Chapter 19

534 79 23
                                        

Heyaaaa.... it's been forever ya since the last time I posted something here. Sorry, I'm overwhelmed with work and currently occupied by books which I try to finish before this year ends.

First thing first, I haven't write any fiction in a while jadi ini bisa terasa agak kaku. Maafkan! Hari-hari ini lebih sering nulis 'I trust this email finds you well' ketimbang an actual paragraph yang menarik. Huhu... I miss you guys a bunch. Happy reading then!

❄️
❄️
❄️

“After all these years, I see that I was mistaken about Eve in the beginning; it is better to live outside the Garden with her than inside it without her.”
—Mark Twain—

Dari balik jendela kafe, sorot mata Althea terus memandang keluar, menyaksikan beberapa orang berlalu-lalang menembus salju yang perlahan turun seperti kapas. Melihat itu, refleks membuat kedua tangannya saling bertaut, seolah lupa kalau penghangat di sisi lain ruangan bekerja sebaik mesin baru. Warna langit menggelap dengan cepat. Padahal jarum jam masih menunjuk angka empat lebih tiga lima. Siang hari menjadi lebih pendek dan waktu malam terasa sepanjang doa; Althea tidur lebih lama dibanding tahun-tahun sebelumnya. Perutnya semakin besar, berbanding terbalik dengan stamina yang lebih gampang turun karena lelah. Althea masih berusaha untuk menyesuaikan diri—berusaha menyesuaikan tempo dengan Atzel yang tampak lebih dewasa dalam menghadapi persoalan rumah tangga.

Dalam tiga bulan, dia dan Atzel akan menjadi orang tua. Mereka berhasil melewati banyak keraguan yang muncul entah saat awal pernikahan atau saat awal kehamilan. Tapi hanya karena mereka baik-baik saja, bukan berarti segala hal berjalan lancar tanpa kesulitan. Althea masih memendam ketakutan kalau ibunya Atzel akan kembali membawa topik tentang perpisahan saat anak mereka lahir; sedangkan Atzel takut kalau dirinya tidak cukup tangguh untuk dijadikan sebagai sandaran.

Selain itu, menjadi ibu juga masih menjadi hal yang paling Althea takutkan. Beberapa orang akan berkata bahwa dirinya belum resmi menjadi ibu kalau belum melahirkan; bahkan masih banyak anggapan bahwa seorang ibu sejati itu diukur kalau dirinya bisa melahirkan secara normal. Belum lagi ketakutan kalau dirinya tidak bisa mendidik anak mereka dengan baik supaya tidak hanyut dalam arus zaman. Tapi untungnya, kecenderungan overthinking Althea selalu bisa diteduhkan oleh sifat alami Atzel yang lebih optimis dan realistis. Dalam kepalanya, dia bisa mendengar Atzel mengatakan, ‘Tapi sayang, kamu kan enggak akan membesarkan dia sendirian. Ada aku juga. Parentingnya enggak sepihak. It takes two to tango, remember? Don’t worry too much, hot mama. Kita bisa ngelakuin ini bareng-bareng.’

Saat sedang berjibaku dengan pikirannya, senyum Althea merekah saat melihat sosok familiar menghampiri dengan bunga di tangan kanannya. Atzel merentangkan tangan—segera memeluk Althea sambil mengucapkan beberapa ungkapan rindu. Padahal mereka hanya tidak bertemu selama beberapa jam, tapi entah mengapa perasaan kangen serta keinginan untuk terus berada di samping satu sama lain memang jadi makin kuat akhir-akhir ini. Atzel mengecup keningnya sebelum mendaratkan satu ciuman di perut yang semakin besar.

Atzel tidak mengambil tempat duduk di seberang, melainkan di sebelah Althea. Lebih mudah mengagumi dirinya dari samping ketimbang dari seberang yang nantinya akan dipisahkan oleh makanan. Dari jarak sedekat ini, meski tanpa kaca mata sekalipun, Althea bisa melihat dengan jelas rona wajah Atzel yang perlahan kembali terutama saat ia menggenggam tangannya dengan erat. Dia akan menceritakan anjing di depan Sainsbury’s sampai atasan di kantor yang salah potongan rambut dengan ekspresif dan tanpa keraguan. Caranya bercerita membuat Althea semakin terpesona. Ternyata jatuh cinta setelah menikah memang benar adanya. Dan Althea menyukai sensasi tersebut.

Adore YouTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang