“Every atom of your flesh is as dear to me as my own: in pain and sickness it would still be dear.”
—Charlotte Brontë—
Untuk beberapa saat, Atzel bahkan tidak bisa memproses apa yang ia lihat di depan matanya. Tidak pula ingat bahwa esok adalah hari ulang tahunnya. Ia genap berusia dua puluh tujuh tahun; dan ia juga resmi menjadi seorang ayah. Setelah perjuangan yang cukup panjang dan proses melahirkan yang cukup intens, Althea akhirnya dapat bernapas lega dan menangis penuh haru saat tangis Adora pecah memenuhi ruangan bersalin. Bayi mereka terlahir sehat tanpa kekurangan apapun. Rambutnya lebat dengan fitur wajah cenderung mirip ayahnya—meskipun itu hanya opini sepihak Atzel yang kelewat terharu terutama setelah menggendong Adora untuk pertama kalinya.
Althea masih kelihatan lemas meskipun sudah bisa menyusui Adora. Ternyata benar kata orang, melahirkan adalah pertaruhan nyawa. Sakitnya luar biasa. Tapi rasa sakit itu seolah sirna saat ia merasakan degup jantung Adora di pelukannya. Otaknya masih memproses momen ini. Sampai setahun lalu, ketika perayaan ulang tahun Atzel yang ke-26, Althea tidak pernah benar-benar membayangkan kalau dirinya akan menjadi seorang ibu. Bahkan tiga tahun lalu, dia sama sekali tidak pernah membayangkan kalau dirinya akan menjadi seorang istri dan dicintai sampai sedemikian hebat. Ia melihat Atzel menangis—pria itu menggenggam tangannya sambil memanjatkan doa yang baru Althea ketahui beberapa hari setelahnya. Senyumnya terlukis lembut saat melihat Atzel, ia terus memandangi Adora yang sedang tertidur lelap di baby box.
“Atzel?” panggilnya pelan.
“Iya sayang? Mau aku buatin mie ayam lagi? Atau mau nunggu Alisya yang racikin? Dia lagi keluar dulu buat beli minum. Atau kalau mau sushi, aku pesenin sekarang ya.” jelasnya sambil mengusap pipi Althea. Di meja, ada banyak makanan termasuk beberapa obat-obatan tradisional yang dibawa ibu mertuanya dua bulan silam. Bahkan Atzel membeli beberapa ramuan China—setengahnya karena termakan iklan sementara setengah sisanya karena testimoni Kirana yang mengatakan kalau khasiatnya memang terasa.
Lalu, sepertinya yang dibilang kakak iparnya saat itu memang benar: suami akan lebih mencintai istrinya setelah melihat mereka melahirkan. Atzel tidak pernah setakut itu kehilangan Althea; dan tidak pernah benar-benar memasrahkan diri pada Tuhan selain di momen dirinya melihat sang istri menangis kesakitan saat anak mereka dilahirkan. Tubuh Althea menggigil hebat karena adanya pendarahan. Atzel sempat memarahi tim medis karena panik—hal yang kemudian dia sesali karena seharusnya dia tidak perlu bereaksi seperti itu.
“Aku sebenernya tuh mau marugame, tapi di Oxford enggak ada ya. Boleh minta sushi enggak sih? Kan sekarang udah boleh,” ucapnya diselipi kekeh pelan.
“Boleh dong, makanya barusan aku tawarin. Buat kamu apa sih yang nggak boleh? Enggak bolehnya cuma banyak gerak aja, nanti jahitannya lepas. Bentar aku pesan dulu ya. Kamu mau apa? Ah, aku pesan semuanya aja deh. Nanti juga pasti habis. Kamu mau apa lagi?” sorot mata Atzel tampak lelah—mungkin karena dia pun terus terjaga sejak tadi malam.
“Mau tiket konser Cortis.”
“Random banget sih tante.”
“Hehehe… enggak ada lagi. Udah itu aja.”
Atzel melirik Althea sekilas—istrinya sibuk memandangi Adora sampai tidak sadar kalau Atzel menyodorkan ‘hadiah kecil’ yang membuat mulutnya menganga. Atzel memang sangat memanjakan Althea—dia juga punya banyak uang sehingga permintaan Althea hampir seluruhnya dapat terpenuhi. Tapi bukan itu yang membuat Althea sangat terharu. Atzel selalu mengingat segala detail tentang Althea—bahkan detail kecil sekalipun.
“Apa ini? Kok tiba-tiba banget kamu ngasih cincin lagi? Kan udah ada cincin nikah,” kata Althea sembari menahan tangis haru. Ia memang pernah iseng-iseng mengatakan kalau dirinya ingin cincin Tiffany&Co., tapi itu murni keinginan singkat yang tidak akan ia wujudkan juga. Tapi Atzel justru menanggapinya dengan serius. Meskipun cukup pandai mengutarakan pendapat, tapi Althea sebenarnya lebih terbiasa memendam keinginan. Matanya melihat cincin berlian dengan desain sederhana namun tidak kehilangan sentuhan mahal yang membuat dirinya bahkan enggan mengenakan barang tersebut. Ia melihat Atzel, lalu kembali lagi ke cincin tersebut. “Ini berapa harganya? Jangan bilang lupa, I knew you were about to say that.”
KAMU SEDANG MEMBACA
Adore You
Fanfiction[ON GOING] Living like a salmon. Althea and Atzel kick on the wedding life with a very small thing in common. In searching for true love, trust, and comfort, will the two people find peace in each other company? March 1 2024
