Kiara's POV
KIARA!!!!
KIARA!!!!!!!
KIARA!!!!!!!!!!
Teriakan itu terdengar lagi.
Aku takut.
Sepertinya ayahku sudah pulang.
Apa dia akan memukuliku lagi?
Aku takut.
Aku bahkan tak berhenti menggigil.
Sejak kematian ibu, ayah menjadi beringas dan berubah menjadi seorang yang suka memukuliku.
Kadang aku tak dibiarkan makan,
Sampai aku harus meminta bekas makanan yang ada di restauran dekat rumah.
"KIARA!!! JANGAN BERSEMBUNYI! CEPAT KELUAR!"
Teriakan itu semakin keras,
Dan terdengar bunyi derap langkah menuju kamar tidurku.
Aku takut.
Aku meringkuk memasuki lemari pakaian dan mengurung diriku disana.
Brukk....
Terdengar bunyi pintu yang di dobrak.
Brukkk.
Bunyi itu semakin keras,
Sepertinya ayahku mendobrak pintu itu semakin keras.
Hingga terdengar bunyi dentuman yang keras.
Sepertinya pintu kamarku sudah terbuka akibat dobrakan dari ayahku.
"KIARA! DIMANA KAMU?!"
Aku menggigil mendengar suaranya yang semakin keras.
Terdengar bunyi pintu yang dibanting.
Sepertinya dia mencariku ke kamar mandi.
Aku meringkuk didalam lemari.
Terisak sambil menutup mulutku, menghindari suaruku yang akan terdengar keluar.
Aku berharap dia tidak menemukanku.
"KIARA! AKU TAU KAU BERSEMBUNYI DI DALAM LEMARI! CEPAT KELUAR!"
Aku semakin memeluk erat kedua kakiku.
Aku tak ingin keluar, aku tak ingin kembali di siksa.
Aku tak ingin dipukuli.
Terdengar bunyi derap langkah menuju kearahku.
Hingga akhirnya pintu lemari terbuka lebar dan terlihat sosok ayahku berdiri dengan muka memerah dan sorot mata dingin menatapku.
Dia menjambak rambutku dan menarikku keluar.
Aku mengaduh kesakitan.
Kulit kepalaku terasa sakit karena rambut panjangku ditarik oleh tangan kekarnya.
Di memojokkanku ke tepi kasur dan menampar mukaku.
Aku tertunduk sambil terisak.
Dia kembali menjambak rambutku hingga wajahku terdongak menatapnya.
"DASAR ANAK PEMBAWA SIAL!"
Dia kembali menamparku.
Hingga darah segar menetes dari bibirku.
"ANDAI SAJA LUNA TAK MENYELAMATKANMU, PASTI KINI DIA MASIH BERADA DI SISIKU.
KAU! KAU YANG MEMBUATNYA TERBUNUH!"
Dia menendang tubuhku yang meringkuk.
"Cepat buatkan aku makan malam."
Dia melangkah pergi meninggalkanku.
Aku mengaduh kesakitan sambil terisak.
Sudah sebulan aku diperlakukan layaknya binatang.
Untungnya ayahku tidak pernah memperkosaku.
Jika dia juga melakukan hal tersebut mungkin satu-satunya jalan yang akan kulakukan adalah meninggalkan dunia ini.
Aku lelah akan semua ini.
Mulanya kehidupan kami sangat bahagia,
Aku merasa sangat beruntung memiliki kedua orang tua angkat yang sangat baik.
Ya, aku adalah anak angkat.
Aku di angkat dari sebuah panti asuhan jauh di luar kota.
Bahkan yang meninggalkanku di panti asuhan adalah orang tuaku sendiri, lebih tepatnya adalah ayah kandungku sendiri.
Flashback ON
"Kiara harus ikut aku!."
Suara ayahku kembali mengeras.
"Tidak, Kiara masih kecil jadi dia harus ikut aku."
Ibuku tak mau kalah dan ikut mengeraskan suaranya.
"Tapi kau tidak akan bisa membesarkan dua anak sekaligus!"
"Aku bisa!"
Aku dan saudara kembarku bersembunyi di bawah meja mendengarkan perdebatan orang tuaku dengan rasa takut yang memuncak.
Terdengar kembali teriakan ayahku.
"Pokoknya aku yang membawa Kiara, dan kau yang membawa Kinara!."
"Tapi aku tak bisa berpisah dengan Kiara, dia anakku."
KAMU SEDANG MEMBACA
The Wind Blows
Romanzi rosa / ChickLitWaktu kecil orang tua kandungku meninggalkanku di panti asuhan. Hingga akhirnya aku diangkat oleh sepasang suami istri. Mulanya hidupku sangat bahagia. Mereka menyekolahkanku, Mereka memberikanku fasilitas yang memadai, Aku merasa di sayangi. Hingga...
