Aleia Saraswati, seorang guru sejarah yang tiba-tiba terbangun dalam tubuh Aleia Sheeqa, karakter antagonis dalam novel terkenal "Azkia Mengejar Cinta". Aleia Sheeqa, yang selama ini dikenal sebagai pengacau dalam kisah cinta Akhtar dan Azkia, hidup...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
*Normal Pov*
Ruang itu pengap, bau darah bercampur besi menusuk hidung. Lampu gantung redup berayun, menciptakan bayangan menyeramkan di dinding beton yang lembap. Arshaka duduk di kursi besi, menyilangkan kedua kaki dengan angkuh — seperti raja yang sedang mengadili para penghianatnya.
Di depannya, lima orang lelaki tersungkur. Tubuh mereka penuh luka, memar tak beraturan, beberapa bahkan nyaris tak sanggup mengangkat kepala. Mereka sudah dihajar habis-habisan oleh anak buah Arshaka.
Arshaka menatap mereka dengan dingin. Mata yang biasanya tenang kini berubah menjadi mata predator yang marah.
“Kalian berani sekali! Siapa yang menyuruh kalian?!!” Suara Arshaka menggema, berat dan mengintimidasi.
Kelima orang itu gemetar. Tiga di antaranya tidak berani bicara, hanya menunduk dalam ketakutan. Mereka tahu hidup mereka hanya di ujung ketukan jari Arshaka.
Tanpa ragu…
“DOR!!” “DOR!!” “DOR!!”
Tiga kepala terpental ke belakang. Tubuh mereka ambruk sekaligus. Darah mengalir di lantai, membentuk pola abstrak yang mengerikan.
Dua lelaki yang tersisa langsung menangis ketakutan, tubuh mereka gemetar seperti daun tertiup angin.
Arshaka mengarahkan pistol ke salah satu dari mereka. Suaranya rendah tapi menusuk jantung.
“Jawab pertanyaanku dan keluargamu akan baik-baik saja. Saya tahu bahwa kamu diancam oleh mereka menggunakan keluargamu.” Kata Arshaka. Kata “keluarga” yang ia ucapkan terdengar lebih dingin dari ruangan itu sendiri.
Si A menelan ludah, suaranya serak. “Mereka ingin meruntuhkan perusahaan dengan perlahan.” Jawab si A.
Si B menyusul, matanya memohon belas kasihan. “Mereka tidak suka pada Anda.” Kata si B.
Si A kembali bersuara, tubuhnya bergetar. “Kami tidak tahu siapa mereka.” Kata si A lagi.
Arshaka menurunkan pistolnya perlahan, tapi bukan berarti ancaman itu hilang. Tatapannya tetap tajam, menusuk.
“Kalian akan saya pindahkan di perusahaan cabang bersama keluarga kalian dengan identitas baru.” Kata Arshaka. Terlepas dari kekejamannya barusan, setidaknya dua orang itu diberi kesempatan untuk hidup — kesempatan yang bahkan tidak mereka harapkan.
Arshaka berdiri dan melangkah keluar dari ruangan pengap itu. Sepatu mahalnya beradu dengan lantai semen penuh darah, seperti irama kemenangan yang gelap. Anak buahnya langsung bergerak mengikuti instruksi tanpa suara.
Sebelumnya sang istri sudah memberikan identitas 5 orang itu, ancaman terhadap keluarga mereka, jaringan yang menekan mereka, hingga catatan pengawasan yang ia kumpulkan secara rahasia. Dan dua orang tersisa itu melakukan penghianat karena terpaksa. Semua yang di berikan sang istri tersusun rapi — khas Aleia.