[23]

695 77 31
                                        

Terhitung sudah satu bulan Krow berada di negara sebrang. Tapi bagi Jaki sendiri, sudah beribu tahun ia tanpa kekasihnya. Hari-harinya di lalui dengan kembali pada kekangan sang Papi yang semakin ketat menjaganya, buat Jaki terus-terusan cemberut tiap melihat Papi-nya sendiri.

Seperti sore ini, saat Rion menjemput nya di depan kampus,

Tapi setelah Jaki menunggu selama satu jam.

Tentu saja wajah si bungsu sudah menekuk dengan mata yang menyorot tajam. Bibirnya mengerucut dengan alis yang menekuk. Jaki langsung jalan ke arah pintu mobil di sit dua, membukanya, dan menutupnya kencangsetelah duduk di dalam.

Sementara Rion hanya menghela nafas di kursi depan. Kakinya menginjak pedal gas dan mulai menjalankan mobilnya. Matanya melirik Jaki yang duduk bersandar di kursi belakang sembari bersedekap dada dan menatap pada jendela.

Wajahnya masih cemberut. Namun tetap lucu.

"Papi kelamaan ya jemputnya?"

Pertanyaan Rion memecah keheningan. Tapi tak ada jawaban dari Jaki yang masih diam.

"Kei..." Rion menghela nafasnya. "Papi beliin es krim mau?"

"Nggak."

Suara Jaki terdengar datar, judes. Lelaki itu membalas ucapan Rion tanpa menoleh pada Papi-nya. Wajahnya makin cemberut buat Rion tersenyum kecil.

"Kalau... Papi bawain Krow mau?"

"Ih! Diem, deh, Papi! Kei lagi nggak mood ngomong sama Papi!"

Rion melepas tawa nya saat mendengar ucapan Jaki yang penuh rasa kesal. Hal itu mampu membuat Jaki mendengus sebal dan membanting tas di samping dirinya.

Melihat itu Rion lantas berhenti tertawa. Ia mengerjap cepat. Yah.. sepertinya, Jaki merajuk lebih parah.

"Papi minta maaf, deh... Soalnya tadi Papi nggak bisa ninggalin klien nya. Orang penting dia."

Penjelasan Rion tak langsung mendapat jawaban. Sekali lagi Jaki mendengus. Dia menoleh pada kaca yang menggantung,

"Ini bukan sekali dua kali Papi kayak gini. Kei tuh di rumah juga ada tugas, Pi. Tapi Papi selalu telat jemputnya. Kalau kayak gini, mending Kei pulang pake becak aja sekalian."

Nadanya penuh rasa kesal yang seolah lama Jaki pendam. Matanya menatap tajam pada Rion yang hanya diam. Jaki kemudian kembali menoleh pada kaca, memperhatikan jalanan di luar.

"Iya, Papi minta maaf." Rion menghela nafasnya panjang. "Besok kalau Kei pulang kelas, Kei boleh pulang sendiri."

Jaki terdiam. Badan nya bergerak condong ke depan, menoleh pada Rion yang sibuk menyetir dengan raut memelas.

"SERIUSAN? KEI PULANG SENDIRI?" Senyuman terukir di wajah Jaki. Matanya berbinar-binar lucu.

Dan ketika Rion menganggukkan kepala, Jaki langsung memekik kesenangan sampai terdengar keluar mobil. Terbukti dari beberapa pengendara motor yang menoleh pada mobil Rion dengan raut terkejut.

Hal itu membuat Rion menoleh pada Jaki, "jangan kenceng-kenceng, Kei sayang... Liat tuh orang-orang pada ngeliatin."

Mendengar ucapan Rion, sontak Jaki membekap mulutnya sendiri dengan kedua telapak tangan nya. Ia kemudian cengengesan menatap Rion yang kembali fokus pada jalanan.

Beberapa menit kemudian, mereka tiba di rumah. Jaki lebih dulu berlari keluar mobil dan memasuki ruang tengah. Matanya mengedar mencari keberadaan Caine yang tak di lihat nya.

"Mii!! Mamii???" Jaki melangkah sembari melihat sekeliling hingga tiba di dapur. Tapi tak ada jawaban sama sekali.

Langkahnya berhenti di depan meja bar, melihat puding coklat yang berada di piring hitam. Matanya mulai berkilau senang. Jaki meletakkan ranselnya di atas meja dan duduk di atas kursi. Ia mengambil sendok dan memakan puding itu dengan khidmat.

Unexpected LoveTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang