xx › Semestaraya.

118 15 2
                                        

Jam istirahat kedua, mereka duduk di pinggir lapangan yang mulai lengang. Siswa-siswa lain memilih berteduh di kantin atau perpustakaan, tapi Ranum dan Semesta justru mencari tempat yang paling jauh dari keramaian. Matahari siang menyusup dari sela-sela awan, menyinari rumput yang sebagian mengering. Ranum menyandarkan punggung pada tiang gawang, sementara Semesta duduk bersila di tanah, menggigit es lilin rasa cola yang baru saja mereka beli dari kantin.

"Lidahku beku.." Keluh Semesta sambil menjulurkan lidah.

Ranum terkikik. "Makanya jangan ditelan bulat-bulat. Itu es, bukan dendam." Cibirnya.

Semesta mendongak menatap Ranum, "Dendam dingin?"

"Basi."

"Humorku memang klasik, kayak hubungan kita."

Ranum melempar bungkus es lilin ke arahnya. Semesta menghindar sambil tertawa, lalu mengumpulkan plastik kosong dan memasukkannya ke kantong.

Tanpa aba-aba Semesta menyodorkan kakinya ke arah Ranum. "Pijitin, dong. Demi menjaga kelangsungan hubungan klasik ini."

Ranum menatapnya dengan alis terangkat. "Kelangsungan apanya? Ini bukan hubungan, ini pertunjukan dua babak." Mengkomentari cara mereka berinteraksi yang menurutnya jauh dari kata sepasang kekasih, banyak bercandanya.

"Berarti lo babak kedua?" Goda Semesta sambil nyengir.

"Nggak, gue penonton yang nyesel udah bayar tiket."

Semesta menaruh tangan di dada, seolah tersentuh. "Sakit banget. Tapi ya udahlah, demi kamu aku rela jadi badut."

"Udah dari lahir juga kayaknya," Balas Ranum, lalu meraih batu kecil dan melemparkannya pelan ke arah sepatu Semesta.

Semesta pura-pura jatuh tersungkur, "Wah! Kekerasan dalam pacaran, gue ditindas! Gue—"

"Ssst, nanti dikira beneran," Potong Ranum sambil menahan tawa.

Semesta melirik ke sekitar, memastikan tidak ada guru patroli, lalu mendekat sedikit dan berbisik, "Kalau gue ilang hari ini, cari gue di kantin. Mungkin gue udah berubah jadi nugget."

"Pantes dari tadi lo bau ayam."

Semesta mendecak. "Gitu, ya. Oke. Mulai sekarang gue gak mau lucu lagi." Sok merajuk.

"Bagus, gue tunggu tanggal mainnya." Jawab Ranum sambil tersenyum puas.

Sesaat, keduanya diam. Angin bertiup pelan, membawa bau tanah dan suara peluit dari arah lapangan basket.

Semesta melirik Ranum, "Tapi serius, sayang..."

Ranum menoleh, menunggu kelanjutan.

"Gue tetap mau jadi alasan lo ketawa, meski harus jadi nugget atau badut selamanya."

Ranum mendengus, "Asal jangan jadi legenda urban."

"Kenapa?"

"Soalnya nanti lo disebut-sebut terus, tapi nggak pernah kelihatan hasilnya."

"Wah, itu hinaan paling puitis yang pernah gue terima." Semesta memegangi dadanya, seolah terkena panah cinta dan ejekan dalam satu waktu. "Kalau aku urban legend, lo apa? Mitologi lokal?"

"Gue lebih kayak mitos yang suka dibantah anak IPS," Jawab Ranum cepat, menanggapi pertanyaan tidak berbobot.

Semesta melihat langit yang makin mendung, lalu nyeletuk, "Lo percaya nggak kalau awan mendung tuh sebenernya cuma awan galau yang lagi overthinking?"

Ranum mendongak, pura-pura serius. "Berarti awan cerah itu kayak gue pas baru gajian—cerah, terang, dan ngerasa bisa beli dunia."

Semesta nyengir. "Lo gajian dari mana, woy?"

SemestarayaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang