Pagi menyingkap dengan sinar yang pucat, menembus celah ventilasi kamar sempit itu. Namun bagi Ranum, cahaya yang masuk tak membawa hangat atau harapan—Ia duduk di sudut kamar, nafasnya pendek-pendek, dada naik-turun dengan berat. Setiap tarikan napas terasa seperti membawa silet yang melukai dari dalam.
Wajah Ranum sembab, matanya bengkak bahkan air mata yang semalam tak berhenti masih meninggalkan garis kering di pipinya. Bajunya kusut, beberapa kancing terlepas, memperlihatkan tubuh yang lemah dan bergetar. Bahkan kakinya masih terasa kaku, seperti masih merasakan lilitan tali yang semalaman menahan geraknya.
Ranum menyentuh pergelangan tangannya yang memar membiru, terasa perih ketika disentuh. Meski ikatan itu sudah dilepas, rasa sakitnya belum hilang, seolah meninggalkan jejak abadi.
Di balik pintu kamar, terdengar tawa anak-anak motor—Suara candaan mereka begitu nyaring, seakan tidak ada sesuatu pun yang salah, membuat Ranum reflek menutup telinga erat-erat, meski suaranya tetap menembus masuk, membanjiri iai kepalanya.
Tatapan mata Ranum kosong menatap lantai kamar, dengan isi kepalanya yang dipenuhi bayangan Asher yang terus-menerus muncul, menghantui tanpa henti—Asher yang menatapnya rendah, senyum sinisnya, kata-kata yang menusuk, semua itu berputar ulang bagai mimpi buruk yang tak bisa Ranum hentikan.
Air Ranum mata kembali mengalir, meski tubuhnya sudah kehabisan tenaga untuk menangis. Suaranya serak, nyaris tak terdengar ketika ia berbisik dalam hati, "Maaf..." Entah kepada siapa ia meminta maaf, kepada dirinya sendiri, atau kepada orang yang ia cintai.
Suara pintu kamar yang terdengar berderit, seketika membuat Ranum tersentak, seperti hewan kecil yang menyadari predatornya datang.
Nafas Ranum tercekat, matanya melebar dengan ketakutan saat mendapati seorang pemuda dengan santainya masuk, dan berdiri tidak jauh dari tempat Ranum duduk, pemuda itu meletakkan sebotol air mineral dan sebungkus roti di atas meja.
"Makan, jangan bikin gue sama yang lain kerepotan." Ucap pemuda itu, tanpa sedikit pun rasa simpati, lalu menutup pintu lagi.
Ranum menatap botol air itu lama, matanya berair. Tenggorokannya kering, tubuhnya haus, tapi hatinya menolak. Baginya, air itu bukanlah pertolongan, melainkan racun. Segala sesuatu yang berasal dari mereka hanya membuatnya merasa lebih kotor, lebih hina.
Ranum menoleh ke arah lain, memeluk lututnya erat-erat hingga jemari memutih. Tubuhnya gemetar, suara tawanya tertahan di dalam dada, berubah menjadi isak lirih.
Dalam keheningan yang menyesakkan itu, Ranum berbisik, "Semesta..." Suaranya itu tenggelam di antara suara tawa di luar, tidak ada yang mendengar. Tapi Ranum tetap mengulangnya dalam hati, berkali-kali, dengan sisa tenaga yang ia punya.
Air mata Ranum kembali jatuh, membasahi pipi pucatnya yang penuh bercak debu. Ranum meremas rambutnya sendiri, kepala menunduk, tubuh menggigil seakan suhu ruangan menurun drastis. Dalam benaknya, suara bentakan-bentakan lama terus bergema, bercampur dengan suara pintu di luar yang sesekali berderit, membuatnya semakin ciut.
Lalu—suara itu, dentuman keras di luar kamar membuat Ranum tersentak, memeluk diri lebih erat. Napasnya semakin cepat, seperti terjebak dalam lubang sempit tanpa jalan keluar.
Ranum ingin berteriak, tapi suaranya tercekat di tenggorokan—Hanya suara tangis tertahan yang lolos, bercampur dengan suara langkah tergesa dan teriakan samar orang-orang di luar.
Suara dentuman itu disusul bentakan kasar, lagi-lagi membuat Ranum tercekat, tubuhnya mendadak kaku, seolah seluruh darahnya berhenti mengalir. Ranum bahkan tak berani bergerak, matanya menatap waspada pada pintu kayu rapuh yang kini bergetar.
"Tidak lagi... jangan lagi..." Gumam Ranum dalam hati, begitu lirih, nyaris tak terdengar.
Suara bentakan makin jelas, kali ini bukan sekadar tawa bocah motor yang nyaring, melainkan suara tegas, berat, penuh perintah. Bahkan ada suara kayu berderak, suara sepatu menghantam lantai, dan hiruk-pikuk orang berlari.
KAMU SEDANG MEMBACA
Semestaraya
Short Story"Gak apa-apa gue cringe, yang penting lo bisa inget gue."
