"Iya, nanti gue hubungin Dokter buat ganti jamㅡ"
Semesta menghentikan bicaranya ketika ekor matanya menangkap postur tubuh kekasihnya yang berjalan ke arahnya, lantas ia menoleh dengan senyum lebar tanpa peduli lawan bicaranya.
"Pulang sekarang?" Tanya Semesta tepat saat kekasihnya berhenti di antara dirinya dan lawan bicaranya, Lio.
Bukannya langsung menjawab pertanyaan Semesta, Ranum justru memperhatikan Semesta dan Lio yang berdiri berhadapan entah sejak kapan dua pemuda mengobrol. Tanpa menjawab pula, Ranum melenggang pergi melewati dua pemuda ituㅡAgak sedikit banyak merasa kesal mengetahui Semesta masih berinteraksi dengan Lio.
"EhㅡSorry, Lio, gue duluan ya!" Tanpa menunggu balasan dari Lio, Semesta lebih dulu pergi menyusul Ranum yang sudah keluar dari gedung sekolah. Saat sudah berhasil menyamai langkah lambat dipaksa cepat kekasihnya itu, Semesta berdehem singkat. "Kenapa sih? Jutek amat, tapi tetep cantik kok." Celetuk Semesta membuat Ranum mendengus malas, "Lo cemburu kah?"
"Pft, mimpi buruk." Sarkas Ranum.
"Oh, semalam gak bisa tidur karena mimpi buruk ya? Makanya lo pengen cepet-cepet pulang biar bisa tidur sore?"
Sontak saja langkah Ranum terhenti kemudian berbalik menghadap Semesta yang juga berhenti berjalan.
Semesta menaikkan satu alisnya melihat ekspresi kesal pada wajah cantik kekasihnya, "Cantik amat, pacar siapa sih?" Pujinya tanpa malu didengar siswa-siswa yang juga berlalu-lalang keluar dari gedung karena sudah jam pulang, "Pulang dari sekolah tuh harusnya agak gak cantik gak sih?"
"Lo tuh nyebelin."
"Gue ngapain? Perasaan gak ngelakuin hal konyol, gak berantem, gak ngerokok, gak dihukum guruㅡ"
Ranum menghela nafas berat, "Lo masih gak sadar ya? Lio."
"Iya, kenapa Lio?" Tanya Semesta pelan bermaksud meminta penjelasan, "Lo beneran cemburu karena gue ngobrol sama Lio? Astaga, cantikkuㅡLio itu cuma temen gue, gak lebih."
Cantikku katanya? Terus terang sekali.
"Ngobrolin apa tadi?" Luluh sedikit, Ranum tidak bisa menyangkal.
"Em.." Jeda sedikit lama sebelum Semesta menjawab pertanyaan Ranum, "Ngobrol masalah pelajaran, kebetulan tadi papasan waktu gue mau ke kelas lo."
"Bukannya kalian beda kelas?" Ranum menatap curiga Semesta, "Lo IPS dan dia IPA, jangan bohongin gue deh."
"Mata pelajaran umumnya kan sama, cantik." Balas Semesta, "Bahasa Indonesia, PPKnㅡ"
"Ah, udahlah udah.. gak perlu lo jelasin kalau gak jelas." Sambar Ranum yang tentunya menyadari jika Semesta menutup sesuatu, sadar sejak Semesta menjeda jawaban atas pertanyaannya.
"Gue beneran, kok lo ngomong gak jelas sih?"
Kerutan pada kening, alis hampir menyatu, mata menelisik dan bibir merenggutㅡRanum benar-benar kesal pada Semesta, "Terserah."
"Lo beneran gak suka gue interaksi sama Lio?"
Rolling eyes tidak peduli, Ranum berbalik kembali melangkah menuju gerbang sekolah.
"Eh, ngapain ke gebang? Parkiran motor di sebelah timur." Menyadari sesuatu, Semesta menahan tangan Ranum agar tidak lagi pergi meninggalkannya.
"Ish!" Desis Ranum jengkel karena Semesta terlalu erat menggenggam pergelangan tangannya, "Gue pulang sama Harel,"
"Kenapa sama Harel? Kan ada gue, tadi pagi lo berangkat bareng gue yaㅡ"
"Gue mau nemenin Harel cari hadiah ulang tahun buat Jidan, jadi gue pulang sama Harel."
KAMU SEDANG MEMBACA
Semestaraya
Short Story"Gak apa-apa gue cringe, yang penting lo bisa inget gue."
