"Lo yakin mau masuk sekolah?"
Lamunan Ranum buyar, ia segera merapikan buku-buku pelajaran sesuai jadwal yang baru ia terima dua hari lalu. "Ya, udah seminggu gue gak masuk.. banyak materi ketinggalan dan gue masih harus adaptasi di sekolah itu." Balasnya pelan tanpa menatap sepupunya.
Galla berdiri di ambang pintu kamar Ranum dengan tatapan yang sulit diartikan. "Gue gak yakin lo bisa konsentrasi di waktu sekarang."
"Galla." Ranum menarik nafas samar, lalu menoleh ke arah Galla. "Bisa atau nggak, gue harus tetep jalanin kehidupan gueㅡdan nggak mungkin gue tetep diam aja di kamar.."
"Bukan gitu maksud gue," Galla mendekati Ranumㅡmenyisahkan jarak satu meter dari sepupunya itu, "gue gak minta lo diem aja, bukan, karena itu makin bikin lo kesulitan konsentrasi.. tapi gue mau lo selesaiin dulu masalah yang lo bikin tanpa lo sadari." Ia tidak bodoh mengenai alasan Ranum sering melamun selama ini, bukan sekadar karena kejadian bejat ituㅡmelainkan sosok yang membuat Ranum memutuskan pindah sekolah lagi, bahkan dirinya turut serta dipindahkan hanya agar dapat menjaga Ranumㅡbukan maksud Galla keberatan, hanya saja ada sesuatu yang tidak seharusnya dilakukan Ranum lagi; avoidant.
"Maksud lo apa?"
Tatapan kosong Ranum membuat Galla menghela nafas kasar. "Jangan ulangin tingkah laku lo sebelumnya.. yang lo lakuin ke Nakula, kayak giniㅡlo gak nemuin atau hubungin Semesta yang notabenya masih pacar lo, bahkan sekarang lo pindah sekolah tanpa ngomong apapun ke Semesta." Galla menatap serius Ranum yang seketika menunduk lesu, "lo tau kalau apa yang udah terjadi ini bukan salah Semesta kan? Dan lo gak dalam posisi salah pahamㅡini bukan kejadian yang sama kayak yang lo rasain waktu sama Nakula, jadi gue harap lo gak semakin memperlakukan Semesta kayak Nakula dulu dan berakhir lo menyesal, Ranum."
"Galla.." suara Ranum sangat pelan, "gue ngelakuin ini karena gue gak mau Semesta atau gue semakin disakiti orang-orang yang gak suka sama hubungan kamiㅡ"
"Orang lain gak punya hak buat ngatur sama siapa Semesta atau lo ngejalin hubungan, Ranum." Nada bicara Galla sedikit tegas, "dan sejak kapan lo peduli tentang pendapat orang lain terhadap hubungan yang lo jalin? Kenapa lo peduli? Bahkan Semesta aja kelihatan bahagia-bahagia aja selama sama lo."
Ranum terdiam. Tangannya berhenti menata buku, seolah kehilangan tujuan. Nama Semesta kembali mengambang di kepalanya—bersama puluhan pesan yang sengaja ia abaikan.
Galla menghela napas panjang, lalu melangkah lebih dekat. "Ranum," suaranya diturunkan, tidak menghakimi tapi jelas menahan emosi, "gue gak lagi ngomel, tapi gur lagi minta lo belajar dari apa yang pernah lo lakuin."
Ranum menunduk, rahangnya mengeras. "Gue cuma gak mau bikin semuanya makin rumit."
"Gak," potong Galla tegas. "Tapi yang lo lakuin sekarang itu bukan nyelesain masalah. Itu kabur. Dan lo tau kan, ini persis kayak dulu."
Ranum mengangkat wajahnya perlahan. "Ini beda, Gal." Tatapannya kosong, lelah. "Ini beda, Gal."
"Beda kejadiannya, tapi polanya sama," balas Galla tanpa ragu. "Lo mikir sendiri, mutusin sendiri, terus ngilang dengan alasan demi kebaikan bersama. Padahal yang lo lindungin cuma ketakutan lo sendiri."
Ranum mengepalkan tangan. "Gue gak mau Semesta atau gue semakin sakit, itu aja alasannya."
"Dan lo pikir didiemin, dicuekin, gak dikasih penjelasan itu gak nyakitin dia?" suara Galla meninggi sedikit. "Ranum, dia pasangan lo. Bukan orang asing yang bisa lo tinggalin kapan aja demi ketenangan versi lo."
Hening beberapa detik, membuat suara nafas Ranum terdengar berat.
"Lo pernah nyesel gara-gara Nakula, kan?" lanjut Galla lebih pelan, tapi menusuk. "Lo pernah bilang ke gue, hal yang paling lo sesali itu bukan perpisahannya—tapi karena lo gak ngasih dia kesempatan buat ngerti apa yang ada di kepala lo. Lo mutusin segalanya sendirian, dan lo ninggalin dia dalam tanda tanya."
KAMU SEDANG MEMBACA
Semestaraya
Short Story"Gak apa-apa gue cringe, yang penting lo bisa inget gue."
