Cheryl

" Heh !! mana bisa gitu, dikasi hukuman dikit kek. jangan asal maafin aja " sewot Jian menyela perbincangan keduanya.

Arsen menatap Jian dingin dan dibalas tatapan dingin juga oleh Jian. Cheryl yang melihat keadaan yang kurang enak dan ada tanda tanda akan adanya kericuhanpun langsung mengalihkan perhatian keduanya.

" bang Jian, bang Arsen, masalah ini kita bicarain besok oke. sekarang kita istirahat dulu, dan bang Arsen ayo bersih bersih dulu, nanti aku kekamar buat obatin luka sama memarya " ucap Cheryl sambil menatap kedua kakak laki lakinya bergantian

 ARCHERYL Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang