[24]

921 95 15
                                        

Kaki jenjang lelaki cantik itu turun dari mobil, menapak pada jalan parkiran yang di tempati beberapa mobil. Semilir angin menerpa helaian surai merah muda nya yang sedikit berantakan.

Di susul oleh dua orang lain nya yabg turut turun dari mobil. Menghampiri Jaki yang membentangkan tangan sembari menarik nafas panjang.

"Jak," pundaknya di tepuk pelan. Jaki lantas menoleh, menatap Elya yang mengulurkan tas miliknya.

"Ini tas kamu. Ketinggalan ntar di dalem." Ucap perempuan itu sembari tersenyum.

Jaki segera menerimanya sembari tersenyum dan mengangguk, "makasih kak El!"

Lalu datang Key yang menggendong tas besar di pundaknya. Tentu, itu tas miliknya dan juga Elya. Mana mungkin ia membiarkan kekasih hatinya membawa tas berat itu sendirian.

Si surai biru berdiri di hadapan mereka. Sembari melirik jam di tangan nya, "udah mau jam dua belas ini... Tapi mobilnya si Mako sama Marcell belum dateng juga."

Helaan nafas terdengar darinya. Ia kemudian bersedekap dada sembari melihat kesana-sini. Mencari keberadaan mobil milik teman-teman adiknya.

Sementara Jaki sibuk mengenakan ranselnya yang penuh dengan jajanan, pakaian, dan juga obat-obatan. Jangan tanya mengapa Jaki bisa sampai sini dan melewati izin dari Papi yang sulit di dapati,

Karena Jaki menggunakan senjata andalan nya—yaitu merengek pada Caine.

Bukan karena Caine yang mengadukan hal tersebut pada Rion. Namun Rion sendiri yang melihat Caine seperti di tempeli makhluk halus membuatnya tak tega dan mengiyakan ucapan Jaki.

Maka dari itu, ia bisa berada disini setelah perjalanan tiga jam dari kota pesisir. Kini hanya perlu menunggu mobil yang di isi oleh Mako, Riji, Marcell, dan juga Garin.

"Kalau gitu aku beli dulu tiketnya, ya. Sama minta pemandu juga buat sampe ke tempat camp nya." Suara Key membelah keheningan di antara mereka.

Elya mengangguk singkat, "mau aku anterin?" Tawar nya saat Key meletakkan tas di samping mobil.

Si surai biru itu menggeleng dan segera berjalan ke arah loket kasir untuk membeli tiket masuk. Meninggalkan Elya dan Jaki yang menatap kepergian nya dalam hening.

"Kak El," Suara Jaki buat Elya menoleh. Ia menatap Elya dengan sorot mata yang sulit di artikan.

Jaki menahan nafasnya dulu sebelum berbicara. Tangan nya mengepal erat di sisi tubuh, sebelum merogoh saku dan mengeluarkan ponselnya. Tak lama ia menyodorkan layar ponselnya ke arah Elya yang menatapnya setengah bingung.

Elya menatap layar ponsel itu sejenak.

Di sana...

Terlihat foto dirinya dan Key di taman yang sedang bercumbu kasih. Itu adalah foto yang di potret teman nya saat ia dan Key baru saja menjalin hubungan. Tapi bagaimana itu bisa sampai di tangan Jaki?!

"Itu... Kakak sama Key, kan?" Jaki menatapnya ragu.

Elya menahan nafasnya. Wajahnya terasa panas, ia yakin itu memerah sekarang. Lalu dengan pelan—Elya mengangguk.

Melihat itu Jaki justru diam. Ia menatap ponselnya lagi dan tiba-tiba Jaki memekik, memeluk Elya dengan kegirangan. Ia mengguncang tubuh perempuan yang nampak syok dengan tingkahnya yang penuh semangat.

"OMAAGAAAH!! Akhirnya jadian jugaaa!!" Pekik Jaki kegemasan. Ia bahkan mulai bergelayutan di tangan Elya dan mendusel di sana. Tapi Elya senang, ia hanya tertawa dan mengelus surai halus Jaki.

Lelaki itu mendongak menatap Elya, "tapi kenapa sih nggak ada yang bilang?! Takut banget kayaknya aku cepuin ke Papi Mami." Ucapnya sebelum mendengus singkat. Merasa di khianati karena tak ada yang memberitahu berita itu padanya. Bahkan Kakak-nya sekalipun.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Apr 22, 2025 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Unexpected LoveTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang