"Gue stress."
Jam pelajaran masih berlangsung, tapi siang ini kelas IPS satuㅡLagi-lagi mendapatkan jam kosong, bahkan sepertinya guru-guru di sekolah itu sengaja menghindari kelas IPS. Meski kosong, kelas mereka tetap diberikan tugas oleh guru mata pelajaran Sosiologi.
"Kenapa dah?" Sahut Saga heran mendengar celetukan Jidan, ia meletakkan pulpennyaㅡMeregangkan jari-jari tangannya yang pegal karena merangkum materi, "Perasaan tugasnya gak susah-susah amat."
"Dipikir-pikir.. ternyata gue belum siap beranjak dewasa ya," Jidan pun turut meletakkan pulpennya, ia yang sebelumnya dalam posisi tengkurap di atas tikar usang itu pun berubah posisi menjadi duduk bersilaㅡMenatap Saga yang sedang berbaring terlentang sementara Semesta duduk di kursi panjang taman yang sengaja mereka ambil dan diletakkan di rooftop sekolah, tempat mereka membolosㅡYang saat ini mereka jadikan sebagai tempat mendiskusikan tugas karena bosan berada di kelas. "Bentar lagi kita UTS, terus UAS.. habis itu ujian praktek, ujian sekolah.. persiapan eligible terus UTBK, damn.." Jidan mengacak surainya, sejak semalam ia memikirkan kehidupannya setelah selesai berurusan dengan sekolah.
Saga berdecak malas, "Emang lo mau terus-terusan di sekolah ini?"
"Gak sih, tapi gue belum siap aja." Sahut Jidan menyandarkan punggungnya pada kursi belakangnya, sekilas melirik Semesta yang sejak tadi diam saja, "Lo kenapa, Ta?" Tanyanya membuat Semesta menoleh.
"Gak apa-apa." Semesta meraih buku dan pulpen yang tergeletak di kursi sampingnya, bersiap melanjutkan kembali rangkumannya yang tertunda.
"Boong banget," Sambar Saga yang diam-diam memperhatikan gelagat Semesta, "Lo kelihatan kosong, Ta."
"Mikirin apa sih, Ta?" Tanya Jidan sebab Semesta tidak menyahuti celetukan Saga yang padahal terdengar menyebalkan, "Mikir ujian juga?"
Semesta menatap Jidan dan Saga secara bergantian, ia menghela nafas samar sembari mengalihkan pandangannya dari kedua temannya yang saat ini menatapnya curiga.
"Ta, lo tengkar sama Ranum ya?" Tebak Saga tertarik, bahkan pemuda itu langsung duduk menghadap Semesta yang duduk di atas kursi, "Masalah apalagi?"
"Gak, gue gak tengkar." Sanggah Semesta tidak senang atas tebakan Saga, ia sensitif jika ada orang yang berpikiran negatif tentang hubungannya dengan Ranum, "Berhenti berasumsi kalau gue tengkar sama Ranum, hubungan gue sama Ranum gak se-ribut itu."
Jidan masih mencari tahu alasan mengapa Semesta banyak diam sejak pagi, "Terus kenapa? Lo.. gak tengkar sama Elhan kan?"
"Skip."
Saga dan Jidan bertukar pandang, menerka-nerka apa yang sebenarnya terjadi pada teman mereka itu. "Ta, kita temenan gak sehari dua hari, gue tahu pasti ada yang lo pikirin." Ujar Saga serius juga khawatir, "Gue gak mau lo mendem sesuatuㅡ"
"Gue gak apa-apa, kocak." Semesta memotong dengan lagak bercandanya yang sayangnya terlihat kaku, "Udahlah, lo gak perlu mikirin gue." Ia beranjak dari duduknya, menyerahkan bukunya pada Saga yang langsung menerima, "Nitip kumpulin ya."
Jidan mengrenyit tidak yakin, "Emang lo udah kelar?"
"Belum, tapi jamnya udah habis." Sahut Semesta seketika membuat Saga dan Jidan melihat jam tangan masing-masing, "Yang penting ada rangkumannya, gak perlu banyak-banyak."
"Iya juga ya," Jidan menatap melas buku SosiologinyaㅡIa sudah merangkum, hanya empat lembar saja. "Yaudahlah, gue udah capek." Putusnya mengikuti Semesta, ia berikan bukuna pada Saga.
"Lho, kok ngumpulinnya di gue sih?" Protes Saga tapi tetap menerima buku Semesta dan Jidan, menumpuk jadi satu dengan bukunyaㅡIa juga sudah menyerah merangkum, tangannya pegal.
KAMU SEDANG MEMBACA
Semestaraya
Cerita Pendek"Gak apa-apa gue cringe, yang penting lo bisa inget gue."
