TW : ini mengandung pemikiran suicide (kinda).
Ini juga lanjutan flashback nem di chap kmrin yawh
*
Dan kemudian yang terjadi selanjutnya adalah scene-scene yang sudah terjadi di chapter-chapter sebelumnya.
Aku sama sekali tidak berbohong saat berkata bahwa semua hal yang terjadi setelah bertemu Bakugou dan Todoroki bukan bagian dari rencana. Aku hanya tidak mengatakan bahwa aku dengan sadar yang memutuskan untuk mengubah rencana, melangkah maju dan bertemu mereka. Salah satu keputusan impulsifku di kehidupan ini.
Sangat impulsif sampai-sampai aku yang notabene berusaha mencari cara menghindari rasa sakit sebisa mungkin ini malah memilih jalur nekat itu. Bertemu Bakugo dan Todo artinya aku melewatkan jadwal obat aneh itu dan melewatkan obat artinya aku akan tersiksa parah. Sisa sakit dan cedera kemarin itu lebih disebabkan karena cuaca ekstrem di hari itu.
Mungkin memang egois sekali keputusan ini. Mungkin aku berusaha meyakinkan diri sendiri bahwa aku harus menyampaikan pesan langsung ke mereka untuk mendukung rencana finalku. Mungkin aku menipu batinku sendiri dengan berkata 'ini hanya bagian dari rencana'.
Semua kemungkinan itu kemudian kalah dengan rasa legaku saat melihat mereka. Sangat lega. Mungkin aku bisa menangis saat itu kalau saja suasananya mendukung.
Pikirku kala itu, setidaknya 7 menit kilas balik kematianku akan sedikit lega karena aku bisa melihat mereka lagi. Bisa sempat merasakan asrama yang bahkan belum genap setahun kami tempati bersama dan rasanya sudah seperti rumah.
Pikirku kala itu begitu. Aku melakukan ini untuk diriku sendiri. Untuk hidup dan matiku sendiri.
Kacau ternyata wkwk.
Kacau sekali.
Mana sanggup aku bilang bahwa aku mungkin tidak kembali hidup-hidup setelah melihat mata sembab Yaomomo dan Jirou.
Semua yang dikatakan Kaminari benar. Aku egois karena selalu dan akan selalu berkorban untuk mereka. Yang dikatakan Bakugo juga benar. Todoroki juga. Mereka semua benar. Aku memang jahat untuk kebaikan mereka. Tidak salah.
Tapi.. semua itu tidak ada apa-apanya dengan apa yang Uraraka ucapkan di malam itu.
"Kami akan selalu menunggumu. Pedulikan keselamatan dan kebahagiaanmu mulai sekarang."
Aku ingat.
Detik seakan berhenti berdetak kala itu.
Itu hanya kalimat biasa. Seharusnya. Kalimat biasa yang membuatku mempertanyakan jalur hidupku selama ini.
Aku.... Apa yang aku lakukan untuk diriku sendiri selama ini..
Sebelum ke dimensi ini, aku hidup tenang tanpa memikirkan apapun yang berat-berat. Setelah
KAMU SEDANG MEMBACA
𝐑𝐄𝐀𝐒𝐎𝐍 𝐈𝐈
Novela Juvenil[Book II REASON] * °Apa sebenarnya alasanku hidup selama ini° * Berjuang untuk hidup dengan terus menerus mencoba mempertahankan alur asli cerita, (Name) tidak sadar bahwa kehadirannya sendiri sudah...
