Ren dinobatkan sebagai dewa disekolah. Melihatnya seperti itu membuat Laia merasa hidup didunia yang berbeda, tapi semua orang berhak menyukai siapapun didunia ini. sama seperti Laia yang tidak bisa mengatur pada siapa hatinya akan berlabuh
Setelah...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Laia mendadak menjadi pendiam dan Zeera paham akan hal itu. Apalagi sejak tadi melihat secara langsung seperti apa tunangan Ren, mereka tidak tanggung-tanggung membuat hati Laia tidak nyaman dengan menyekolahkan perempuan yang berhasil meluluhkan hati pria itu.
"Aia, ayo ke kantin," ajak Zeera setelah guru keluar kelas.
Laia menelungkupkan kepalanya dengan lemas. "Lo aja deh, Zee. Gue nggak lapar."
"Lo nggak boleh kayak gini, Laia. Lagian yang hatinya patah karena Kak Ren tunangan itu bukan lo doang, tapi seluruh cewek di sekolah ini, dan Kak Ren nggak peduli itu."
Mendengar itu, Laia bangkit dan menatap sahabatnya dengan serius. "Iya, Zee. Maaf, gue baru sadar diri."
"Ayo jajan bakso Mang Arim," lanjut gadis itu sambil berjalan lebih dulu menuju kantin, meninggalkan Zeera yang melongo.
Semudah itukah membujuk Laia yang sedang galau?
Dan di sinilah mereka sekarang, mengantri bakso langganan mereka yang pasti akan menaikkan 1% mood Laia jadi lebih baik.
Saat sedang asyik mengantri, Laia dikejutkan dengan seseorang yang merangkul pundaknya.
"Hallo, sayang..." Vero mengedipkan sebelah matanya.
Laia mendengus sebelum menepis lengan Vero. "Lepasin!"
"Ih, Vero lo ya!" Laia berbalik dan menyerang Vero, dia menjambak rambut ikal cowok itu dengan sekuat tenaga melampiaskan kekesalannya.
Vero meringis tapi tak menghentikan Laia, karena kini kedua tangannya masih menggantung di pinggang Laia, mencari kesempatan.
"Lo sakit aja sana terus biar gue hidup tenang!"
"Lo kok jahat banget doain suami sakit terus."
Laia melotot lalu menginjak kaki Vero. "Suami bapak lo botak."
"You guys are dating?" suara lembut itu berhasil membuat mereka berhenti. Keduanya sama-sama menoleh ke arah gadis berparas bule.
Seketika Laia down, perut yang tadinya lapar kini kenyang karena menelan langsung rasa insecure melihat gadis yang bernama tag Luna Peregrine.
Dengan kulit putih, tinggi semampai, rambut coklat bergelombang, dan wajah yang tergolong sangat cantik, sudah membuat Laia merasa seperti seupil debu.
"Iya dong, Kak, kita adalah..." Vero berkata santai.
"Enggak, ya enggak!" potong Laia cepat.
Vero cemberut mendengar itu.
"Kalian belum pesan juga?" tanya Rangga yang baru saja datang bersama teman-temannya.