xix › Semestaraya.

101 18 0
                                        

Tidak ada yang benar-benar berubah, tapi tidak ada yang tetap sama.

Setiap pulang sekolah, Semesta punya alasan baru untuk tidak langsung pulang. Kadang ia mengajak Ranum ke warung es krim kecil di gang sempit dekat SMA. Kadang mereka hanya duduk di taman, berbagi headset dan mendengarkan lagu-lagu yang tidak mereka pahami liriknya, tapi cukup untuk membuat mereka diam bersama.

Di sekolah, mereka masih jadi pusat bisik-bisik di koridor, tatapan-tatapan ingin tahu, dan komentar yang dilemparkan setengah bercanda oleh teman-teman. Tapi Ranum sudah mulai bisa tersenyum saat tangannya digenggam di tengah keramaian. Ia tidak selalu nyaman, tapi ia tidak lagi sembunyi.

Semesta sendiri tidak pernah benar-benar berubah. Masih keras kepala, masih suka asal bicara, tapi entah bagaimana, di sekitar Ranum, ia jadi lebih pelan. Lebih sabar. Lebih penuh perhatian yang tidak meledak-ledak, tapi selalu terasa. Dan kadang, di sela tawa mereka, di antara celotehan tanpa makna atau lelucon yang basi, ada sejenak keheningan di mana mata mereka saling bertemu.

Siang ini di bawah pohon flamboyan yang mulai meranggas daunnya, Semesta dan Ranum duduk di bangku beton, kaki mereka menjuntai santai, menyentuh tanah yang hangat oleh matahari sore.

"Eh, lo tahu kenapa ayam nyebrang jalan gak?" Tanya Semesta tiba-tiba, nada suaranya serius, seolah hendak mengajukan pertanyaan filosofis.

Ranum melirik, mendesah pelan. "Please jangan bilang 'karena dia mau ke seberang', ya. Itu udah basi sejak zaman batu."

Semesta mengangkat alis, menyeringai. "Loh, terus kenapa?"

"Mana aku tahu." Ranum mengangkat bahu.

"Karena dia dikejar deadline," Ucap Semesta dramatis, lalu langsung tergelak dengan leluconnya sendiri.

Ranum menggeleng pelan, "Kamu tuh ya..." Sebenarnya tidak begitu lucu, tapi melihat Semesta yang tertawa membuatnya ikut tertawa—Menertawakan Semesta, "Bikin kesel tapi resenya gue bisa ketawa."

Semesta menoleh, senyumnya masih belum surut. Tapi di balik canda, ada tatapan yang hangat. "Itu memang misi gue. Bikin lo kesel, terus ketawa. Biar lo gak sempat mikirin hal-hal lain yang nyebelin, selain gue."

Ranum diam sejenak. Menatap Semesta yang sedang memainkan ujung tali sepatu dengan malas, seolah dunia ini cuma latar belakang untuk keberadaan mereka berdua. Dan di situ, Ranum sadar sesuatu—Adipati Semestaraya Rakabumi yang dikenal satu sekolah sebagai pembuat onar, suka bolos, sering kena teguran guru, yang katanya pernah bikin kakak kelas nangis di lapangan waktu MOS—tidak terlihat seperti itu sekarang.

Semestaraya yang dikira semua orang hanya tahu cara memberontak, ternyata bisa sangat sabar mendengarkan cerita tentang kecemasan Ranum. Semestaraya yang katanya pernah hampir dikeluarkan, ternyata tahu cara menyelipkan tissue di bawah botol minuman supaya tidak membuat meja basah. Dan Semestaraya yang katanya kasar, bisa dengan hati-hati setiap memperlakukan Ranum

"Semesta," Panggil Ranum, pelan.

"Ya?"

"Lo tuh... nggak seperti yang orang-orang bilang, ya?"

Semesta menoleh, senyumnya meredup sedikit. "Emangnya orang-orang bilang gue apa?" Sok tidak tahu.

"Bandel. Kasar. Nggak bisa serius." Ranum mengalihkan tatapannya dari Semesta, "Tapi ternyata lo malah lebih perhatian daripada siapa pun yang pernah gue kenal."

Semesta mengangguk pelan, tidak ingin langsung menjawab. 

"Gue emang nakal," Semesta mengakui tanpa sanggahan, "Tapi... bukan berarti gue selalu kayak gitu."

SemestarayaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang