Ren dinobatkan sebagai dewa disekolah. Melihatnya seperti itu membuat Laia merasa hidup didunia yang berbeda, tapi semua orang berhak menyukai siapapun didunia ini. sama seperti Laia yang tidak bisa mengatur pada siapa hatinya akan berlabuh
Setelah...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Laia menggigit boneka panda kesayangannya saat melihat dua orang berciuman di layar laptopnya. Hari ini adalah hari terakhir Laia menjalani skorsing. Artinya, besok ia bisa kembali bersekolah seperti biasa. Meskipun cukup deg-degan karena takut dicibir semua orang, ia tetap harus semangat demi ibunya.
Sedikit informasi mengenai hubungan keduanya: kemarin, Laia diajak jalan-jalan seharian oleh Ren. Ia baper oleh sikap Ren selama ini kepadanya. Sepulang dari jalan itu, setelah Ren mengantarkannya pulang, Laia memberanikan diri menyatakan perasaannya pada cowok ganteng itu.
“Aku suka sama Kak Ren,” ucap Laia lalu berjinjit dan mencium bibir cowok itu.
Ren membalas ciumannya, tapi dia tidak mengatakan apa pun atas pengakuan gadis itu. Ia hanya tersenyum, lalu pergi begitu saja.
Jadi itu artinya apa? Ren suka juga tidak? Tidak ada yang tahu selain hati mungil cowok itu.
Tok tok tok
Laia mengalihkan pandangan ke arah pintu yang diketuk, lalu muncullah ibunya yang tersenyum.
“Aia lagi apa?” tanya Fiona
Laia menutup laptopnya lalu duduk. “Bunda enggak ke toko?”
“Nanti sore,” jawab fiona sambil duduk di ranjang Laia.
“Kenapa, Bun?” tanya Laia gugup.
Karena mereka belum pernah membicarakan masalah yang menimpa Laia, fiona sangat pengertian dan memberikan waktu kepada anaknya.
“Aia enggak mau ngomong apa-apa sama Bunda?” tanya wanita itu sambil mengusap lembut rambut panjang Laia.
Laia menunduk, bingung harus mulai menceritakan dari mana.
“Kenapa Aia enggak ngomong kalau Aia selama ini kesulitan?”
“Bunda ngerasa jadi ibu paling buruk karena enggak bisa jaga kamu. Maafin Bunda…” fiona menghapus air mata yang turun tanpa peringatan. Padahal ia berusaha untuk tidak menangis dalam pembicaraan ini.
Laia menggeleng dan ikut menangis. Ia memeluk ibunya erat-erat, menumpahkan segala perasaan yang selama ini ia pendam. Pelukan seorang ibu adalah obat terbaik bagi anaknya.
“Aia yang salah. Bunda enggak pernah ajarin aku buat jahat sama orang, tapi aku lakuin itu…”
“Aku harus apa biar Bunda maafin aku…” kata Laia sambil terisak.
Fiona merenggangkan pelukan, menghapus air mata Laia dengan sayang.
“Enggak ada. Aia enggak harus ngelakuin apa-apa untuk Bunda. Cukup selalu jadi anak Bunda, dan Bunda minta tolong ya, kalau ada masalah apa pun, cerita. Bunda enggak akan pernah marah.”