What a long time to come back with this one! Apa kabar kalian semua? All well, I hope 😁
Maaf for being inactive untuk waktu yang sangat lama. The thing is, aku jarang baca jadi aku enggak punya inspirasi. But things slowly get back on track.
Please show your love and support ya! I need it and I hope what I wrote can slightly cherish your day! 😊😊😊
❄️
❄️
❄️
“You pierce my soul. I am half agony, half hope. I have loved none but you.”
—Jane Austen—
Althea merasa otaknya panas bukan main. Terutama setelah dia mengirimkan revisi terakhir pada kedua supervisors sebelum mengajukan cuti melahirkan. Sekarang dia agak menyesali keputusan menempuh doctoral di Oxford. Bukan karena stigma kalau segalanya harus sempurna, tapi fakta bahwa mengimbangi kehidupan profesional dan personal ternyata tidak semudah yang dia bayangkan. Bulan lalu, sekitar dua minggu sebelum mengajukan cuti, dia sempat muntah-muntah karena beban studi yang dianggap terlalu berat. Tapi itu pilihannya; dan Althea tidak mau berlarut-larut menyesali apa yang sudah dia putuskan secara bulat.
Sekarang hari-harinya diwarnai dengan beragam perasaan was-was meskipun Atzel selalu berusaha membuatnya merasa tenang. Adora yang diprediksi akan lahir minggu lalu justru tidak menunjukkan tanda-tanda akan hadir dalam waktu dekat. Bahkan setelah mencoba beberapa kegiatan yang disarankan dokter, Adora tetap enggan keluar. Entah karena dunia sedang penuh huru-hara atau bagaimana, tapi bayi mereka tampak enggan untuk disambut oleh fananya dunia. Kendati demikian, Althea tetap berusaha. Dia bahkan meminta Atzel untuk ikut membantu, meskipun sang suami justru merasa tidak tega karena keadaan Althea yang kelihatan serba berat.
“Tapi lebih berat kalau Adora masih di dalam perut. Jadi hari ini aku mau yoga, terus nanti malam kita coba lagi,” katanya sambil duduk bersandar.
Atzel menyahut dengan tiga baris kerut di dahinya. “Disclaimer, bukannya aku nggak mau mencoba lagi, tapi apa enggak malah bikin pegal di kamu? Aku temenin jalan kaki deh ya. I think it will work better than doing something intimate.”
“Kamu menolak karena aku kelihatan gendut kayak beruang grizzly atau gimana? Kok ada aja alasannya sih!” ucapnya agak menaikkan intonasi bicara. Akhir-akhir ini Althea memang sedang agak sensitif. Menurut kamus anak muda, situasi ini digambarkan dengan istilah ‘senggol-bacok’. Althea seringkali menafsirkan ucapan Atzel sebagai sebuah penolakan bermotif negatif alih-alih sebuah bentuk kepedulian.
Buru-buru Atzel merangkul sang istri—menenangkan Althea yang mulai menangis sesenggukan. “Sayangku, istighfar dulu coba. Mana mungkin aku berpikiran kayak gitu. Tee, kamu itu perempuan paling cantik, paling hebat, dan paling keren. Kamu bisa mengimbangi segala macam kerandomanku. Jangan berpikiran kayak gitu lagi ya. Aku menyarankan opsi lain karena memang lebih enak di kamu aja. Tarik napas dulu. Iya kayak gitu.”
Pelukan Atzel sukses membuat Althea lebih tenang. Dia pun merasa kalau dirinya memang belakangan sangat mudah marah dan tersinggung. Mungkin karena kondisi perut yang semakin berat, sementara Adora masih menolak diajak konsolidasi untuk keluar tepat waktu, kondisi hati dan pikirannya jadi lumayan terdampak. Althea hanya ingin putri mereka lahir segera—tapi cepat dan tepat kadang tidak selalu berjalan beriringan.
“Kita jalan aja kalau gitu. Aku ganti baju dulu supaya lebih hangat. Kamu tunggu di sini. Jangan ikut ke dalam,” tutur Althea tajam.
“As if I’ve never seen all of you.”
KAMU SEDANG MEMBACA
Adore You
Fanfiction[ON GOING] Living like a salmon. Althea and Atzel kick on the wedding life with a very small thing in common. In searching for true love, trust, and comfort, will the two people find peace in each other company? March 1 2024
