23

95 12 1
                                        

UNDER THE RAIN

》semishira book # 1《

[CHAPTER 23; Morning silence isn't empty]

Air dingin membasuh pipinya, tapi bukan itu yang membuat Kenjiro terbangun sepenuhnya. Pagi masih menggantung samar di balik jendela dapur umum, dan ia sudah berdiri menatap pantulan dirinya yang—menurutnya sendiri—tidak sedramatis semalam, tapi tetap memalukan.

"...Astaga," dia menunduk, pelan. "Aku gila."

Tangannya terangkat, mengusap wajah yang basah karena air keran yang entah kenapa tidak terasa cukup dingin untuk menyadarkannya dari rasa malu.

Rambutnya masih awut-awutan, kaus yang ia pakai sudah kusut, dan matanya amat menunjukan kondisi seseorang yang hanya tertidur selama 2 jam, kemudian diisi dengan rasa menyesal sepanjang sisa malamnya.

Kenjiro menghela napas. Satu. Dua. Masih tidak merasa lebih baik.

"Apa sih yang kupikirkan..." gumamnya. Satu tangan bertumpu di wastafel, sementara yang lainnya meremas handuk kecil yang dari tadi ia pakai untuk menyeka muka.

Tapi jujur saja, malam kemarin entah kenapa malah berakhir seperti... mimpi yang terlalu nyata. Terlalu hangat. Terlalu nyaman.

Mereka tidak melakukan hal hal seperti, 'ayo saling buka baju dan lakukan sesuatu seperti orang dewasa'. Bisa langsung habis keduanya jika sampai melakukannya- maksudku, mereka tidur di kamar khusus tamu, bung, ada di gedung paling luar, tidak jauh dari dapur umum dan loker security.

Kemarin malam, apa yah, kalau Kenjiro boleh menyimpulkan, itu hanya 'terlalu Semi Eita'.

Kenjiro mengutuk dirinya sendiri. Kalau bisa, dia ingin menyalahkan orang yang pertama kali memutuskan untuk jatuh cinta. Tapi sayangnya, Kenjiro sebagai pihak yang lain, pihak yang memiliki hak untuk menolak pun, malah justru jatuh sama dalamnya, sama saja.

Eita yang datang, tengah malam, menempuh perjalanan jauh hanya untuk memastikan dia baik-baik saja. Lalu mereka berakhir tidur di sofa kamar tamu, dengan jarak nol sentimeter dan napas yang saling bertaut, tanpa kata, tanpa hasrat dan niat lain. Tangan Eita yang mengusap punggungnya terasa selamanya, karena bahkan Kenjiro tidak mengingat hal itu berhenti hingga dia jatuh ke alam mimpi-- meski hanya dua jam sebelum akhirnya dia terbangun dan tidak lagi bisa tidur hingga pagi datang- hingga Eita memutuskan untuk bangun duluan dan beranjak pergi, membawa asumsi Kenjiro yang masih tertidur- padahal faktanya, itu dusta.

Apa apaan kecupan selamat pagi itu? Bahkan sekarang dia harus hidup dengan memori itu- bagaimana caranya menyapa Eita nanti, bagaimana caranya bertukar cerita nanti, yang lebih penting, bagaimana caranya menghilangkan perasaan malu ini

"Shirabu-senpai?"

Ah, suara manusia yang sama sekali tidak ingin Kenjiro lihat di pagi buta ini-- selain Eita maksudnya.

Kenjiro menoleh pelan. Maniknya mendapati Goshiki yang berdiri di ambang pintu dapur, matanya masih setengah tertutup kantuk, rambutnya berantakan, dan ekspresinya bingung setengah sadar. Ada seikat roti tawar dan --apa itu? selai kah?-- di tangannya

"Kenapa Senpai cuci muka di sini?" tanyanya polos.

"Karena aku tidak bisa teleportasi ke kamar," jawab Kenjiro, tanpa meminta otaknya bekerja.

"Oh."

Hening sejenak, sebelum suara sliper dari langkah yang sengaja diseret menggantikan bising dapur. Eita muncul dari pintu depan, arah kamar tamu dengan plastik di tangan dan ekspresi yang segar. Jadi dia bisa tidur dengan tenang? Kenapa Shirabu rasanya kesal, yah.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Apr 16, 2025 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

UNDER THE RAIN | SEMISHIRATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang