xviii › Semestaraya.

118 20 0
                                        

Matahari menyinari jalanan dengan semangat, membuat bayangan pepohonan menari-nari di aspal. Udara terasa kering, sedikit hangat, tapi angin pagi masih cukup menenangkan. Deretan siswa berseragam putih abu-abu mulai tampak di sepanjang trotoar, beberapa bersepeda, beberapa diantar motor atau mobil orangtua. Dan Ranum seperti biasa—Ia naik di jok belakang motor Semestaraya.

Genggaman Ranum erat di sisi pinggang pemuda itu, sedikit kaku, membuat Semesta berkendara pelan karena berpikir jika Ranum takut jatuh kalau ia terlalu cepat berkendara.

"Kenapa? Dari tadi lo diem." Ujar  Semesta ketika mereka berhenti di lampu merah.

Ranum menjawab pelan dari balik helmnya, "Nggak apa-apa."

Semesta menghela napas. "Masih kepikiran?"

Ranum mengangguk kecil, "Iya."

Mereka sampai di depan sekolah beberapa menit kemudian. Semesta memarkir motor di parkiran siswa yang mulai penuh. Ia melepas helmnya, rambutnya yang agak acak dibiarkan saja, tidak peduli dengan pandangan para siswa yang jelas memperhatikan mereka dari kejauhan.

Ranum turun, melepas helmnya sendiri dan menyerahkannya pelan. Wajahnya terlihat sedikit cemas, tapi tidak sekelam pagi kemarin.

"Gue antar sampe kelas." Tanpa izin, Semesta sambil meraih tangan Ranum tanpa malu-malu.

"Nggak perlu... kita kan beda kelas." Ranum mencoba menolak, meski tangannya tidak ia tarik.

"Tapi gue pacar lo," Sahut Semesta cepat. "Dan hari ini, gue gak pengen lepas dari lo terlalu jauh."

Ranum tertawa kecil, tidak tahan dengan logika bodoh itu, tapi... hangat. Dia menyerah. "Ya udah, antar, deh."

Mereka berjalan beriringan melewati koridor sekolah yang mulai padat. Beberapa siswa menoleh, berbisik-bisik. Beberapa hanya memperhatikan. Dan entah kenapa, meski sorotan mata itu sedikit membuat Ranum tidak nyaman, genggaman tangan Semesta di jemarinya terasa menegaskan sesuatu—bahwa dia tidak sendiri.

Sesampainya di depan kelas Ranum, Semesta menunduk sedikit, matanya menatap wajah pacarnya serius. "Nanti istirahat jangan ke mana-mana. Tunggu gue, kita makan bareng."

Ranum mengangguk pelan, bibirnya mengulas senyum yang masih malu-malu tapi mulai lebih tenang. "Oke. Gue tunggu."

Semesta mengangguk puas. Ia membungkuk sedikit, seperti ingin mencium dahi Ranum tapi mengurungkannya karena sadar mereka masih di sekolah. Sebagai gantinya, ia meremas tangan Ranum sekali lagi sebelum melepaskannya perlahan. "Gue cabut dulu, ya." Setelah mendapatkan anggukan dari Ranum, Semesta melangkah pergi—Bukan ke kelas, melainkan ke ruang OSIS untuk menemui Elhan, lagi, tentu untuk membahas rekaman CCTV sekolah yang mungkin dapat membantunya menemukan pelaku yang memberikan Ranum surat.

Langkah Semesta cepat tapi tak terburu-buru, menyusuri lorong menuju ruang OSIS. Setibanya di ruang OSIS, Elhan sudah duduk di balik meja panjang penuh map dan laptop, tampak serius menatap layar. Begitu melihat Semesta masuk, ia langsung melepas earphone-nya dan mengangguk singkat.

Elhan melirik Semesta sekilas, lalu memutar laptopnya agar Semesta bisa ikut melihat layar. "Gue udah dapet CCTV lorong ke kelas Ranum dan kelas Ranum." Langsung pada intinya sebab ia tahu alasan Semesta mendatanginya. 

Semesta mencondongkan tubuh. Di layar, koridor tampak sepi, hanya beberapa siswa lalu-lalang. Elhan mempercepat video, sampai tiba-tiba—seorang siswa memasuki ruang kelas Ranum yang kosong. Tinggi badan sedang, hoodie abu-abu, wajah tertutup masker hitam.

"Dia naruh sesuatu di laci meja Ranum, terus langsung cabut," Ujar Elhan yang sudah berkali-kali melihat.

"Bisa di-zoom mukanya?"

SemestarayaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang