PROLOG
H-7
Keluarga Kim | Selasa, 19.15 WIB
Makan malam keluarga Kim selalu berlangsung presisi. Kim Seonho duduk di kepala meja, Jennie di sebelah kanannya. Sendok tidak beradu dengan piring. Air putih di gelas kristal tidak melewati batas setengah. Menu malam itu: sup bening, salmon panggang, dan topik yang sudah dijadwalkan.
"Kita akan merger dengan Bruschweiler Land," ujar Kim Seonho setelah meletakkan serbet linen ke meja. Nadanya datar, seperti sedang membaca laporan kuartal. "Syarat dari pihak mereka sederhana. Kim Group harus jadi perusahaan keluarga."
Jennie menunda suapan terakhirnya. "Maksud Appa?"
"Kamu menikah." Kim Seonho menatap putri tunggalnya lurus. "Dengan Lalisa Bruschweiler. Usia kalian sama. Sekolah sama. Track record kalian bersih."
Satu detik hening. Lalu dua. Lalu tujuh.
Jennie meletakkan sendoknya perlahan. "Appa, aku nggak mengerti korelasinya. Pernikahan dengan merger?"
Kim Seonho menyandarkan punggung, jari-jarinya bertaut di atas meja. "Dengar baik-baik. Kuartal II 2027 kita IPO gabungan. Valuasi awal 1,4 miliar dolar. Untuk menang proyek tender luar negeri senilai 8 miliar dolar di Timur Tengah, konsorsium kita harus kelihatan stabil secara struktur."
Ia mengetuk meja sekali. "Konsorsium Singapura kemarin gugur karena konflik internal keluarga pendiri. Investor dan sovereign fund asing tidak suka risiko suksesi. Mereka maunya satu hal: kepastian. Pernikahan kalian adalah jaminan hukum bahwa Kim Group dan Bruschweiler Land-dua properti terbesar di Asia-tidak akan saling sikut 20 tahun ke depan."
"Board setuju?" tanya Jennie pelan.
"Board yang mengusulkan," jawab Kim Seonho. "Legal sudah siapkan skema. Saham pribadi kamu dan Lisa akan di-lock 3 tahun. Kalau kalian cerai sebelum IPO, penalty-nya 50% saham lepas ke publik. Perusahaan bisa di-takeover."
Jennie menggenggam serbet di pangkuannya. "Jadi... kalau aku menolak, Kim Group kehilangan tender luar negeri, IPO gagal, dan 12.000 karyawan kita taruhannya?"
Kim Seonho tidak menjawab. Dia tidak perlu. Diamnya adalah jawaban.
Porselen di tangan Jennie tidak bergetar. Sejak usia delapan tahun ia diajarkan:
"Kim Group adalah nama, nama adalah tanggung jawab, tanggung jawab adalah patuh. Membantah berarti cacat budi pekerti. Cacat budi pekerti berarti tidak layak mewarisi."
Jennie menundukkan kepala sedikit, standar hormat yang dia latih sejak kecil. "Baik, Appa."
Suaranya stabil. Hanya buku-buku jarinya yang memutih karena menggenggam serbet terlalu kuat.
Di dalam kepala, kalimatnya lain: Ini gila. Pernikahan bukan pasal tambahan di MoU!
Kim Seonho mengangguk puas. "Pengacara akan urus sisanya. Kamu fokus sekolah dan jaga reputasi. Cincin bisa dilepas di sekolah. Di depan publik, kalian tetap Kim dan Bruschweiler. Di akta, kalian Kim-Bruschweiler. Satu lagi. Kalian tinggal di penthouse SCBD, bisa memakai kamar terpisah. Itu bagian dari kontrak."
"Ya, appa. Aku udah selesai makan malamnya." tutup Jennie pelan, lalu berdiri, membungkuk, dan berjalan ke kamar. Punggungnya tegak. Kamarnya dingin. Air matanya tidak ikut keluar. Belum.
Sementara dilain sisi,
Keluarga Bruschweiler | Selasa, 20.40 WIB
Di rumah Marco Bruschweiler, makan malam bukan acara formal. Lebih mirip nongkrong di sports bar. Marco dan Lisa duduk berhadapan, sama-sama pakai kaus, kaki selonjoran ke kursi sebelah. Di meja ada steak medium rare, keranjang fries, dan satu unit iPad yang muter highlight NBA. Marco memang menerapkan gaya barat ke Lisa sejak kecil: panggil nama, tos kalau setuju, debat terbuka, nggak ada aturan harus diam kalau orang tua bicara.
