jatuh (S2)

2K 112 17
                                        

kematian tidak ada yang tau, kapan dan dimana, semua sudah jadi suratan takdir yang di tulis oleh tuhan.

siang ini sebelum Yushi pergi ke Korea ia sempatkan diri, berbicara dengan abang nya, abang yang selalu melindunginya, teman bertengkar dan tertawanya, orang yang selalu maju paling depan jika Yushi terjadi sesuatu. Setiap pagi mereka akan selalu bertengkar, entah kaos kaki yag tertukar, dasi yang hilang, pulpen bahkan boneka kecil. sedari kecil mereka bersama. saat ini hanya wajah sedih, letih, dan air mata yang terpampang jelas. jika biasanya abanglah yang mengusap, dan membuat yushi kembali tertawa dengan tingkah jailnya. tapi lihatlah sekarang abangnya lah yang membuat dirinya menangis.

wajah itu, wajah tampan Jisung yang penuh dengan luka, kepala yang di perban. jaitan dimana mana. Yushi pegang tangan Jisung yang terbaring lemas tak berdaya itu. "abang...." panggil Yushi.

Yushi tak kuasa menahan tangisnya, selama ini mereka selalu di jaga.

"yuyu masih butuh abang.....abang belum selesai bang temenin yuyu hiks-" bahkan untuk sekedar bicarapun dada Yushi sudah sesak.

"s-sakuya hiks... masih butuh daddy dan mommynya" Yushi pun menunduk dan menangis, air mata itu bahkan membasahi tangan Jisung. Bunyi Monitor yang memenuhi ruangan tersebut.

jari Jisung bergerak, satu satu membuat Yushi pun langsung menghadap wajah abangnya itu, mata abangnya yang mulai terbuka.

"abang..... dok-" tapi sayang Jisung pegang tangan Yushi agar tidak berteriak.

dengan nafas terengah engah karena jisung yang menggunakan alat bantu pernafasan.

"y-yuyu.."

"iya ini yuyu abang.... hiks" Jisung sedikit menggeleng.

"ja-jangan sed-dih" Yushi mengangguk dan tersenyum walaupun air matanya tetap jatuh.

"ab-bang t-titip sakuya ya?" wajah Yushi memerah dengan dirinya yang menggigit bibirnya menahan suara tangisan yang akan keluar itu "hiks abang... ngga... kita jaga sakuya bareng bareng abang... jangan gini..." Jisung tersenyum, ia sedikit menengok ke kiri untuk melihat chenle yang sama seperti dirinya tak sadarkan diri.

"b-bilang sama ayah, sama buna.... abang jie dan kaka minta maaf..." yushi mengusap air matanya "sebelum kalian minta maaf mereka udah maafin abang" Jisung kembali tersenyum, walaupun samar samar karena tertutup alat pernapasan.

"a-bang boleh cium yuyu..." Yushi mengangguk dan melepaskan alat pernapasan Jisung sebentar lalu ia bawa dahinya untuk jisung cium, sedangkan dibawah sana tangan kedua bersaudara saling menggengam, Yushi pun langsung memasang kembali alat pernapasan itu.

"yuyu h-harus kuat, jaga ayah buna dan adik, abang titip sakuya-" jisung pun menghirup udara dari alat pernapasan sebentar
" terimakasih udah terlahir jadi a-dik abang yang manis dan crewed" Jisung pun mencubit pipi Yushi terlebih dahulu.

"ihh abangg hiks.... yuyu juga terimakasih sama abang udah terlahir jadi abang Yushi yang tampan dan nyebelin" Jisung tersenyum, bohong jika Jisung tak menangis juga ia juga menangis.

"abang mau tidur.. ngantuk" Yushi pun mengangguk.

setelah percakapan Yushi dan Jisung itupun Jisung tak pernah sadarkan diri kembali.

12.30 siang

setelah sidang.

saat ini Yushi masih tak sadarkan diri, Anton membawa Yushi kembali kerumahnya dan memanghil dokter keluarga.

kata dokter yushi hanya kelelahan dan syok berlebih membuatnya pingsan, hanya perlu menunggu hingga Yushi sadarkan diri.

Anton pun membuka ponselnya

OM SION?Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang