“A..apakah aku bisa menggantikan Stefan dan Yuki untuk mengikuti kalian.”
Kehadiran Nasya berhasil membuat semua yang ada disitu terdiam. Gadis kembali menampilkan senyum manisnya. Nasya menarik nafasnya pelan, lalu melangkahkan kakinya ke samping Max. Max sendiri menatap sahabatnya itu bingung. Ia seperti merasa Nasya sedang merencanakan sesuatu. Hanya saja, Max tak tau seperti apa rencana yang ada dipikiran gadis itu.
“Ehem… jadi apa aku boleh ikut?” Nasya kembali bertanya, kali ini tersirat sedikit nada memohon didalamnya.
Nina mengerutkan keningnya. Jujur, sejak pertama melihat Nasya, Nina sudah mencap gadis itu sebagai salah satu sosok yang ia benci. Semua itu karena sikap antipati yang selalu Nasya berikan pada dirinya dan Yuki. Dan ia juga sangat tahu bagaimana kebencian Nasya karena kehadiran Yuki ditengah hubungannya dan Stefan. Pantaskan, jika sekarang Nina pantas memberikan perasaan curiganya pada gadis bercelemek itu.
“Sepertinya akan ada badai besar sebentar lagi.” sindir Nina sambil menatap sinis Nasya. Nasya sendiri malah tersenyum manis, membuat Nina ingin sekali mencakar wajah gadis itu. Kalau saja Rizky tak menahan tangannya erat sekarang.
“Aku rasa kau tak perlu mengikuti mereka Nasya.” ucap Stefan tegas dan terkesan dingin.
“Apa ada alasan yang dapat kudengar dari penolakan itu Stefan.” ucap Nasya pelan ia menatap semuanya bergantian, dan menjatuhkan pandangannya lama pada Stefan. Menunggu jawaban lelaki itu lebih lanjut.
“Aku akan menjawab jika kau memberikan alasan tepat atas permintaanmu untuk mengikuti perjalanan kami ini.” ucap Stefan, sembari memberikan tatapan tajamnya pada Nasya.
Stefan sebenarnya sama sekali tak ingin memberikan sikap seperti ini pada Nasya. Bagaimapun juga, Nasya adalah gadis yang ia sayangi. Gadis yang menjadi sahabatnya sejak kecil. Gadis yang selalu mendampinginya kapanpun ia butuhkan. Tapi mengingat sikap buruk Nasya selama beberapa saat ini, Stefan tak dapat menghindari rasa curiganya pada gadis itu. Yang jelas, apapun itu Stefan tak akan membiarkan Nasya kembali menyakiti Yuki, tak akan.
Nasya sendiri jelas terlihat kebingungan menjawab pertanyaan Stefan. Jika ia salah saja mengatakan sesuatu rencanya bisa saja terbongkar, dan ia tak ingin melepaskan kesempatan untuk menyingkirkan Yuki yang sudah didepan mata ini, tidak akan.
“A..apa salah, aku menolong sahabatku?” ucap Nasya selirih mungkin. Ia menunduk, mencoba mengatur emosinya sebaik mungkin.
Semua terdiam mendengar jawaban Nasya. Huftt… memang merekalah yang terlalu berpikiran buruk tentang gadis itu. nasya masih sama seperti dulu, Nasya lembut yang selalu membantu siapa saja. Tak ada yang salah jika Nasya meminta untuk ikut, toh Nasya adalah sahabat Stefan dan Yuki. jadi menolong mereka mungkin juga merupakan salah satu bagian dari tugasnya.
“Maaf Nasya karena sikap kami sebelumnya, terima kasih sudah bersedia membantu.” ucap Yuki lembut memecah keheningan. Gadis itu tersenyum manis memandang Nasya. Nasya sendiri tak segan membalasnya. Tapi entah mengapa hatinya terasa ganjil. Kenapa Yuki bisa sebaik itu? kenapa ia harus membenci gadis sebaik Yuki?
“Ehh.. tapi..”
“sudah kak, Nasya kan bermaksud baik, jadi untuk apa kita tolak.”
“Ia sayang, lagipula Nasya bisa membantu menyiapkan makanan kan?” ucap Rizky sambil menatap kekasihnya penuh pengertian.
“Nasya. Kau boleh ikut bersama kami. Bagaimana Stefan?” tanya Max pada sepupunya. Stefan masih terdiam, sedetik kemudian ia sudah tersenyum lembut.
“Terima kasih Nasya.” ucap Stefan lembut, membuat Nasya bernafas lega.
Ya... setidaknya ini akan menjadi awal yang baik untuk menjalankan rencananya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Kiss or Death
Fanfiction"A dan Mora. Kau adalah A, orang yang membutuhkan, dan Yuki adalah Mora orang yang dibutuhkan. Karena kau di hidupkan dengan darah Yuki, kau akan selalu bergantung padanya. Dalam dirimu ada darahnya, dan itu akan berlaku untuk selamanya" membutuhkan...
