xxiv › Semestaraya.

76 10 3
                                        

Tirai kamar tertutup rapat, seolah cahaya pagi adalah sesuatu yang terlalu bising untuk diterima Ranum yang saat ini duduk memeluk lutut di atas ranjang. Punggungnya menempel sepenuhnya pada kepala ranjang, dengan napas pendek-pendek—bukan karena lelah, melainkan karena pikirannya tidak pernah benar-benar berhenti sejak malam itu.

Ya, sudah tiga hari sejak kejadian itu, dan selama itu ada rasa kotor yang tidak mampu Ranum jelaskan—bukan pada kulitnya, melainkan di kepalanya. Seolah ada sesuatu yang terus berbisik bahwa tubuhnya bukan lagi miliknya sendiri. Setiap kali Ranum memejamkan mata, dadanya menegang, jari-jarinya gemetar, dan ingatan itu datang tanpa permisi. Ranum membencinya, membenci dirinya sendiri karena tak mampu mengusirnya. Namun, di sela-sela ingatan yang menyakitkan itu, muncul wajah lain yang tidak ia undang.

Adipati Semestaraya Rakabumi..

Bukan kenangan besar atau momen yang dramatis. Hanya hal-hal remeh yang dulu nyaris tidak pernah Ranum anggap penting, seperti cara Semesta berjalan di sampingnya dengan banyak bicara, suara kursi yang ditarik pelan saat ia duduk berhadapan dengannya, tatapan singkat yang selalu terasa biasa saja. Dulu, Ranum mengira semua itu sekadar kebetulan—rutinitas yang tidak memiliki makna apa pun dan akan mudah untuk ia lupakan.

Namun hari ini, di tengah pikirannya yang berantakan, kenangan-kenangan itu datang dengan rasa yang berbeda. Ada kehangatan yang menyelinap tanpa izin, menyesakkan sekaligus menenangkan. Ranum baru menyadari bahwa di saat-saat itu, ia pernah merasa aman. Tidak benar-benar bahagia, tetapi cukup tenang untuk bernafas tanpa rasa takut.

Ranum menunduk, jemarinya mencengkeram kain selimut. Ia tahu Semesta masih berada di rumah sakit—entah bagaimana kondisinya sekarang, yang jelas ada kekhawatiran yang terus berputar-putar di kepala Ranum, tetapi ia menolak memberi ruang lebih dan bahkan tidak mencari tahu, memilih diam.

Saat ini, Ranum terlalu naif untuk percaya bahwa menjauh adalah cara terbaik, dengan tidak hadir, dengan menghilang perlahan, ia berpikir bahwa hal itu bisa melindungi semuanya—Semesta dan dirinya sendiri dari orang-orang yang tidak menyukai hubungan mereka.

"Terima kasih ya, sayang.. eh, aku udah beneran boleh manggil sayang kan?"

Ranum terisak pelan, bahkan dadanya mengencang karena ia ingat betul beberapa minggu lalui—ketika langit mulai meredup, langkah mereka yang sejajar, dan suara Semesta yang rendah namun hangat. Ranum ingat bagaimana kata terima kasih itu terdengar sederhana, nyaris remeh, sampai kini terasa seperti beban yang terlalu berat untuk ditanggung.

Semesta tidak meminta apa pun saat itu. Pemuda Adipati itu hanya berdiri di samping Ranum, mengatakan bahwa kebersamaan saja sudah cukup. Bahwa kebahagiaan tidak harus meledak-ledak. Bahwa duka pun akan dilalui bersama.

"Terima kasih karena kamu mau, mau berjalan sejauh ini sama aku. Mau mencoba, meski aku tahu perasaanku datangnya tiba-tiba. Mungkin terlalu cepat. Mungkin juga terlalu berat buat kamu."

Rasanya Ranum ingin tertawa pahit karena perkataan itu—atau lebih tepatnya, kesanggupan itu—datang dari seseorang yang kini terbaring di rumah sakit, dari seseorang yang sedang ia coba tinggalkan dengan diam, dari seseorang yang masih ia khawatirkan, namun tidak berani ia dekati demi kebaikan bersama.

"Aku gak berharap kamu langsung bisa membalas apa yang aku rasakan, tapi aku akan berusaha.. bukan sekadar supaya kamu jatuh cinta sama aku, tapi supaya kamu bisa bahagia waktu bersama aku.. entah nanti kita lagi senang, lagi capek atau lagi jatuh."

Ranum memeluk dirinya lebih erat, ia menyadari ironi yang menyakitkan tentang kebersamaan yang dulu ia anggap biasa ternyata adalah tempat paling aman yang pernah ia miliki. Dan kini, saat ia paling membutuhkan rasa aman itu, ia justru memilih menjauh.

SemestarayaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang