Heart on Trial

164 8 2
                                        

Prolog

Seoul, pukul 17.47.

Hujan gerimis turun perlahan, membiaskan cahaya lampu toko kue Boulangerie Han pada kaca yang berkabut.

Jennie Kim tidak menyukai ketidakteraturan. Ia berada di tempat itu bukan karena keinginan menyantap croissant, meski cita rasanya memang nyaris sempurna, melainkan karena jalur tersebut merupakan rute pulang yang telah ia tempuh setiap hari kerja selama dua tahun terakhir. Sebuah kebiasaan yang terukur, hingga seorang remaja laki-laki mematahkannya.

Pada usia tiga puluh satu tahun, Jennie memiliki rambut hitam panjang yang selalu diikat rapi, membingkai wajah dengan proporsi tubuh yang bagus meskipun tinggi badannya hanya 161 cm. Matanya berbentuk indah seperti mata kucing, tajam dan jernih. Pipi chubbynya seharusnya membuatnya tampak lembut, namun raut wajahnya selalu serius dan garang, seolah memberi peringatan agar orang lain tidak mendekat tanpa alasan yang jelas.

"Ya! Berhenti disana!"

Suara pemilik toko menggema, menunjuk seorang pemuda berhoodie abu-abu yang napasnya tersengal. "Kamu kira saya gak nengok kamu mencuri roti, huh?!"

Remaja itu terdiam. Wajahnya basah oleh keringat dan kecemasan, namun ia tidak mengeluarkan sepatah kata pun.

Jennie meletakkan tas kerjanya di atas meja dengan perlahan. Seluruh hidupnya ia dedikasikan untuk memastikan aturan ditegakkan, bahkan untuk perkara sekecil roti senilai tiga ribu lima ratus won.

"Turunkan hoodie kamu. Sekarang," ujarnya datar. Suara itu cukup membuat ruangan menjadi hening seketika.

Anak itu menurut. Dari balik kain hoodie, jatuhlah sebuah choco bun yang masih hangat, penyok pada salah satu sisinya.

Nada bicara Jennie otomatis berubah menjadi nada yang biasa ia gunakan di ruang sidang. "Tidak ada alasan yang dapat membenarkan tindak pencurian menurut Pasal 329 KUHP Korea.

Hukuman maksimal lima tahun penjara. Karena kamu masih di bawah umur, kita dapat membicarakan diversi. Namun, kamu akan memiliki catatan kriminal apabila tidak bersikap jujur saat ini."

Pemilik toko yang sudah familiar karena Jennie menjadi pelanggan setia-nya pun mengangguk puas. "Dengar itu apa kata jaksa Kim!"

Jennie mengabaikan komentar tersebut. Baginya, keadilan harus dimulai dari fakta, bukan dari belas kasihan.

"udah yapping-nya?"

Sebuah suara memotong. Santai, sedikit serak, dan jelas tidak memedulikan siapa yang sedang berbicara.

Jennie menoleh. Di ambang pintu berdiri seorang wanita dengan postur yang langsung mencuri perhatian. Tingginya sekitar 173 cm, dengan bahu lebar yang membuat jas blazer kremnya jatuh rapi tanpa mengurangi kesan santai. Tubuhnya tinggi jenjang, bukan tipikal postur yang umum dijumpai di Seoul.

Rambutnya hitam pekat, dipotong sebahu dengan poni rata yang menutupi dahi, masih basah oleh hujan. Yang paling mencolok adalah matanya-bulat, besar, dan jernih, dengan bulu mata lentik dan tebal yang berkibar setiap kali ia berkedip, menyerupai mata rusa yang waspada namun tidak gentar. Hidungnya mancung tegas dan bibirnya tebal, membentuk garis yang sering kali menyunggingkan senyum setengah yang sulit ditebak. Kulitnya putih bersih, kontras dengan dominasi khas Korea di sekitarnya. Secara keseluruhan, penampilannya tidak menunjukkan bahwa ia berasal dari Korea. Ada campuran Asia dan barat yang kental pada raut wajahnya-rupawan, tegas, dan sulit diabaikan.

Ia berjongkok, memungut choco bun itu, lalu meletakkannya kembali di atas konter. "Satu roti ini berapa?"

"Empat ribu won," jawab pemilik toko dengan bingung.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Jun 01 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Priority No.1Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang