xvii › Semestaraya.

163 23 3
                                        

Suasana sekolah pagi itu tidak jauh berbeda dari biasanya—bising, ramai, penuh obrolan ringan dan tawa lepas para siswa yang berhamburan di sepanjang koridor. Tapi di tengah riuh itu, Ranum berjalan pelan di antara kerumunan, pandangannya sesekali menoleh ke belakang, ke arah lorong yang baru saja ia lewati—ia merasa khawatir sejak mendapatkan dua surat, merasa ada yang mengawasinya. Ranum melangkah sedikit lebih cepat menuju kelasnya, ia segera masuk dan duduk di bangkunya. Pandangannya menerawang ke luar jendela, pikirannya melayang pada isi surat yang mengecam hubungannya dan Semesta. Saking seriusnya berpikir, Ranum sampai tidak mempedulikan siswa-siswi kelasnya yang sudah berdatangan, termasuk suara yang sangat ia kenal—santai, riang, tidak tahu takut.

"Pagi, calon legenda sekolah yang pacaran sama gue," Sapa Semestaraya sembari menjatuhkan diri ke kursi di samping Ranum, ia meletakkan sekotak susu coklat di atas meja Ranum. "Kok lo ninggalin gue sih, padahal gue minta lo tunggu sebentar."

Ranum menoleh sekilas ke arah Semesta, "Lo beneran gak khawatir ada orang ngikutin kita? Nulis surat aneh, kayak tahu semua tentang hubungan kita..."

"Ya kali itu penggemar rahasia lo. Iri sama lo yang jadi pacar gue," Sahut Semesta sembari memandang Ranum dengan senyuman tengilnya tetap terpasang, tapi sorot matanya sesekali tajam seperti sedang menilai. Ia tahu seseorang bermain-main di balik bayangan, dan ia benci menjadi sasaran permainan tanpa tahu aturannya. "Udahlah, lo gak perlu mikirin itu lagi."

Ranum memutar bola mata, tapi tidak bisa menyembunyikan kekhawatirannya, "Gue serius, Ta."

"Gue juga," Balas Semesta dengan suara sedikit lebih dalam, tapi masih dibungkus gaya malas-malasannya. "Kalau ada orang aneh kirim surat, tinggal kasih tahu gue. Nanti gue bakal cari tahu siapa. Tapi sementara itu, senyum dikit, dong. Nanti orang pikir gue nyakitin lo." Meski ucapannya terdengar ringan, Semestara sebenarnya sudah bergerak di balik layar—Ia memperhatikan cara beberapa siswa menatap mereka saat istirahat, dan mencatat siapa saja yang tampak terlalu tertarik dengan hubungan mereka. Bahkan, tadi pagi ia mendekati petugas koperasi, berpura-pura bercanda sambil menanyakan siapa yang datang paling pagi dan sering mondar-mandir di dekat ruang kelas atau meja Ranum.

Tring.. Tring..

Bel tanda masuk berbunyi. Guru belum datang. Semestara menepuk pelan surai Ranum. "Nanti gue jemput waktu istirahat, ya. Jangan pergi duluan sama Harel, pokoknya lo harus sama gue biar si penulis surat makin gemas."

Ranum menatapnya—antara kesal, khawatir, dan sedikit lega. Meski hatinya masih dipenuhi rasa takut, kehadiran Semesta seperti jangkar yang membuatnya tetap bisa bernapas.

Semesta melangkah pergi meninggalkan kelas Ranum, tapi ia tidak langsung kembali ke kelasnya melainkan melangkah cepat menuju ruang OSIS. Tanpa basa-basi, Semesta masuk begitu saja dan menemukan Elhan seperti biasanya duduk di kursi ketua OSIS.

"Gimana? Lo udah nemu, Han?"

Elhan menatap sekilas Semesta, "Belum, lagian gue kan udah bilang kalau gue sendiri yang bakal kabarin lo kalau gue udah dapet."

"Gue gak bisa nunggu lama, Han, kasihan pacar gue."

semestaraya

Tring... Tring...

Bel istirahat berdentang nyaring, disambut deru bangku-bangku yang diseret, suara ramai para siswa yang langsung berebut keluar kelas. Udara dalam ruangan terasa sedikit lebih hangat oleh riuh tawa dan obrolan yang saling bertabrakan. Ranum masih duduk di bangkunya, membenarkan letak tas dan merapikan buku catatannya perlahan. Wajahnya datar, tapi sorot matanya sesekali melirik ke arah pintu kelas, seperti menanti sesuatu. Atau lebih tepatnya—seseorang.

"Ran, kamu ke kantin gak?" Suara Harel menyapa hangat dari sebelah. Cowok itu sudah berdiri dengan tangan menyampirkan jaket ke bahunya, senyum ramah menghiasi wajah.

