19.

3.2K 259 6
                                        

"Untuk sementara ini, kita tak boleh berciuman Stefan. Sesuatu yang buruk bisa terjadi jika kita melanggarnya."

Yuki melihat itu dengan jelas. Bagaimana terkejutnya Stefan setelah mendengar penuturannya. Yuki memberanikan diri menatap mata Stefan. Mata yang selalu memberikan ketenangan untuknya disana. Namun kini mata itu terlihat sedikit berbeda. kegelisahan, kecewa dan rasa khawatir lebih menggambarkan keadaan mata indahnya itu sekarang.

Stefan sendiri terlihat belum bisa menguasai dirinya. Belum cukup penjelasan yang harus ia dapat tentang keadaannya yang terbaring lemah seperti ini. Kini ia mendapat fakta baru. Fakta yang jelas sama sekali tak pernah ia inginkan, atau bahkan pikirkan.

Tangannya berusaha meraih tubuh Yuki. Ia sadar tangannya bergetar saat menyentuh lembut rambut Yuki. Stefan mulai memejamkan matanya. Ia sangat menikmati ketika jemarinya ini dapat menyentuh Yuki. Lalu apa yang tadi gadis itu katakan? Tubuhnya menolak Yuki? yang benar saja. bahkan Stefan tak pernah merasa cukup jika itu berhubungan dengan Yuki.

"Ma.. maafkan aku Stefan."

Stefan membuka matanya cepat, terkejut saat mendapati gadisnya terisak dalam diam. Tanpa berpikir panjang Stefan merengkuh tubuh rapuh Yuki. Seolah memberikan gadis itu perlindungan, seperti sebelum-sebelumnya.

"Maaf.. semua ini salahku Stefan, jika saja aku dapat mencegah Max..." Yuki kembali terisak, ia tak mampu melanjutkan kalimatnya. Bahkan memikirkan bagaimana Max menciumnya didepan Stefan saja sudah membuat hatinya hancur. Dan kini di tambah lelakinya menjadi menderita karena peristiwa itu. jika bisa, Yuki ingin mengembalikan waktu dan semua ini tidak perlu terjadi sekarang.

"Kau tak salah sayang, aku melihat kau mendorong Max saat ia menciummu, dan kurasa itu membuatku senang."

Yuki sejenak lupa akan tangisannya, ia memilih membalas tatapan Stefan yang menatapnya lembut. lelaki itu menyelipkan sebelah tangannya pada pinggang Yuki,mengusapnya pelan. Memberikan sedikit rasa geli pada daerah sensitif gadis itu.

Wajah Yuki memerah, takkala mendapati Stefan yang semakin menatapnya dalam, seolah mata itu hanya dapat terfokus pada dirinya. Stefan tersenyum manis. Sangat manis, hingga membuat Yuki seolah terhipnotis akan pemilik senyum itu.

"Kau tak bertanya?"

Yuki mengerutkan keningnya bingung, membuat Stefan menahan kegemasannya untuk tidak mengecup pipi gadis itu.

"Alasan dari perkataanku tadi?"

Yuki teringat. Tadi stefan mengatakan ada satu point dalam kejadian mengerikan itu yang membuat lelaki itu senang. Tapi apa?

"Karena dari situ, aku yakin bahwa kau benar mencintaiku, dan hatimu memang sepenuhnya milliku."

Stefan dan Yuki kini bertatapan dalam jarak yang dekat. Stefan menampilkan senyum nakalnya takkala mendapati sembruat merah pada pipi istrinya. Dengan lembut bahkan sangat lembut Stefan mengecup pipi Yuki.

Yuki menutup mata, terlihat sedikit gerakan gelisah pada lentikan mata gadis itu. ia takut jika stefan menyentuhnya kejadian tadi akan terluang lagi. Terlalu menyakitkan jika ia harus melihat kejadian yang sama sekali lagi.

"Lihatlah, bahkan tak ada satupun yang kau katakan itu benar Yuki."

Yuki membuka matanya, melihat wajah stefan yang sangat dekat dengan wajahnya.

"Tapi..."

"Bisahkah aku membuktikan hal itu?"

Yuki menatap Stefan dalam, ia takut jika Stefan terluka lagi jika mencium bibirnya.Bukankah tadi Nina sudah mengingatkan bahwa ia dan Stefan tak boleh berciuman sebelum Nina menemukan jawaban dari teka-teki mengerikan ini.

Kiss or DeathCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang