Setelah Bintang membenarkan dugaan Alea — bahwa dia, memang sengaja mengajak perempuan itu pulang bersama, atmosfer di antara keduanya tidak membaik. Baik Bintang maupun Alea sama-sama diam, seolah tidak tahu bagaimana harus bersikap setelah mengalami kejadian menakjubkan semacam itu.
"Lo mau pake helm?" ajakan pulang bersama Bintang benar-benar terjadi. Meski diliputi kecanggungan, mereka berhasil sampai ke tempat parkir.
Alea menggeleng. "Nggak perlu, Bang. Aman." Jawab Alea.
Tempat tinggalnya tidak begitu jauh, dan dia rasa baik-baik saja jika tidak menggunakan helm. Bukan karena Alea berniat melanggar peraturan lalu lintas, tetapi karena laki-laki di sebelahnya hanya membawa satu helm — yang jika digunakannya, maka berarti laki-laki itu tidak akan menggunakannya. Dan Alea rasa, Bintang jauh lebih membutuhkan dari pada dirinya. Apalagi model helmnya juga terlalu mainly menurutnya, dan tidak akan cocok dengan kepala kecilnya itu.
Bintang mengangguk tanpa bertanya lebih. Lalu mengeluarkan motornya dari barisan tempat parkir.
Alea tidak cukup acuh untuk tidak menyadari bahwa dia dan Bintang sedang menjadi pusat perhatian bagi beberapa orang. Keduanya adalah subjek yang cukup dikenal dengan predikat 'kurang baik' dengan gosipnya masing-masing, dan kini tiba-tiba terlihat bersama. Mereka semua pasti penasaran mengapa keduanya bisa saling mengenal, bahkan cukup akrab hingga pulang bersama.
Bintang menyadari gelagat Alea. Dia sendiri — meski terkesan acuh, juga bukan orang yang tidak tahu kabar yang berkembang di luar sana. Dia tahu betul apa yang dipikirkan perempuan yang diajaknya pulang, makanya cepat-cepat mengambil motornya agar keduanya bisa terbebas dari tatapan penasaran orang.
"Jangan terlalu dipikirin, Le." Satu kalimat itu adalah kalimat pertama yang diucapkan Bintang.
Alea sedikit mencondongkan badannya ke depan, lalu menjawab. "Nggak kok, Bang. Lagian udah biasa."
Menjadi bahan pembicaraan orang di kampus bukan hal yang baru bagi Alea. Sejak gosip dirinya menjual diri beredar, berbagai omongan buruk dan tatapan sinis sering dia alami. Awalnya memang terasa berat, tapi lambat laun dia mulai terbiasa hingga tak pernah benar-benar menganggapnya, sebagai hal yang serius.
"Lo juga, Bang. Jangan terlalu diambil pusing." Alea mengembalikan kalimat yang sama kepada Bintang. Meminta laki-laki itu untuk mengabaikan omongan orang lain terhadapnya.
Dari balik kaca spion sepeda motor, Alea bisa melihat Bintang terkekeh. Dia sempat tertegun sebentar, sebab laki-laki yang sedang mengemudi ini mendadak terlihat sangat tampan ketika sedang tersenyum.
"Gue gak perduli sama mereka, Le. Apapun yang mereka pikiran soal gue, gak pernah gue anggap serius." Bintang sama tidak pedulinya dengan Alea untuk hal ini. Apalagi dia laki-laki, rasa cueknya jauh lebih besar dibandingkan dengan Alea.
Apapun gosip tentang dirinya, mulai dari dia yang bertato, anggota geng, bahkan hingga pelaku bisnis ilegal — semuanya dia tahu. Dia tidak peduli, dan tidak perlu repot untuk menjelaskan semua itu pada orang lain. Pada dasarnya dia bukan orang yang peduli dengan anggapan orang, tetapi anehnya kali ini dia ingin menjelaskan. Dia tidak ingin disalahpahami oleh Alea, entah untuk alasan apa.
"Lo percaya soal gosip di luar sana soal gue, La?" sebenarnya pembicaraan ini cukup sedikit lucu. Keduanya tidak bisa dibilang akrab, tetapi obrolan yang dibahas justru terlalu personal untuk dua orang yang baru saling mengenal.
Diam-diam Bintang melirik Alea. Dia ingin tahu apa yang dipikirkan perempuan itu terhadapnya, dan banyak berharap bahwa Alea akan memandangnya sebagai laki-laki yang baik.
"Menurut gue lo nggak kaya apa yang diomongin orang soal lo." Bintang menahan senyumnya. "Sejak pertama kali kenal lo, gue tau lo orang baik, Bang."
Alea kembali mengingat pertemuan pertama mereka. Bintang menolongnya, menyelamatkannya dari sesuatu yang sangat buruk.
"Mungkin mereka nggak kenal lo aja, dan lo juga cukup tertutup sampai gampang untuk disalahpahami. "
Tidak peduli apa pendapat orang lain, tapi ternyata Bintang cukup peduli dengan pendapat Alea. "Lo juga, Le."
Tiba-tiba keduanya diam, membuat suasana menjadi tiba-tiba — terasa tidak biasa. "Lo juga orang baik, dan gue percaya semua hal yang beredar di luar sana cuma gosip semata. "
Setelah berhasil mengendalikan ekspresinya, Alea berujar. "Emangnya lo tau gosip soal gue di luar sana? " rasa penasaran Alea naik. Biasanya dia tak membahas hal ini dengan orang lain, tetapi sekarang dia justru membahasnya dengan Bintang.
Bintang diam, sungkan untuk mengatakan secara gamblang jawaban atas pertanyaan Alea. " Sorry, gosip lo soal jual diri itu," jawabnya pelan.
Alea terkekeh, "Kata siapa yang itu gosip, Bang?"
Bintang mengerem mendadak. Membuat Alea di belakangnya yang tidak siap sedikit terdorong ke depan, hingga tak sengaja membuat kedua payudaranya mengenai punggung Bintang.
KAMU SEDANG MEMBACA
Aleandra
Romance"Ya, open BO nggak?" Gila! Alea hampir melempari laki-laki yang barusan berbicara itu dengan buku cetak setebal 350 lembar lebih yang ada di tangan kanannya. Bagaimana bisa mulutnya begitu lancar mengatakan hal menjijikan seperti itu pada perempuan...
