Part 23

92 12 0
                                        

Alvaro menatap Tania yang sedang terbaring, ia masih belum sadarkan diri. Kepala Tania terbentur keras karena ulah Alvaro. Ia memang sengaja menabrakkan mobilnya agar Tania berhenti.

Dan ya, terjadi kecelakaan yang membuat Tania belum sadarkan diri. Alvaro menatap jari Tania, sudah ada cincin yang tersemat. Alvaro tersenyum miring, kini Tania sudah menjadi istrinya.

Ia sendiri masih belum menyangka kalau kini ia sudah menikah, walau dengan cara lain dari yang lain.

Kondisi Alvaro tidak kalah parah. Luka tembak diperutnya bisa dikatakan serius, namun ia masih beruntung tidak sampai kehilangan kesadaran. Setelah selesai melakukan operasi, ia langsung menuju ruang rawat inap Tania.

Kondisi Tania kini cukup stabil. Luka parah ia dapatkan dikepala dan tangan, selebihnya hanya lecet-lecet. Namun memang dokter memberikan obat tidur agar Tania bisa lebih beristirahat.

Dokter yang menangani Tania merupakan sahabat Alvaro, jadi ia pasti tau Tania pasti sangat spesial bagi Alvaro. Belum lagi ketika Alvaro bercerita kalau ia baru saja menikah.

"Aku masih tidak habis pikir Alvaro. Bagaimana kau bisa memutuskan menikah?"

Teddy sahabat sekaligus dokter yang menangani Tania datang sambil mengecek kondisi Tania.

"Hanya ingin." jawab Alvaro tersenyum miring.

"Al, pernikahan bukan hal main-main." mungkin Teddy sama brengseknya dengan Alvaro, namun ia tidak akan mempermainkan pernikahan.

Alvaro menatap Teddy.

"Dan siapa perempuaan ini? Aku tidak pernah melihatnya."

"Ia kekasih Kevin."

"Kevin? Kevin adikmu? Bagaimana bisa menikah dengan mu?" tanya Teddy, Alvaro hanya menyeringai.

"Tunggu dulu. Jangan bilang, kau merebutnya. Dan kalau dari ceritamu tadi, pasti wanita ini bermaksud lari darimu bukan." tebakan Teddy sangatlah tepat, membuat Alvaro terkekeh sambil memegang luka diperutnya.

"Apa kau sudah gila Al. Ia kekasih adikmu sendiri."

"Kevin sudah memiliki wanita lain, dan wanita itu sedang mengandung anaknya."

Teddy tidak habis pikir, benar-benar adik kakak yang rumit.

Tiba-tiba pintu ruang inap Tania terbuka, Kevin, Rosa, Andi dan Aina masuk kedalam.

Kevin berlari ke arah ranjang Tania. Ia sangat kaget mendengar kabar Tania dan sang kakak mengalami kecelakaan. Kevin tidak sanggup melihat kondisi Tania.

Selama bersamanya, ia tidak pernah melihat Tania terluka. Tapi kini ketika bersama sang kakak, Tania bisa terluka separah ini.

Tatapan Kevin tertuju pada jari Tania yang tersematkan cincin, dahinya mengernyit, ia menatap Alvaro.

"Apa maksudnya?" tanya Kevin, Seakan mengerti Alvaro menjawab santai.

"Aku sudah menikah dengan Tania, ia sekarang istriku."

"Apa?!" Teriak Rosa dan Aina bersamaan, sedangkan Andi hanya memijat dahinya karena ulah anaknya.

Belum habis rasa kaget karena kecelakaan, kini sudah ada berita pernikahan.

"Yang benar saja Alvaro, kapan kalian menikah?" tanya Rosa, sambil memegang tangan Tania yang belum sadarkan diri.

"Kemarin. Kita berdua memang tidak ingin merepotkan semua orang, jadi pernikahan hanya antar kita berdua saja."

"Kau pasti memaksanya." tuduh Kevin

Alvaro menyeringai, "Kami saling mencintai, bagaimana mungkin aku memaksanya."