Ranum menoleh, sedikit kaget. "Eh... aku... kayaknya gak dulu deh, Rel."

Harel mengernyit, bingung. "Loh, kenapa?"

Ranum menggigit bibir bawahnya, menunduk sesaat. "Aku... nungguin Semesta," Jawabnya pelan, nyaris seperti bisikan, seolah malu dengan ucapannya sendiri.

Harel sempat terdiam. Wajahnya tidak menunjukkan ekspresi apa pun untuk beberapa detik, lalu ia tertawa kecil. "Oh, iya... aku lupa. Kamu udah ada yang rajin jemput sekarang, ya."

Ranum mencubit lengan seragamnya sendiri, senyum tipis muncul tanpa bisa dicegah. "Haha... iya." Canggung sekali rasanya.

Harel mengangguk, lalu mengangkat tangan memberi isyarat pamit. "Ya udah, aku duluan, ya."

Ranum hanya tertawa kecil, tidak menjawab. Ia menunduk lagi, jari-jarinya memainkan ujung kotak susu yang tadi pagi diberikan Semesta. Detik-detik berlalu, dan tepat ketika ia merasa mulai kikuk duduk sendirian...

"Tumben gak kabur duluan sama Harel," 

Suara familiar itu datang dari arah pintu kelas—Semestaraya berdiri di sana, menyender santai di ambang pintu dengan tangan di saku, senyum tengil terpasang seperti biasa.

Ranum mendongak, "Kan lo yang suruh!"

"Nurut amat," Goda Semesta. "Gue jadi pengen ngajak lo jajan cilok di pojokan tiap hari."

Ranum mendelik kesal, ia beranjak menghampiri Semesta langsung meraih tangan Ranum dengan santai, menggandengnya keluar kelas tanpa peduli lirikan usil beberapa teman sekelas mereka. Meski rasa khawatir di hati Ranum belum sepenuhnya hilang, setidaknya untuk sekarang—berjalan di samping Semestaraya menuju ke kantin seperti ini—membuatnya merasa aman.

Kantin sekolah siang itu padat seperti biasa. Meja-meja penuh, antrean mengular di setiap sudut, dan suara teriakan penjaga warung bercampur dengan celetukan siswa-siswi yang rebutan tempat duduk. Di tengah kekacauan khas jam istirahat itu, Semestaraya dan Ranum berhasil mengamankan meja kecil di pojok, tepat di bawah jendela yang setengah terbuka.

Semesta meletakkan dua porsi nasi ayam dan dua es teh manis di atas meja. Ia duduk di seberang Ranum sambil menyodorkan sendok yang sudah ia bersihkan. "Ayam geprek level dua. Pedesnya pas buat yang masih suka deg-degan baca surat aneh," Ejeknya.

Ranum mengangkat alis, "Lo tuh... bisa-bisanya masih sempat mikir sambel sambil mikirin surat."

"Gue mikirin banyak hal sambil mikirin lo," Sahut Semesta dengan cepat, senyumnya muncul tanpa malu.

Ranum mendengus malas, "Gombal mulu, Ta."

Semesta menyandarkan punggung ke kursi, memandang Ranum dengan pandangan yang lebih tenang. "Gombal itu cuma cara gue buat bikin lo senyum. Biar lo gak mikir yang aneh-aneh terus." Sahutnya.

Sesaat keheningan menyusup di antara keramaian kantin. Ranum menyuapkan nasi ke dalam mulut, mengunyah beberapa kali hingga bisa ditelan. "Tapi gue tetap kepikiran, Ta... surat itu isinya tentang hubungan kita." Ujarnya dengan sorot maha khawatir menatap Semesta.

Semesta tidak langsung menjawab. Ia memutar gelas plastik es tehnya perlahan, matanya melirik ke arah kerumunan anak-anak ekskul basket yang ada di pojok belakang. "Gue janji, Ranum. Gue bakal cari pelakunya sampai ketemu." Semesta tersenyum tipisㅡIa meraih tangan Ranum yang menganggur di atas meja, ka usap lembut punggung telapak tangan Ranum, "Ada gue, lo gak sendiri, paham?"

Meskipun wajahnya belum sepenuhnya tenang, Ranum menganggukㅡia percaya jika Semesta tidak hanya bicara, melainkan pasti akan melakukan sesuatu untuknya, "Lo harus ngelindungin gue dari siapapun pelaku itu.." Ujarnya pelan tapi memaksa.

Semesta tertawa gemas melihat sorot mata Ranum yang tidak pandai menyembunyikan kekhawatiran, "Iya, sayangku.. selamanya gue bakal ngelindungi lo."

semestaraya
dipublikasi pada 12 Juli 2025

SemestarayaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang