16.

3.5K 295 4
                                        

"Sekarang aku tau, siapa matahari dan siapa bulan."

Yuki berjalan dengan langkah pasti menuju Rizky dan Nina. Stefan mengikuti tepat dibelakang gadis itu.

"Apa ada sesuatu yang kau dapat disana?"

"Ia, dan menurutku ini dapat kita jadikan kunci."

Nina menatap Rizky sejenak. Mengangguk pelan, lalu kembali memfokuskan pandangannya pada Yuki.

"Katakan.."

"Ratu Meyriska, aku menemukan apa yang kita cari kak. Lambang matahari itu jelas ada disana."

"Berarti jelas, Ratu Meyriska, yang menjadi mataharinya."

Rizky menatap Stefan sejenak. Pemuda itu nampak diam, Stefan seolah sedang memikirkan sesuatu. Sesuatu dimasa lalunya, yang mengingatkan dia akan hal ini. Entalah, sesuatu yang mungkin sudah lama ia lupakan.

"Sepertinya ini milik ibumu."

Stefan mendongak, menatap Rizky yang tengah menyodorkan buku tua Amozura itu. dengan ragu Stefan mengulurkan tangannya mengambil benda itu. terlihat jelas tanda tanya besar dari mata pemuda itu.

"jika benar ibumu adalah matahari dalam Amora, dapat dipastikan jika dialah yang menulis buku ini."

Stefan membuka buku itu sejenak. Membolak-balik sebentar. Lalu menutup buku itu kembali.

"Lalu jika ibuku adalah matahari dalam Amora, mengapa paman yang menjadi bulan, bukan ayah?"

Nina sedikit tersentak kaget. Ia menangkap sesuatu yang lain disini? Ia tahu jika Ratu Meyriska mengambil tempat sebagai matahari. Makam dan buku ini sudah membuktikan segalanya. Namun, jika Raja Crish. Bulan? Apa ada sesuatu yang ditemukan disini? Nina mengalihkan pandangannya menatap Yuki. meminta penjelasan lengkap atas pertanyaan yang berisi pernyataan aneh itu.

"Kami menemukan lambang bulan pada makam Raja Crish. Dia adalah Bulan dalam Amora."

"Rizky apa kau bisa baca beberapa baris dalam buku itu lagi."

Rizky mengangguk kecil. Meminta buku itu pada Stefan lalu dengan cepat membuka buku itu pada lembar-lembar awal.

"Takdir tak bisa menutup selamanya. Penyatuan darah yang menyatu membuat kami terikat dalam sebuah hal yang tak boleh dilakukan. Hanya karena aku Matahari dan dia Bulan dalam Amora. Kami harus terikat dan menutupi segalanya."

Rizky terdiam sejenak, lalu membalik halaman selanjutnya.

"Kini takdir dapat tertawa puas. Semuanya sudah terbongkar. Tapi aku tak bisa berbuat banyak. Bulan membutuhkan matahari, dan itu akan berlaku terus jika cahaya bulan tak meredup atau bahkan mati."

Rizky menghentikan bacaannya, menatap semuanya bergantian. Lalu membuka halaman selanjutnya.

"Sepertinya ini halaman terakhir untuk riwayat hidupnya."

"Bacakan."

"Akhirnya bulan melepaskan diri. Amora tak lagi bersatu. Karena darah sudah diputus."

Rizky menutup buku itu sepelan mungkin. Mencoba tak mengacau keheningan yang ada. Semua terdiam, mencoba menafsirkan semuanya sejauh yang mereka bisa.

Terlalu banyak kata yang tersirat, yang bahkan sulit diterima nalar.

"Apa kalian dapat menemukan sesuatu?"
Nina mulai membuka suara. Pandangan menatap semua bergantian. Setelah beberapa detik tak mendapat respon, gadis itu kembali bersuara.

Kiss or DeathCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang