Halooo~
Getting back in such a random time. But here is my greenest couple of all time (kayaknya). Enjoy your weekend my luvs 💖💖💖💖
❄️
❄️
❄️
“We sometimes encounter people, even perfect strangers, who begin to interest us at first sight, somehow suddenly, all at once, before a word has been spoken.”
—Fyodor Dostoyevsky—
Ada kalanya Althea hanya ingin diam di rumah tanpa perlu pergi ke kampus atau ke manapun yang membuat otaknya berpikir terlalu keras. Dulu dia sempat berpikir, tidak mungkin rasanya dia bakal merasa muak pada topik penelitiannya. Tapi setelah hamil, dia merasa kecerdasannya sedikit menurun. Althea tidak setajam biasanya; dan dia juga lebih sensitif serta menginginkan Atzel untuk selalu berada di sekitarnya. Entah karena minggu ini kehamilannya sudah menginjak minggu ke-32 atau bagaimana, tapi saat Atzel pergi ke kantor kemarin, Althea merasakan urgensi kuat untuk mencegah suaminya pergi. Bukan karena dia memiliki firasat negatif atau apapun, tapi karena dia merasa sedih kalau harus ditinggal dan tidak dipeluk selama dua jam penuh. Padahal dulu dia bukan penggemar physical touch.
“Tapi wajar dong karena aku lagi hamil jadi lebih manja,” gumam Althea di tengah kesibukan menguleni adonan untuk roti homade kesukaan Atzel. Suaminya suka roti dengan aroma zaitun dan ekstrak almond; sulit mendapatkan roti yang benar-benar Atzel suka.
“Kamu ngomong sama teman imajiner apa gimana?” Atzel bertanya dari balik pintu kulkas. Obsesinya terhadap sparkling water akhir-akhir ini sepertinya patut mendapat perhatian.
“Sedang memberi sugesti positif kepada diri sendiri,” jawab Althea disisipi senyum dan kerlingan mata.
“Soooo flirty,” kata Atzel agak menggoda. Meskipun harus berjalan dengan langkah sedikit pincang, tapi Atzel sama sekali tidak keberatan menghampiri Althea hanya untuk memeluk dan mencium pipinya. “Kamu masak apa hari ini sayangku? Ada yang bisa aku bantu?”
“All good, sayang. Aku mau masak coto Makasar. Kamu juga suka coto, kan. Jadi sekalian aja biar buat makan semua.”
“Wah, canggih banget. Beli bahan-bahannya di mana?” tanya Atzel murni terpukau. Agak sulit memasak hidangan Indonesia karena tidak banyak toko Asia yang menjual rempah. Tapi satu hal yang pasti, kalau Althea menginginkan sesuatu, dia pasti akan berusaha sebisanya agar keinginan itu terwujud. Bukan hanya persoalan karir, tapi urusan domestik sekalipun.
Althea merapatkan tubuh pada Atzel hanya untuk bicara dengan nada yang terkontaminasi tawa kecil. “Kamu tahu kan kalau Biru lagi deketin Alisya? Meskipun kelihatannya kayak anak pemalu, tapi dia effortnya oke banget juga. Bahkan waktu Alisya bilang kalau aku mau masak coto, Biru langsung nawarin aku mau dibeliin bumbu-bumbu gitu nggak. Aku iyain deh. Nanti aku undang dia buat makan malam. Terus besok mamah, bapak, dan Alisya mau road trip to the North.”
“Alisya kan nggak bisa nyetir?” Kening Atzel kembali berkerut—tapi jawaban Althea justru tidak kalah mengejutkan.
“Biru kan bisa nyetir,” ucapnya dengan santai. “Malahan yang menginisiasi road trip itu dia lho, sayang. Katanya kasihan kalau mamah dan bapak cuma diem doang di Oxford. Aku kan enggak bisa nyetir terlalu jauh karena udah berat banget perutnya. Kamu juga baru banget sembuh. Terus kenapa kakinya masih agak pincang?”
“Ini karena salah posisi duduk aja terus kram. Nanti juga biasa lagi kok,” jelas Atzel membuat Althea lega. “Lha kok aku nggak tahu ya? Merasa terkhianati!”
“Dia selalu bisa nyetir jarak jauh kok. Cuma katanya kalau harus bolak-balik dari Oxford-London dia agak males juga. Kemarin kan yang jemput orang tuaku Biru, kamu juga di mobil. Jadi sebenarnya bisa-bisa aja. Tapi sebagaimana yang aku bilang, dia lagi deketin Alisya. Mungkin Biru juga mau sekalian mengamankan posisi di depan mamah dan bapak. Who knows.” Althea berkacak pinggang sambil memegangi spatula di tangan kiri. Dia menciptakan beberapa spekulasi, sebagian di antaranya tidak terlalu masuk akal.
KAMU SEDANG MEMBACA
Adore You
Fanfiction[ON GOING] Living like a salmon. Althea and Atzel kick on the wedding life with a very small thing in common. In searching for true love, trust, and comfort, will the two people find peace in each other company? March 1 2024
