xxi › Semestaraya.

121 12 0
                                        

Cahaya pagi menembus kaca jendela besar, memantulkan kilau emas dari bingkai lukisan di dinding dan cahaya lembut dari lampu gantung kristal yang menggantung tepat di atas meja makan marmer panjang. Di atas meja, piring porselen bergaris emas tersusun sempurna, sendok garpu perak berbaris rapi, dan aneka hidangan untuk sarapan—roti hangat, salad buah segar, omelet keju, serta teh yang mengepulkan uap—tampak seperti potongan dari majalah kuliner kelas atas.

Namun, keindahan itu tidak menghapus rasa kaku yang menggantung di udara.
Suara dentingan sendok menyentuh piring terdengar terlalu jelas di tengah keheningan. Tidak ada yang berani memulai pembicaraan, seakan setiap kata akan menyalakan percikan yang tidak diinginkan.

Kepala keluarga AdipatiㅡSarga mengaduk kopi tanpa benar-benar meminumnya, sementara pewaris tunggalnyaㅡSemesta dengan santai menyantap roti di piringnya tanpa berminat mencari topik pembicaraan, tanpa sadar jika ibu sambung dan saudara tirinya selalu terlihat kesulitan menahan atmosfer tegang dan dingin setiap kali Semesta dan Sarga berdekatan, meski sudah beberapa tahun terakhir.

Pelayan yang berdiri di sisi ruangan pun terlihat menahan napas, walau sudah terjadi bertahun-tahun tapi mereka tetap merasakan tegangnya suasana. Bahkan derit kursi saat Semesta menggeser sedikit kursinya terdengar seperti gangguan besar.

"Raka."

Panggilan itu, gerakan Semesta yang hendak beranjak dari kursinya pun tertahan. Tanpa menoleh ke arah sang Ayah, Semesta menunggu alasan Ayahnya memanggil namanya.

"Besok malam ada acara di rumah Adipati, kitaㅡkamu harus datang."

Kening Semesta mengrenyit. "Acara apa?" Tanyanya meminta kejelasan.

"Perayaan hari jadi kakek, beliau meminta ayah untuk membujuk kamu agar datang dan ikut merayakan." Sarga menghela nafas gusar, "Sudah tiga tahun berturut kamu tidak menghadiri perayaan hari jadi kakek dan nenek, bahkan hari-hari besar keluarga Adipatiㅡ"

"Yang terpenting aku selalu mendoakan mereka." Sahut Semesta, masih tidak menatap sang ayah.

"Tapi, kebersamaan kamuㅡ"

"Apa ayah pikir kedatangankuㅡkebersamaanku dengan mereka lebih penting daripada doa-doaku?" Kali ini Semesta menatap SargaㅡBukan tatapan hangat melainkan tatapan tajam, "Jika begitu, bagaimana dengan kebersamaanku dengan bubu? Apa doa-doaku selama ini tidak jauh lebih penting dibandingkan kebersamaanku dengan bubu yang hanya beberapa bulan?"

Tajam meski berantakan, tanpa dijelaskan lebih lanjut pun Sarga paham maksud perkataan-pertanyaan Semesta, Sarga langsung terdiamㅡsekilas melirik sang istri yang sejak tadi diam, tidak berniat mengganggu pembicaraan mereka.

"Aku bisa bertemu dengan kakek dan nenek Adipati kapan pun yang aku mau, tidak perlu dipaksa." Ujar Semesta lagi, tanpa berniat menunggu sang ayah menjawab pertanyaan sebelumnya.

"Raka.."

Suara sang mamaㅡIlene akhirnya terdengar, sontak Semesta beralih menatap wanita yang berstatus sebagai nyonya rumah, tanpa menyahut panggilan dengan nada suara pelan.

"Mungkin sekali ini saja.. dengarkan ayah, jika bukan untuk ayah, untuk kakek dan nenek kamu yang sangat mengharapkan kehadiran kamu."

Semesta menghela napas panjang, jemarinya meremas ujung serbet di pangkuan. Tatapannya berpindah dari Ilene ke arah jendela besar, menghindari kedua pasang mata yang kini menunggunya memberi jawaban. "Ma..." Ucapnya pelan, nyaris seperti gumaman, "Jika aku datang... bukan berarti aku benar-benar akan menuruti kemauan mereka."

Ilene tersenyum tipis, senyum yang lebih menyerupai ajakan untuk berdamai. "Tidak harus menuruti, Raka. Cukup... hadir."

Sarga masih diam, hanya memandangi putranya dengan sorot yang sulit ditebak—antara wibawa seorang ayah dan kerentanan yang jarang ia tunjukkan.

SemestarayaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang