Aleia Saraswati, seorang guru sejarah yang tiba-tiba terbangun dalam tubuh Aleia Sheeqa, karakter antagonis dalam novel terkenal "Azkia Mengejar Cinta". Aleia Sheeqa, yang selama ini dikenal sebagai pengacau dalam kisah cinta Akhtar dan Azkia, hidup...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
*Normal Pov*
Damian membanting gelas kristal hingga pecah berkeping-keping di lantai. Pecahannya memantul, sementara cairan anggur merah mengalir seperti darah segar yang baru ditumpahkan. Aroma wine bercampur dengan aura kemarahan yang mencekik ruangan itu.
Wajah Damian merah padam. Rahangnya mengeras sampai ototnya tampak jelas. Napasnya memburu seperti binatang buas yang siap menerkam. Para anak buahnya—enam orang, semuanya pria berbadan kekar—berbaris di depan meja besar bergaya klasik itu. Tapi tak satu pun berani mengangkat kepala.
Malam itu, aura pemimpin Teratai Darah benar-benar mematikan.
"Kalian bilang apa barusan?!" Damian menggelegar. Suaranya memantul di dinding marmer ruangan, membuat salah satu lampu gantung bergoyang halus.
Salah satu anak buahnya, yang paling senior, nekat maju setengah langkah walau tubuhnya jelas gemetar. “Se... sebagian armada kita gagal mengambil senjata ilegal dari kelompok Higanbana, Tuan! Dan—”
"DAN APA?! LANJUTKAN!" Damian menghentakkan tangannya ke meja, membuat tumpukan dokumen terjatuh.
Anak buah itu menelan ludah. “Mobil yang harusnya membawa narkoba terbakar di perjalanan, Tuan! Mereka bilang kecelakaan, tapi… ini bukan kecelakaan! Ini sudah direncanakan! Tidak ada bukti apapun yang tersisa!”
Keheningan kembali turun. Namun hanya beberapa detik—karena setelah itu, amarah Damian meledak lebih besar.
"KALIAN BILANG TIDAK ADA BUKTI?! LALU KALIAN SEMUA DI SINI UNTUK APA?!" Damian menghampiri mereka dengan langkah cepat dan penuh tekanan.
Semua anak buah itu spontan mundur setengah langkah.
Damian menatap mereka satu per satu. Tatapannya seperti belati yang menembus kulit.
"Bagaimana mungkin dua operasi besar kita hancur dalam satu malam?! Senjata gagal diambil... narkoba hilang... dan kalian kembali dengan tangan kosong?!"
Tak ada yang menjawab. Hanya suara napas panik.
Damian mencengkram kerah salah satu anak buah paling muda, mengangkatnya sedikit.
Damian menendang kursi terdekat hingga terpental menghantam dinding. Suara benturannya membuat semua anak buahnya serempak tersentak.
"CARI TAHU!!!" Damian mengaum seperti binatang buas. Suasana ruangan langsung membeku.
Matanya merah, urat lehernya menegang. Ia menatap semua orang di depannya seperti mereka bukan manusia, melainkan sampah yang bisa ia bunuh kapan saja.
Yang membuatnya benar-benar tersulut bukan hanya kegagalan operasi—tetapi kerugian miliaran dari narkoba yang hilang. Bisnis itu adalah sumber dana perang mereka, dan malam ini aliran itu putus total.
Damian menghantam dinding dengan kepalan tangan, membuat cat tembok terkelupas.