Kembali secepat DPR mengesahkan RUU TNI~
Mumpung lagi mood nulis, here is the new chapter. Btw spill dong kalian ada yang lagi baca modern fiction nggak? Boleh share dong whatever books or works yang lagi kalian baca sekarang ☺️☺️☺️
(OH AND I MISS JEONG JAEHYUN SO MUCH PLEASE COME BACK SEHAT-SEHAT YAAA)
❄️
❄️
❄️
“Respect was invented to cover the empty place where love should be.”
—Leo Tolstoy—
Althea duduk dengan kedua sikut di atas lutut dan kedua tangan menutup muka. Badai di luar tidak menunjukkan tanda-tanda akan reda dalam satu atau dua jam ke depan; dan Atzel mengabari kalau seluruh jadwal kereta dari London ke Oxford dibatalkan. Artinya dia tidak akan pulang malam ini. Tapi bukan itu yang membuat Althea resah. Fakta bahwa pria yang baru saja menutup pintu di belakangnya itu kini juga terperangkap di tempat yang sama dengan dirinya justru menciptakan rasa tidak nyaman sekaligus tidak aman yang kentara.
Dari sekian banyak waktu dan tempat, kenapa harus sekarang semesta memutuskan untuk mengurung Adimas dan Althea? Dan kenapa harus saat kakinya dalam keadaan terkilir pula? Dia ingin berpindah tempat, tapi untuk bangun saja rasanya susah. Althea selalu membatasi interaksi dengan Adimas hanya pada ranah professional—sebab tidak ada lagi yang harus mereka bicarakan di luar itu. Mereka sudah selesai dan ia pun tidak terlalu suka mengglorifikasi masa lalu.
Tapi Adimas punya pandangan yang berbeda—mungkin sejak dulu pandangannya dan Althea memang sangat jarang bertemu. Dia punya lebih banyak keleluasaan untuk tidak diam di ruangan yang sama dengan Althea. Kakinya baik-baik saja dan dia juga kenal lebih banyak orang di gedung ini. Althea memang ramah, tapi dia bukan tipe yang senang bersosialisasi. Pada orang yang tidak terlalu dia kenal, biasanya Althea akan lebih banyak diam dan hampir tidak pernah menginisiasi pembicaraan. Fakta bahwa saat ini dia memilih berjibaku dengan ponsel adalah bukti bahwa dia tidak lagi mempertimbangkan Adimas sebagai orang yang dikenal. Senyumnya tergores tipis pada seorang professor yang menyapanya sebelum pergi dengan beberapa dokumen di kedua tangannya. Tapi setelah itu dia kembali menujukan fokus ke objek lain—melihat ke luar jendela dengan tatapan sendu.
“Harusnya badai reda tengah malam ini, katanya tiga atau empat jam lagi,” celetuk Adimas. Dia masih duduk di kursinya, tidak ada niatan untuk memangkas jarak dengan Althea.
Althea tidak menyahut. Bahkan menengok pun tidak. Ia hanya berdiri dan berjalan ke ke sudut jendela. Pandangannya diarahkan ke luar, sementara tangannya spontan mengusap perut. Tendangan kecil di perutnya terasa menggelitik—seperti sebuah cara menyapa atau sekadar memberi tahu kalau si bayi sudah bangun.
“Kangen sama papa ya nak?” bisik Althea.
Kendati berbisik sekalipun, suaranya masih cukup lantang untuk menarik pertanyaan Adimas keluar. “Kamu ngomong sama aku?”
‘Siapa anda?’ respon Althea dalam hati. Tapi dia tidak punya terlalu banyak energi untuk menyahut dan memperpanjang obrolan dengan Adimas atau dengan siapapun. Untuk alasan sopan-santun, dia menyahut ala kadarnya dengan mengatakan, “Oh, enggak. Sorry, sorry.”
“Udah berapa minggu?” Adimas kembali bersuara.
Spontan Althea menengok dan melihat ke arah pria itu dengan kening berkerut. “Hah?”
Adimas menunjuk dengan dagu, “Bayi, udah berapa minggu?”
“Oh,” tuturnya sebelum kembali duduk ke kursi. Perutnya semakin besar dan ada kalanya berdiri terlalu lama justru membuat punggungnya sakit. Malam-malam yang ia habiskan untuk merengek jadi makin tinggi. Untungnya Atzel tidak pernah sekalipun mengeluh atau sekadar menghela napas tiap kali tiba saatnya Althea menjadi sangat manja. Suaminya itu akan ikut terjaga, lalu meskipun ini tidak mengurangi rasa sakit yang dirasakan tubuhnya secara signifikan, tapi tiap kali Atzel mengusap-usap punggungnya, Althea merasa lebih lega. Pikirannya terus berlabuh pada sosok Atzel, membuatnya sejenak melupakan pertanyaan yang Adimas ajukan. “Minggu ini ke-27 kalau enggak salah hitung.”
KAMU SEDANG MEMBACA
Adore You
Fanfiction[ON GOING] Living like a salmon. Althea and Atzel kick on the wedding life with a very small thing in common. In searching for true love, trust, and comfort, will the two people find peace in each other company? March 1 2024
