CHAPTER 14

10.7K 464 15
                                        

*Normal Pov*

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

*Normal Pov*

Pagi ini di kamar rawat rumah sakit, Aleia terbaring di ranjang dengan berbagai alat berbunyi yang menunjang hidupnya. Alat-alat medis yang pelan menandakan setiap detak jantung dan napasnya.

Ashaka duduk di kursi, dekat ranjang, matanya terus menatap Aleia yang terbaring tanpa lelah. Semalaman Ashaka tidak tidur. Di sudut ruangan, Rafka tidur di sofa, dengan jas Ashaka sebagai selimut.

Keheningan pagi yang cerah hanya diisi oleh suara alat-alat alat medis dan napas yang tenang, menciptakan suasana yang penuh harapan dan kecemasan.

Dokter masuk ke kamar rawat untuk mengecek kondisi Aleia. Setelah memeriksa alat-alat dan catatan medis, dokter berbicara kepada Ashaka dan berkata, “Istri Anda dalam keadaan koma. Sesuai yang saya katakan semalam, jika pagi ini istri Anda tidak bangun...”

Ashaka terdiam, tidak tahu harus merespon seperti apa. Ashaka masih mencoba mencerna perkataan dokter.

“Kenapa istri saya koma? Padahal operasinya berjalan lancar dan yang tertembak adalah punggungnya.” Arshaka bertanya dengan suara yang penuh kebingungan.

Dokter menghela napas panjang. “ Secara medis tidak ada luka serius yang seharusnya menyebabkan koma. Operasinya memang berjalan lancar. Sepertinya, istri Anda kehilangan semangat untuk hidup.”

“Sampai kapan istri saya akan koma?”

Arshaka mendesak, tapi dokter hanya menggeleng. “Sulit untuk mengatakannya Tuan Alaster. Kondisi seperti ini sangat Tidka pasti. Kami akan terus berusaha yang terbaik, tapi kami juga perlu istri Anda untuk berjuang.”

Setelah itu dokter pergi, keheningan kembali mengisi ruang rawat Aleia. Arshaka kembali duduk di kursinya tadi.

Tidak lama, Rafka bangun dan mengangkat kepalanya. Matanya menatap Arshaka yang duduk di sisi Aleia. Rafka mengedipkan matanya, lalu berkata dengan penuh harapan.

Rafka menghampiri orang tuanya.“Papa, gimana keadaan mama?”

"Mama koma." Jawab Arshaka sambil memegang kedua bahu putranya.

Rafka menundukkan kepala dan menggenggam tangan Mamanya yang dingin. Mata Rafka berkaca-kaca, tentu saja Rafka sedih dan sangat takut kehilangan mamanya.

“Kapan Mama bangun?” Rafka bertanya dengan suara yang bergetar sambil menatap papanya.

Arshaka hanya menggeleng pelan. Rafka menundukkan kepalanya. Arshaka membawa Rafka dalam pelukannya.

Tiba-tiba Diwangkara datang dengan langkah tegap, dan tidak lupa ada David yang mengikutinya. “Arshaka, bawa Rafka pulang. Kalian butuh istirahat! Biar Romo yang akan menjaga Aleia.”

Rafka menggeleng, “Rafka tidak mau meninggalkan Mama!” Katanya dengan tegas.

Diwangkara berlutut di depan cucunya, menatapnya dengan penuh kasih sayang. “Rafka, Mama butuh kita untuk sembuh. Kita harus menjaga kesehatan kita jika kita ingin menjaga mamamu. Nanti siang kamu bisa kembali lagi ke sini. Sekarang pulang dan istirahat di rumah bersama papa. Biar eyang juga mengaku di sini.”

Antagonist CoupleTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang