SC 2

1.1K 72 6
                                        

Jam dinding di kediaman keluarga Nakamoto menunjukkan pukul enam sore, Jaemin baru saja kembali dari "jalan-jalan" katanya bersama Jeno.

Dia masuk ke dalam rumah dengan ekspresi gugup seraya celingukan, didapatinya rumah tampak sepi namun kebisingan terdengar di area dapur, sepertinya sang Papa di sana, tengah berjibaku untuk membuat makan malam.

Dia pun bergegas masuk ke dalam kamar dan membersihkan diri, setelahnya dia menyusul sang Papa.

"Jaemin, kau baru pulang?" Tanya Winwin melihat putranya berdiri di sebelahnya.

Si cantik berdarah Jepang-China itu tak menjawab, hanya melempar senyum lalu sibuk memotong kol di sebelah sang Papa.

"Kau pergi ke mana saja dengan Jeno?"

"Kami berkeliling, Papa. Jeno membawaku bertemu teman-temannya dari sekolah lain." Jawab Jaemin dengan senyum kikuk.

"Jeno anak yang baik sepertinya, kau memiliki banyak teman dengan mudah." Gumam Winwin membuat nafas Jaemin seperti tercekat, namun dia hanya melempar senyum.

Suasana di dapur kembali tenang karena mereka sibuk memasak.

***

Kian hari, kedekatan keduanya kian intens. Di sekolah, berita tentang hubungan mereka, menyebar dengan pesat. Jeno adalah anak paling terkenal di sekolah, jelas saja kedekatannya dengan Jaemin mencuri atensi para siswa dan siswi di sana.

Beberapa teman sekelas atau siapa pun yang mengetahui kabar ini, turut menyayangkan tindakan Jaemin yang terkesan polos, karena terjerumus dengan berhubungan dengan Jeno. Padahal, saat dia datang, dia di kenal sebagai siswa pindahan yang pintar.

Meski belum pasti apakah status mereka berkencan atau hanya dekat, yang pasti, hubungan itu terlihat spesial.

Pagi ini, Winwin masuk ke dalam kamar putranya, dia mengambil seragam sekolah yang kotor milik sang putra yang berada di keranjang terletak di sebelah pintu kamar mandi untuk di cuci.

Satu persatu ia periksa sampai hidungnya menangkap aroma rokok membuat alisnya mengernyit. Dia mengendus blazer milik sang putra lalu mendengus saat menghirup aroma asap rokok menempel pada blazer putranya.

Hal itu membuat pikirannya berkecamuk, dia pandangi blazer sang putra dengan beragam pikiran buruk.

Apakah putranya merokok? Rasanya tak mungkin.

Jaemin tak menunjukkan gelagat seperti itu.

Apakah putranya sudah memasuki fase pergaulan yang buruk?

Beragam pikiran negatif tak henti memenuhi kepalanya. Sampai malam, sampai saat di mana ia menghabiskan waktu dengan suaminya.

"Aku menghirup asap rokok di pakaian Jaemin hari ini saat hendak mencucinya." Suara Winwin memecah sepi di kamar mereka.

Yuta yang tengah menonton televisi hanya menghela nafas, dia tak memberi reaksi, tapi dia menaruh atensi atas keluhan suaminya. Pria itu hanya menaikkan kacamata yang bertengger di hidung mancungnya lalu kembali fokus pada siaran televisi — bersikap seolah hanya angin lalu.

Sementara yang di bicarakan, asyik berbalas pesan dengan Jeno. Tak lupa senyum salah tingkah dan perasaan geli seperti kupu-kupu beterbangan di dadanya.

"Besok pagi, teman-temanku mengadakan balapan. Apa mau ikut melihatnya bersama?" Tawar Jeno dalam pesannya.

Alis Jaemin bertaut membaca pesan itu, jemarinya lincah bermain pada tuts papan ketik, "Tapi besok kita sekolah."

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: May 09 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

NOMIN STORYCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang