Setengah jam berlalu dan mereka tak kunjung keluar dari kamar. Aku sudah mati gaya di sini karena bosan.
Terlewat ide di kepalaku untuk mencoba menguping lewat pintu kamar Jesslyn. Sempat bingung apakah aku harus menuruti ide ini atau tidak. Selain tidak sopan, kemungkinan aku juga tak paham apa yang mereka bicarakan.
Daripada bosen di sini, mending nguping aja, pikirku.
Oke. Aku pun beranjak dan berjalan mengendap ke kamar Jesslyn. Saat sampai di depan kamarnya, aku mulai menempelkan telinga di daun pintu.
"Lah? Emang kamu pernah ngapain aja?" Aku yakin ini suara Jesslyn.
"Gitu doang, Ci. Itunya kakakku gak pernah masuk ke iniku. Eh, pernah sih, tapi cuma dikit doang." Kalau ini suara Jessi.
Tunggu, tunggu. Mereka membahas soal apa? Kenapa Jessi pakai konotasi 'ini-itu'? Apa yang pernah masuk ke 'itu' nya Jessi?
Tunggu...
Ini bukan bahas soal itu, 'kan?
"Dikit doang? Dikitnya itu segimana?" Ini suara Jesslyn lagi.
"Segini doang, Ci. Kepalanya pun nggak masuk semua, cuma dikit doang waktu itu karena rasanya perih banget. Aku gak kuat."
"Ck! Gue gak yakin selaput daramu itu masih utuh apa enggak."
"Terus gimana, Ci? Masak aku udah nggak perawan?"
"Yaaaa... aku gak tau, Jess. Aku gak bisa ngecek kalo nggak liat langsung."
"Ya udah, Cici cek coba punyaku."
Setelah suara Jessi menghilang, suasana menjadi hening. Aku tak mendengar apapun lagi dari dalam sana.
Mungkin sudah tiga menit keadaan masih tetap sama. Tidak ada suara apapun dari dalam kamar Jesslyn. Aku memilih untuk beranjak kembali ke ruang tengah. Padahal aku masih penasaran dengan kelanjutan obrolan mereka berdua.
Tapi tepat saat baru aku berdiri, tiba-tiba aku mendengar sesuatu lagi dari dalam.
"Auuuwwhhhh.... Ahhhh Ciii..."
Tunggu.
Itu suara desahan Jessi, 'kan?
Merasa tak yakin, aku kembali menempelkan kepalaku di daun pintu kamar Jesslyn.
"Ssshhh... Ihhh jangan digituin, Ci! Katanya mau ngecek doang? Kok... Aaahhh..."
Iya. Aku yakin 100% ini suara Jessi. Kenapa dia mendesah? Apa yang mereka lakukan? Apa yang Jesslyn perbuat hingga suara Jessi seperti sedang keenakan begitu?
"Masih. Kamu masih perawan, Jess, tenang aja. Mau sekalian aku enakin gak ini?" Ini suara Jesslyn. Enakin apa maksudnya?
"Sshhh iya deh, boleh, Ci. Tapi cepetin aja, ya? Kakakku pasti udah bete nunggu di luar." Kali ini suara Jessi.
Oke. Sekarang aku sudah bisa membayangkan apa yang terjadi di dalam. Desahan itu sudah menggambarkan semuanya, tapi aku masih penasaran dengan cara Jesslyn memuaskan adikku di dalam sana. Apa dia menjilati vagina Jessi, atau hanya sekedar mengusap-usap klitoris Jessi, atau memasukkan satu jarinya ke dalam vagina Jessi? Aku tak tahu. Yang aku tahu, semakin kesini desahan Jessi semakin nyaring dapat aku dengar.
"Ssshhh iyaaahh... Ciciiii... di situuu ajaaaahhh... Biasanya aku di situu..."
"Ini? Di sini? Enak?"
"Iyaaahhh sshhh ihhhh aduuhhh gelii..."
Mendengar desahan itu, penisku dengan sendirinya mulai berdiri. Desahan Jessi terdengar sangat keenakan. Aku yakin dia juga menikmati apa yang diperbuat Jesslyn pada dirinya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Pikk-usisko
FanfictionAku punya adik, namanya Jessica. Dia baru berumur 16 tahun sekarang, dan aku sendiri seorang mahasiswa tingkat akhir yang sedang sibuk mengerjakan skrip dan menjalankan sebuah usaha kecil pemberian dari orang tua ku.
