CHAPTER 24

5K 242 22
                                        

*Normal Pov*

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

*Normal Pov*

Aleia sedang berada di Erlangga Group. Di ruangannya yang luas, rapi, dan dipenuhi aroma kopi hitam yang masih mengepul, ia duduk dengan postur sempurna di balik meja besar berlapis kayu mahoni. Cahaya matahari pagi menembus tirai tipis dan jatuh tepat di wajahnya, menegaskan betapa dingin namun elegannya garis-garis wajah perempuan itu.

Jari-jarinya bergerak lincah membalik setiap halaman, menandatangani berkas penting tanpa ragu. Setiap suara gesekan pena terdengar mantap, penuh kepastian. Aura pemimpin terpancar kuat darinya—anggun, tegas, dan mematikan bila tersentuh pada sisi yang salah.

Tok! Tok! Tok!

Ketukan pintu terdengar. Aleia mengangkat wajah sedikit, alisnya terangkat tipis—sebuah isyarat izin masuk.

Pintu terbuka, dan Sebastian melangkah masuk dengan langkah cepat namun tetap sopan. Ia membawa map tebal di kedua tangannya.

“Ada info apa, Tian?” Tanya Aleia, nada suaranya datar—tenang, tapi mengandung tekanan halus.

“Damian mulai bergerak untuk menyusup ke kantor Tuan Muda Akhtar, Nona.” Jawab Sebastian tegas, tubuhnya otomatis tegak seperti prajurit yang melapor.

Aleia langsung menoleh. Tatapannya berubah tajam seketika, seperti mata elang yang mengunci mangsa. Aura dingin menyelimuti ruangan dalam sekejap.

“Kamu sudah memberitahu Akhtar?”

“Sudah, Nona, dan Tuan Damian tidak lagi mengusik Alaster Group! Sepertinya dia tidak melihat Tuan Arshaka sebagai saingan cintanya dan batu loncatan.” Jawab Sebastian, suaranya sedikit menurun karena tahu betapa sensitifnya topik itu.

Aleia menghela napas, kali ini lebih dalam. Ada sedikit kelegaan, tetapi wajahnya tetap tegang dan penuh kewaspadaan.

“Bagus. Awasi terus bedebah sialan itu. Tempatkan penjagaan ketat untuk Rafka!” Perintah Aleia, matanya menyipit penuh ancaman.

“Baik, Nona, akan saya laksanakan.” Sebastian langsung menunduk dalam, menunjukkan hormat dan ketakutannya sekaligus, sebelum keluar dari ruangan.

Setelah pintu tertutup, Aleia meraih gelas kopinya dan meminumnya perlahan. Tatapannya kosong sesaat, bukan karena lelah—tetapi karena otaknya sedang memutar ratusan skenario keamanan.
Lalu ia mengembuskan napas, berdiri, dan merapikan jas kerjanya. Saat ia melangkah keluar, semua karyawan otomatis menundukkan kepala. Aura pemimpinnya terlalu kuat untuk diabaikan.

Aleia akan pergi ke butik langganannya. Dia sudah membuat janji di butik itu. Menyetir mobilnya sendiri untuk ke butik.

Sesampainya di parkiran butik, langkah Aleia melambat. Senyuman tipis terbentuk di bibirnya ketika melihat sosok yang bersandar santai pada mobil hitam mewah.

Arshaka.

Dengan tangan di saku, tubuh tegap, dan tatapan dingin khasnya, sosok itu tampak seperti pria yang diciptakan langsung dari definisi berbahaya. Angin sore meniup rambut depan Arshaka sedikit, membuatnya terlihat lebih memikat.

Antagonist CoupleTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang