11100 kata, hati-hati.
semestaraya
"Dallen, sudahlah.."
Dallen menghela nafas samar, sejenak ia mengalihkan tatapannya dari sang Papa yang menurutnya sulit untuk diyakinkan, terlebih ia tidak memiliki bukti yang kuat ㅡhanya sekedar asumsi dan kekhawatiran berlebihan. "Tapi, Pa.. It's clear that it's dangerous for Ranum. Adipatiㅡaku yakin Papa juga sangat tahu keluarga itu." ujarnya lagi.
"Ya, Papa tahu Adipati. Tapi, Papa yakin Semesta bukan seperti yang kamu pikirkan, Dallen," Papa meraih cangkir kopi yang sudah sedikit dingin karena dianggurkan selama beberapa menit, "Keluarga Adipati memang tergolong strict dan keras dalam bisnis. Tapi, belum tentu mereka juga strict dan keras dalam hubungan asmara." Lalu menyeruput kopinya.
"Dari mana Papa tahu?"
Papa kembali meletakkan cangkir kopi di atas meja, "Kamu lihat Semesta seperti apa?" Sejujurnya beliau merasa sangat heran dengan putra sulungnya yang beberapa hari terakhir ini berusaha membujuknya untuk menyudahi hubungan Ranum dan Semesta, hubungan yang menurut beliau baik-baik saja.
"Ya," Dallen menunduk sebentar, jari-jarinya mengetuk perlahan pada lututnya-kebiasaan yang selalu muncul saat pikirannya penuh. Ia tahu ucapannya mungkin terdengar terlalu menuduh, tapi rasa tidak enak yang mengendap di dadanya tidak pernah benar-benar hilang sejak mengetahui fakta bahwa Semesta adalah putra Adipati, ditambah Semesta juga merupakan salah satu siswa bermasalah di sekolah, yang memungkinkan untuk mendapatkan banyak masalah yang dapat melibatkan Ranum. "Papa pasti ingin membela SemestaㅡMengatakan jika sikap Semesta baik. Tapi kan, Papa gak tahu aslinya seperti apa kan..? Maksudku, Papa baru beberapa hari bertemu dan mengobrol dengannya."
Papa menghela napas pelan, seakan mencoba menahan diri untuk tidak langsung membantah. "Dallen, kamu itu terlalu cepat menilai orang," ucap beliau dengan nada yang tetap tenang namun tegas. "Kalau kamu benar-benar mau melindungi Ranum dari seseorang, pelajari dulu orangnya. Bukan cuma menilai dari prasangka."
"Tapi Papa juga cuma menilai dari penampilan luar," balas Dallen lirih, meski sorot matanya tajam. "Aku gak mau nanti Ranum yang kena kalau ternyata dia-"
"-Dallen." Nada Papa kini terdengar memotong, tapi tetap tidak meninggi. "Kalau kamu terus seperti ini, kamu justru bisa merusak hubungan kamu sama adikmu sendiri."
Ucapan itu membuat dada Dallen mengeras, ia membenci kenyataan bahwa Papa mungkin ada benarnya-Ranum akhir-akhir ini memang mulai menjaga jarak darinya, bukan karena bertengkar, tapi karena Dallen terlalu sering mengomentari Semesta. Dan di kepalanya, Dallen tahu betul jika ia memaksa terlalu keras, Ranum akan memilih percaya pada kekasihnya ketimbang pada kakaknya.Namun tetap saja, rasa waspada itu tidak mau pergi. Karena bagi Dallen, melindungi Ranum selalu berarti mengantisipasi sebelum terlambat.
Dallen bersandar ke sofa, pandangannya kosong menatap karpet ruang tamu yang bermotif samar. Dallen tanpa sadar membayangkan wajah Ranum saat nanti ia mencoba lagi untuk membicarakan soal Semesta-mungkin adiknya akan menghela napas panjang, mengerutkan dahi, lalu menatapnya dengan mata yang berkata "Kak, tolong berhenti."
Papa kini sudah meneguk sisa kopinya, meletakkan cangkir di atas meja dengan bunyi yang terdengar ringan, namun seperti titik akhir dari percakapan ini. "Kamu itu kakak yang baik, Dallen. Papa tahu kamu sayang sama Ranum. Tapi sayang itu bukan berarti kamu selalu benar. Kadang, biarkan dia belajar dari pilihannya sendiri."
Ingin membantah, tapi lidah Dallen terasa berat. Kata-kata Papa masuk, tapi tidak sepenuhnya ia terima meski tahu ada benarnya-bahkan terlalu benar-tapi bagaimana jika kali ini bukan soal kesalahan kecil yang bisa diperbaiki? Bagaimana jika luka yang akan Ranum terima nanti terlalu dalam untuk disembuhkan?
KAMU SEDANG MEMBACA
Semestaraya
Historia Corta"Gak apa-apa gue cringe, yang penting lo bisa inget gue."
