It's been a long time! I know, I miss you guys a bunch.
Aku masih nulis because this thing makes me sane. My job makes me snaps each time but we have no option for now. I'm chasing something big so I'm quite tired yet excited with the process and outcome. Anyway, enjoy the ride~
❄️
❄️
❄️
“Nothing is so necessary for a young man as the company of intelligent women.”
—Leo Tolstoy—
Satu minggu sejak Atzel pulang dari rumah sakit, Althea justru mendapati dirinya semakin mensyukuri beberapa hal yang dulu cuma sempat terpikir selintas dan lebih kepada bentuk penghiburan diri. Pertama, fakta bahwa Atzel adalah pendukung nomor satunya adalah absolut. Althea selalu bisa mengandalkan Atzel baik dalam senang maupun sedih. Bahkan saat sedang sakit sekalipun, dia masih bisa menemukan keamanan dalam setiap sentuhan lembut yang Atzel tunjukkan hampir secara spontan. Seolah dirinya memang dilahirkan untuk mencintai Althea.
Atas dasar itu pula, kesadaran yang semakin jelas ini turut membawa Althea untuk lebih memaklumi ibu mertuanya. Terlepas dari segala macam ketidaksetujuan dan penilaian kurang baiknya terhadap Althea, Cassandra Purwanto adalah wanita yang melahirkan dan turut andil dalam pembentukan karakter Atzel yang sedemikian sempurna (setidaknya untuk Althea, jenis karakter Atzel ini adalah yang paling cocok dan tiada celah). Selain itu, Althea juga bisa melihat kalau ibu mertuanya sedang berusaha. Dia berusaha menurunkan ego dan menerima fakta jika putranya adalah jenis anak yang sangat sederhana. Mewah versi Atzel dan dirinya ternyata sangat bertolak belakang. Atzel menginginkan kehidupan yang tenang dan sederhana; sementara Cassandra menyukai kehidupan ‘glamour’ di pusat ibu kota.
Dari perspektif Althea, sikap Cassandra bukannya tidak bisa dipahami. Sangat wajar kalau orang tua menginginkan pasangan yang berimbang untuk anak mereka. Lalu, bukannya dia meremehkan diri sendiri, tapi hanya dilihat sekilas pun, Atzel memang terlalu sempurna untuk jadi nyata. Tapi mungkin Tuhan juga tidak akan membuat takdirnya dan Atzel saling berpapasan seperti garis kartesius kalau memang tidak dibuat untuk saling melengkapi. Matematika Tuhan itu selalu lebih canggih—lebih sulit dipahami juga. Bahkan kalau ada orang iseng bertanya apa yang membuat Atzel sangat mencintainya, Althea tidak punya jawaban pasti selain: ‘Tidak tahu, mungkin jodoh. Tapi kalau mau dianalisis sendiri, mungkin karena aku pekerja keras dan enggak banyak yang suka meneliti virus, kan.’
Di hari ke-delapan, Atzel memaksakan diri untuk pergi ke kantor sebab dia tidak bisa membuat pekerjaannya terbengkalai terlalu lama. Dengan tergopoh-gopoh dia menapaki jalanan London yang licin. Untungnya, Biru yang sangat bisa dipercaya bersedia menyetir dari Oxford ke London kendati jaraknya lumayan jauh. Atzel sempat menyarankan untuk menggunakan kereta, seperti kendaraan yang biasa ia gunakan sebab bisa menghemat banyak waktu. Tapi dengan kondisi kakinya, rute yang biasa itu pun jadi terlalu beresiko. Dengan susah payah Althea meyakinkan suaminya untuk menurut. Althea bicara dengan mata berkaca-kaca, membuat Atzel lemah seketika.
Selama Atzel di kantor, Althea mau tidak mau memaksakan diri untuk mengobrol dengan Cassandra meskipun terasa agak canggung. Terutama setelah ‘tuduhan selingkuh’ secara tidak langsung yang dilayangkan mertuanya beberapa hari lalu saat Althea diantar ke Rumah Sakit oleh Adimas. Cassandra tidak pernah meminta maaf, dan seolah sudah maklum, Althea mengubur segala macam jenis perasaan tidak enak yang membuatnya sedikit stress. Lagipula dia tidak pernah sekalipun mengkhianati Atzel, baik dalam pikiran apalagi tindakan. Jadi segala macam tuduhan benar-benar tidak ada artinya.
Althea bahkan tidak berani menanyakan makanan apa yang ibu mertuanya benar-benar sukai. Dia hanya tahu kalau Cassandra suka makanan Indonesia tapi bukan yang pedas. Lalu Atzel juga sempat menyebutkan kalau ibunya suka makanan berkuah. Apapun asal jangan yang terlalu pedas dan tidak terlalu kering. Oleh sebab itu dia memutuskan untuk memasak soto—dia pernah membuatnya sekali beberapa bulan lalu dan Atzel suka. Barangkali lidah mereka punya selera yang sama, sebab suaminya pun tidak terlalu suka makanan pedas. Selain itu di luar juga sangat dingin—menikmati semangkuk soto untuk makan siang sembari mencairkan suasana di antara mereka sepertinya bukan ide yang buruk.
KAMU SEDANG MEMBACA
Adore You
Fanfiction[ON GOING] Living like a salmon. Althea and Atzel kick on the wedding life with a very small thing in common. In searching for true love, trust, and comfort, will the two people find peace in each other company? March 1 2024