"Kau jangan main-main tentang pernikahan Alvaro." ucap Andi.

"Aku tidak main-main, dad. Aku akan menjaga Tania dengan nyawaku sendiri."

🔹️🔹️🔹️🔹️

Tatapan Aina tidak lepas pada Tania yang terbaring.

Bagaimana ini semua bisa jadi serumit ini?

Mengapa Aina dan Tania bisa terjebak dalam permainan Alvaro?

Tania, sahabatnya yang tidak tau menau, harus terseret sejauh ini. Ia terluka, menikah dengan pria yang kejam.

Bagaimana Aina harus meminta maaf.

Tanpa terasa air mata Aina menetes, buru-buru ia menghapusnya. Ia tidak ingin membuat Rosa tambah khawatir.

Aina merasa dicintai oleh kedua orang tua Kevin. Rosa sangat memperhatikannya, apalagi kini ia sedang mengandung. Kevin.

Ia menjadi sedikit dingin kepada Aina, namun masih perhatian apalagi mengenai kandungannya.

Ini adalah hal yang sangat ia inginkan. Dekat dengan pria yang ia cintai, diterima keluarganya diperhatikan. Namun, ada hal yang ia korbankan.

Aina memejamkan matanya, air mata kembali mendesak keluar.

🔹️🔹️🔹️🔹️

Tania perlahan membuka matanya, ia sudah sadar setelah dua hari. Tania merasa badannya sakit luar biasa, seperti tertimpa ribuan ton baja, susah untuk digerakkan

Kepalanya pun pusing. Ia menatap sekeliling, aku dimana?

Apa ini di surga, apa ia sudah mati?

"Kau belum mati."

Tania melirik sudut kanan ruangan, tatapannya bertemu dengan tatapan Alvaro. Tania menghembuskan nafas, ia belum mati.

"Kau masih bernafas sampai detik ini."

Tania menatap Alvaro, ia pun menggunakan pakaian pasien, berarti Alvaro juga terluka. Tania mencoba mencerna dan mengingat yang terjadi.

Ketika ingatan menghantamnya, ia mengangkat tangan kanannya dan benar ia melihat cicin sudah melingkar dijari manisnya.

Ia sungguh sudah menikah dengan Alvaro!

🔹️🔹️🔹️🔹️

Susah payah Tania ingin memakan makanannya, namun tangannya masih sakit. Ditengah usahanya, Alvaro datang.

Ia menyuapkan makanan kehadapan Tania. Tania menatap makanan di depan bibirnya yang sudah disendokkan Alvaro, kemudian ia membuka mulutnya.

Alvaro dengan telaten menyuapi Tania, dalam diam. Bagi Tania sudahlah makanan rumah sakit tidak enak, yg menyuapinya Alvaro, menjadi semakin tidak enak.

Setelah selesai makan, Tania diberi minum lalu dilanjut minum obat. Tania menerimanya karena ingin cepat-cepat Alvaro pergi dari rungan kamarnya.

Harapan tinggal harapan, selesai itu Alvaro justru menuju sisi ranjang Tania.
Ia merangkak naik disisi Tania.

"Kamu ngapain sih Al, sempit."

"Aku mau menemani istriku." Alvaro berucap sambil membawa Tania kedalam dekapannya.

"Al, kamu balik aja sana ke kamar kamu. Kamu juga harus dirawat kan." ucap Tania, namun ia malah nyaman bersandar pada Alvaro.

"Tambakanmu tidak ada apa-apanya, baby."

Tania tersentak, ia ingat kalau luka yang Alvaro dapat karena ulahnya. Alvaro mengeratkan pelukannya, ia menciumi puncak kepala Tania. Tania yang merasa nyaman, mungkin juga mengantuk karena obat yang ia minum, balas memeluk Alvaro menyandaekan kepalanya.

Alvaro mengusap lembut punggung Tania, agar wanita itu tertidur. Perlahan mata Tania mulai berat, rasa kantuk mulai datang.

🔺️🔻🔺️🔻

VOTE COMMENT FOLLOW
❤️💀❤️💀

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Mar 26 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

ImmortalityTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang