Aloha, sorry agak hectic selepas lebaran. I spent most of my time with fams, didn't even live online on Insta. Heuheu
I've been learning Japanese consistently, mau jadi wibu premium. Enggak deng. Simply enjoy it aja. Anyway, enjoy your weekend~~~
❄️
❄️
❄️
“The heart of mine is only one, it cannot be known by anybody but myself.”
—Jun’ichirō Tanizaki—
Althea melihat Atzel dengan senyum di wajah pucatnya. Napasnya masih berpacu mengiringi debar jantung tak menentu. Seketika itu air mata pecah—ia segera menghamburkan diri ke dalam pelukan Atzel. Di dalam pandangannya, bahkan Adimas yang ikut mengiringi di samping pun sama sekali tak terlihat. Pria itu berdiri sedikit memberi jarak—merasa kalau eksistensinya saat ini justru membuat suasana menjadi canggung. Terutama dengan kehadiran ibu Atzel di antara mereka.
Menurut dokter dan dari apa yang terlihat, Atzel mengalami dislokasi di lutut kiri sehingga mengharuskannya memakai gips yang membuat langkahnya terpincang-pincang. Dia sedikit terlalu terburu-buru untuk pulang sehingga mengabaikan jalanan licin yang sukses menggulingkan tubuh jangkungnya ke atas jalan. Keningnya tergores—membuat lima jahitan dengan perban tampak sama menonjolnya dengan gips yang menghambat gerak kakinya. Lebam di beberapa bagian lengannya juga tampak jelas. Tapi terlepas dari semua itu, sepertinya eksistensi Althea yang kemunculannya tampak dramatis seolah secara ajaib menghapus segala macam pedih yang Atzel rasakan. Dia hanya terus memeluk Althea—sebelum menyadari kehadiran Adimas dan memutuskan untuk sekadar mengatakan ‘hai’ dan ‘terima kasih’.
“Aku udah boleh langsung pulang kok. Lukanya enggak parah. Kamu duduk di sini, sayang. Perutnya enggak sakit? Maaf karena udah bikin kamu khawatir.” Atzel mengatakan itu sembari mengusap air mata yang masih menuruni pipi Althea. Dalam benaknya, dia sangat ingin mengecup bibir merah sang istri dan memeluknya selama mungkin. Tapi melihat air muka ibunya yang semakin gelap serta ekspresi canggung Adimas, dia memutuskan untuk tidak bertindak ceroboh. “Em... mummy tadinya mau ngasih surprise. Dia langsung datang ke sini. Tapi karena mummy nelpon waktu aku lagi di ambulans, jadi sekalian aja aku kabarin kalau aku jatuh. Oh, makasih ya Adimas karena udah nganterin istriku.”
Dalam hati Atzel menambahkan: ‘Sekarang lo bisa pulang dan tolong pergi dari sini secepatnya!’
“Agak canggung ya karena istri kamu dianterin sama cowok yang seinget mummy adalah mantannya waktu kuliah,” celetuk ibu Atzel langsung membekukan suasana. “Padahal harusnya masih bisa pakai taksi, kan.”
“Taksi kan enggak beroperasi kalau lagi badai gini, mummy.” Atzel memberikan pembelaan.
Lalu Adimas yang tidak senang melibatkan diri dengan masalah apapun turut menambahkan, “Sekalian saya juga mau nengok temen kerja, tante. Jadi daripada Althea kebingungan nyari taksi, kenapa enggak sekalian aja kan? Jaraknya juga enggak seberapa jauh.”
Althea tahu kalau Adimas sedang berbohong. Dia tidak punya teman yang sedang sakit. Dan keberadaannya di sini murni karena Althea yang memohon untuk diantar bertemu Atzel karena dirinya kelewat panik. Althea bahkan tidak kepikiran untuk menggunakan taksi—dia hanya melihat alternatif paling cepat. Sepanjang perjalanan, ia terus menangis dan nyaris tidak mendengar perkataan apapun yang keluar dari mulut Adimas. Dia hanya terus menggumamkan, ‘Atzel, suamiku sayang, tolong jangan sampai ada apa-apa...’ dengan kepala tunduk.
“See? The lads told that by himself. No need to be that harsh to Althea. Your words hurt her, mum. And those hurt me too.”
Sejenak suasana menjadi sangat tegang. Cassandra berniat melempar kalimat lain tapi terpotong oleh dokter yang datang untuk memeriksa Atzel. Katanya dia sudah bisa pergi; dan Atzel langsung menjadikan kata-kata itu sebagai alasan untuk segera pulang dan mengakhiri perang dingin yang ibunya mulai. Adimas menawarkan tumpangan, tapi badai yang sudah reda membuat Atzel lebih percaya diri untuk menolak dan memilih taksi konvensional.
KAMU SEDANG MEMBACA
Adore You
Fanfiction[ON GOING] Living like a salmon. Althea and Atzel kick on the wedding life with a very small thing in common. In searching for true love, trust, and comfort, will the two people find peace in each other company? March 1 2024
