Sejak menjalin hubungan dengan Ranum, banyak kebiasaan buruk Semesta yang berubahㅡSalah satunya kebiasaan bangun di jam mepet sebelum bel masuk sekolah. Ya, sekarang sudah tidak lagi. Salah satu buktinya pagi hari ini pukul enam lebih lima menit, Semesta beres rapi mengenakan sragam dan atribut lengkap. Setelah mengirimkan pesan singkat pada RanumㅡAkan berangkat, Semesta menggendong ranselnya lalu pergi keluar dari kamar.
Menuruni anak tangga, Semesta yang awalnya berniat pergi ke ruang makan tertunda setelah tanpa sengaja mendengar suara sang Paman dari arah ruang kerja sang Ayah yang sedikit terbukaㅡRuang kerja yang letaknya tidak jauh dari tangga, lantas Semesta melangkah mendekat karena cukup penasaran karena mendengar sang Paman yang sepertinya sedang berdebat dengan Ayahnya.
"Lalu, sampai kapan? Apa susahnya memberitahu Semesta di mana makam Lanava?"
Semesta berdiri di samping pintu, diam-diam menyimak obrolan dua Adipati yang rupanya sedang membicarakan tentang sang Babaㅡ Membuatnya berharap bisa mendapatkan informasi mengenai sang Baba.
"Kasihan Semesta, dia selalu tanya aku tentang Lanava."
Belum Semesta dengar sang Ayah menjawab perkataan sang Paman, apa mungkin artinya Ayahnya benar-benar memikirkan hal itu sebelum memberikan jawaban?
"At least kalau kamu gak kasih tahu makam Lanava, kasih tahu Semesta di mana kakek nenek dari pihak Babanya, Sar, karena Semestaㅡ"
"Justru itu, Kalan."
Grenyitan muncul pada kening Semesta setelah mendengar sang Ayah memotong perkataan sang Paman.
"Apa? Kamu takut kalau Semesta dekat dengan kakek neneknya?"
"..Ya, kalau Semesta pergi ke Surabaya dan ketemu keluarga besar Rarualla, dia gak akan mau kembali lagi ke sini, Kalan."
Jadi, keluarga besar dari Babanya ada di Surabaya? Wah, satu petunjuk yang membuat Semesta merasa mendapatkan pencerahan.
"Kenapa kamu berpikir seperti itu? Keluarga Rarualla pasti memberikan pengertian pada Semesta, mereka gak akan menahan Semesta seperti kamu menahannya."
"Ya, keluarga Rarualla gak akan melakukan itu, tapi Semesta pasti gak akan kembali ke siniㅡKalan, he will leave us after finding his Bubu family."
That's right, tujuan Semesta tetap tinggal bersama sang Ayah adalah agar ia mendapatkan informasi mengenai sang Baba, keluarga sang Baba, lebih tepatnya di mana makam Babanya.
"Kamu benar-benar takut ditinggalkan Semesta ya, Sarga?"
"He is my only heir, Kalan."
"Tapi, kamu jangan egois seperti ini. Jika kamu terus-menerus bersikap seperti ini, sama saja kamu memutuskan hubungan Semesta dengan keluarga Rarualla, apa kamu pikir Semesta juga bukan pewaris keluarga Rarualla? He's the heir! Remember that Lanava is Rarualla's only son, which means Semesta is the sole heir to the Rarualla family, Sarga."
Oh, Gosh.. semakin mendengar semakin banyak fakta yang didapatkan Semesta.
"Lanava punya adikㅡ"
"Adik tiri, anak dari adik tiri Lanava bukan pewaris sah keluarga Rarualla, Sarga."
Semesta bisa mendengar helaan nafas kasar yang dihembuskan sang Ayah, sepertinya Ayahnya sangat keberatan jika ia mengetahui tentang keluarga Rarualla ya? Apa ayahnya sekhawatir itu jika ia pergi meninggalkan Adipati? Very funny, seorang anak yang dulunya sangat tidak diharapkan bahkan coba dibunuh, sekarang sangat dijaga ketat.
"Bagaimana pun juga kamu harus memberitahu Semesta tentang keluarga Rarualla, Sarga."
"Kalan, i can't do that."
KAMU SEDANG MEMBACA
Semestaraya
Short Story"Gak apa-apa gue cringe, yang penting lo bisa inget gue."
