“Stefan, sepertinya ada suatu rahasia disini.”
Stefan menatap Yuki penuh keheranan. Apa maksud gadis ini, rahasia? apa maksdunya terdapat sebuah rahasia yang berhubungan dengan makam ibu dan pamannya ini.
“Rahasia?” Stefan menyeruakan kebingungannya. Yuki mengangguk kecil, sesekali membasahi bibirnya menandakan bahwa gadis itu tengah berpikir keras.
“Boleh aku tau, mengapa ibumu meninggal” tanya Yuki ragu. Ia menatap Stefan,menunggu reaksi lelaki itu.
“aku tak tahu Yuki. tapi sepertinya tak ada hal aneh dari kematian ibuku. Hanya saja, menjelang kematiannya ia sering menderita sesak nafas.”
“Bagaimana dengan pamanmu?”
“Ia bunuh diri.”
Yuki membelalak tak percaya? Bunuh diri? apa yang menyebabkan raja itu bunuh diri. Bukankah kekuasaan dan segalanya telah ia miliki.
“tapi sepertinya, Max memiliki pendapatnya sendiri.”
Yuki berbalik menatap Stefan. Tapi lelaki itu seolah tenggelam dalam pemikirannya sendiri. Yuki dapat melihat jelas ada ketegangan dan emosi yang terlibat didalamnya.
“Ia mengatakan ayahku yang membunuh ayahnya. Kau tau, naiknya ayahku sebagai raja Zafasura yang mendasari pemikiran kotornya itu”.
Yuki mengelus pundak Stefan pelan, mencoba menenangkan suaminya itu.
Stefan berbalik, tersenyum singkat saat matanya menangkap mata Yuki.
“Jadi itu sebabnya kau menolak aku berdekatan dengan Max.”
“Tidak. Bukan itu.”
“Lalu?”
Stefan tak langsung menjawab, ia menarik Yuki membuat gadis itu sedikit kegalapan.Tangannya kini bertaut indah pada pinggan istrinya. yuki kini dapat merasakan jelas bagaimana nafas Stefan yang menyapu wajahnya.
“Semua itu tak ada hubungannya, yuki.”
“Jadi, apa yang membuatmu seperti anjing kepalaran ketika melihatku berdekatan dengan Max?”
Yuki tak dapat menahan tawanya saat menangkap sembruat merah pada pipi stefan. Lelaki itu terlihat kebingungan menghadapi pertanyaan Yuki. tentu saja Yuki menikmati hal itu. ini lebih dianggapnya sebagai pembalasannya atas tingkah Stefan yang selalu membuatnya berdebar.
“Kau tau ini adalah yang pertama untukku.”
“Maksudmu?”
CUP
Dengan lembut Stefan mengecup bibir Yuki. Yuki membulatkan matanya, sedikit terkejut dengan apa yang Stefan lakukan. Detik berikutnya ia berusaha melepas ciuman itu. tapi sepertinya stefan berpikir lain. Ia malah memegang tangan Yuki memaksa gadis itu agar meletakan tangannya pada dada bidangnya. Yuki tersenyum kecil, tepat saat urat-urat jarinya itu dapat merasakan bagaimana jantung Stefan yang berdebar keras sama seperti dirinya.
“Ini pertama kalinya aku begitu menginginkan seorang gadis, ingin memilikinya dan tak pernah ingin ada lelaki lain yang menyentuhnya.”
“Apa itu bisa kusebut sebagai cemburu?”
“Aku tak ingin punya perasaan sedangkal itu.”
“Tapi kau memilikinya sekarang.”
“Mungkin seperti itu.”
Seperti beribu kupu-kupu berada dalam perutnya. Yuki seperti melayang kembali. Kakinya bahkan sulit menopang tubuhnya, jika saja Stefan tak memegang pinggangnya.
Lelaki itu kembali memciumnya. Memcumbunya dalam, Yuki yakin wajahnya kali ini sudah sangat memerah. Perlahan ia mulai membalas ciuman Stefan. Semua tak akan berarti jika hanya Stefan yang berperan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Kiss or Death
Fanfiction"A dan Mora. Kau adalah A, orang yang membutuhkan, dan Yuki adalah Mora orang yang dibutuhkan. Karena kau di hidupkan dengan darah Yuki, kau akan selalu bergantung padanya. Dalam dirimu ada darahnya, dan itu akan berlaku untuk selamanya" membutuhkan...
