Perasaan tidak terima dan amarah memenuhi diri Semesta sejak kemarin sore, ia berusaha menahan diri untuk menuntut penjelasan—semalam terlalu lama, hingga pagi ini pemuda Adipati itu akhirnya memilih nekat. Saat penjagaan di dalam rumah lengah, Semesta menyelinap keluar tanpa ragu, langkahnya cepat menuju garasi yang untungnya masih terbuka lebar setelah lima belas menit lalu sang Papa meninggalkan rumah.
Semesta benar-benar tidak peduli terhadap resiko yang akan ia terima nantinya, karena yang terpenting saat ini baginya hanyalah dapat bertemu dengan Ranumㅡmeminta penjelasan yang sejujurnya dari kekasihnya, itu saja.
Memasuki salah satu mobil setelah mengambil kunci dari tempat penyimpanan kunci, Semesta segera menyalakan mesin mobilㅡtanpa memanaskan mesin, ia segera melajukan mobilnya keluar dari arena rumah, bahkan sempat-sempatnya mengklakson ralat menyapa penjaga yang hendak menutup pintu gerbang utama.
Selama dalam perjalanan, hanya ada kegelisahan dan ketakutan yang menyelimuti Semesta—bercampur menjadi satu, saling bertabrakan di kepalanya tanpa jeda. Tangannya menggenggam setir terlalu kuat, sampai ruas jarinya memutih. Jalanan pagi yang biasanya terasa lengang justru hari ini terasa menyesakkan, seolah setiap lampu merah sengaja memperlambatnya.
Pikirannya tidak berhenti bekerja. Bagaimana jika Ranum menolak menemuinya? Bagaimana jika semua ini memang keputusan final—tanpa ruang tawar, tanpa celah untuk diperbaiki? Semesta menggeleng pelan, menolak kemungkinan itu. Ia sudah terlalu lama diam, terlalu lama ditahan, terlalu lama dipaksa menerima keputusan orang lain atas hidupnya sendiri.
Mobil berhenti di sebuah lampu merah. Semesta menatap pantulan wajahnya di kaca depan—pucat, mata cekung, tapi tekadnya keras. Ia tidak peduli jika nanti dimarahi, dikurung kembali, atau bahkan dianggap gegabah. Rasa takut kehilangan Ranum jauh lebih besar daripada rasa takut pada konsekuensi apa pun.
Begitu lampu hijau menyala, Semesta kembali menekan pedal gas, jantungnya berdetak cepat seiring jarak yang semakin dekat ke tujuan. Setiap meter terasa seperti tarikan napas yang dipaksa—menyakitkan, tapi perlu.
Semesta menelan ludah, "Gue cuma mau denger langsung dari lo... jangan tinggalin gue dengan cara kayak gini, Ranum." suaranya pecah saat akhirnya mengaku pada dirinya sendiri,
Mobil itu akhirnya melambat saat memasuki kawasan perumahan yang begitu familiar. Semesta mengenali setiap belokan, setiap deretan rumah yang pernah ia lewati bersama Ranum—di kursi penumpang, dengan obrolan ringan, atau sekadar diam ditemani musik pelan. Dadanya mengencang saat ia melihat gerbang rumah Ranum dari kejauhan.
Tertutup rapat.
Semesta menghentikan mobil tepat di seberang gerbang besi hitam itu. Tanpa mematikan mesin, ia langsung turun dan melangkah cepat menuju pos satpam di sisi gerbang, napasnya masih belum sepenuhnya teratur.
"Permisi," sapa Semesta terburu-buru saat sampai di pos satpam kecil di sisi gerbang.
Satpam yang sedang duduk di dalam pos tersentak. Wajah pria paruh baya itu seketika menegang saat matanya menangkap sosok Semesta. Ada jeda sepersekian detik—cukup lama untuk menunjukkan keterkejutan, bahkan ketakutan yang tidak ia sembunyikan dengan baik. "I—iya, Mas?" jawabnya gugup, segera berdiri. Tangannya refleks merapikan topi satpam, sorot matanya tak lepas dari wajah Semesta.
Semesta menelan ludah. "Saya ingin bertemu Ranum. Saya—" suaranya sempat tertahan, "saya pacarnya."
Satpam itu menelan ludah. Ingatannya melayang dua hari lalu—peringatan tegas dari Tuan besar mengenai larangan memberikan akses pemuda bernama Adipati Semestaraya Rakabumi untuk menemui Ranum Hasean. "Mas..." satpam itu ragu, suaranya diturunkan. "Maaf... saya tidak bisa."
KAMU SEDANG MEMBACA
Semestaraya
Cerita Pendek"Gak apa-apa gue cringe, yang penting lo bisa inget gue."
