Jeno menutup pintu kamar sang putra setelah merebahkan Woobin ke ranjangnya, baru saja hendak melangkah untuk masuk ke kamarnya, dia dikejutkan dengan suara notifikasi ponselnya. Saat di periksa ternyata ada pesan dari Jaemin.
"Tuan, terima kasih untuk makan malamnya dan juga semua hadiahnya."
Jeno tersenyum membaca pesan itu, jarinya dengan lincah mengirim balasan untuk Jaemin. Setelahnya dia kembali memasukkan ponselnya ke saku jas lalu melangkah ke kamarnya untuk istirahat.
"Melegakan jika kau menyukainya. Kalau begitu istirahatlah. Selamat malam."
Jaemin tersenyum di tempatnya membaca balasan Jeno. Dia letakkan ponselnya dia atas meja nakas lalu menoleh ke belakang di mana semua hadiah dari Jeno dia letakkan di atas ranjangnya.
"Apakah aku pantas menerima semua ini? Aku khawatir Tuan Lee akan kecewa jika aku tidak bisa menikah dengannya. Terlebih Woobin." Gumam Jaemin dengan bibir mengerucut gemas.
Sementara Jeno baru saja mengganti pakaiannya dengan piyama tidur. Dia naik ke ranjangnya dan menyambar ponsel di atas nakas, memeriksa pemberitahuan sebelum tidur dan melihat balasan Jaemin.
"Tuan juga istirahat, tidur yang nyenyak dan selamat malam."
Entah apa yang lucu, tapi Jeno merasa geli. Dia tertawa malu-malu di tengah kamar yang sepi, apalagi saat memikirkan balasan Jaemin yang manis. Hanya memikirkannya saja, dia bisa tahu dan seperti mendengar suara Jaemin yang lembut serta senyum cantik pria itu saat membalas pesannya.
***
Langkah kaki Jeno dan Woobin terhenti saat tiba di depan kelas. Baik Jaemin dan Jeno langsung sama-sama canggung saat bertatapan. Ada senyum malu-malu yang terukir di wajah keduanya.
"Selamat pagi Tuan, selamat pagi Woobin." Sapa Jaemin ramah seraya membungkuk dengan senyum cerah ke arah Woobin.
"Selamat pagi Guru Na." Sapa Woobin.
Woobin langsung masuk ke dalam kelas menyisakan Jeno dan Jaemin.
"Kalungnya sangat cocok denganmu." Ucap Jeno dengan ekspresi gugup yang amat kentara saat dia sejak tadi melihat kalung yang melingkari leher indah Jaemin. Mengingat itu adalah kalung pemberiannya.
Jaemin menunduk menutupi guratan salah tingkah di wajahnya.
"Terima kasih Tuan."
"Kau menyukainya?" Tanya Jeno.
"Karena Tuan bilang ini sangat cocok denganku, tentu aku sangat menyukainya."
Sekujur tubuh Jeno bergetar dan darahnya berdesir hebat mendengar balasan Jaemin. Entah dia yang sudah lupa rasanya jatuh cinta atau memang balasan Jaemin itu seperti godaan baginya.
Entahlah, itu terdengar tak biasa.
"Syukurlah kau menyukainya. Kau sudah makan?" Tanya Jeno.
"Sudah Tuan. Tuan sudah sarapan sebelum berangkat bekerja?"
"Ya, aku makan roti bakar tadi. Lalu kau memiliki rencana dengan makan siang?"
Jaemin tampak berpikir sebelum menjawab pertanyaan Jeno.
"Belum Tuan, aku ada rapat dengan komite hari ini bersama guru lain. Mungkin aku akan makan setelah selesai."
"Ah~ baiklah kalau begitu. Semangat ya, Guru Na." Ucap Jeno dengan senyum kikuk tak lupa menunjukkan gerakan mengepalkan tangan memberi semangat.
KAMU SEDANG MEMBACA
NOMIN STORY
Hayran KurguNOMIN SHORT STORY COMPLIATION! READ!!! BOOK INI BERISI CERITA PENDEK NOMIN (4-5 CHAPTER AJA)
