Angelo's POV
Aku kembali meneguk anggur dari gelasku,
Rasanya emosiku memuncak hingga ke puncak kepalaku.
Kutatap dirinya yang tepat berada di sampingku tengah tertidur.
Perjalanan ke Korea memang memakan waktu yang panjang, dan sepertinya dia sudah tidak kuat untuk terus menunduk dan memperhatikan kedua jarinya yang terus menari asal.
Terdengar dengkuran halus yang seirama dengan detak jantungnya.
Kutatap wajahnya yang nampak lelah dan terlihat bulir-bulir air mata di sudut matanya.
Aku tak habis pikir dengan pikiran gadis ini,
Apakah dia tidak sadar bahwa dirinya tak pantas bersanding denganku?
Dan dia masih mengharapkan aku benar-benar menikahinya untuk selamanya dan belajar mencintainya?
Jangan bermimpi terlalu tinggi, karena dia tak lebih dari seonggok uang seharga 1 Milyar dolar.
Aku kembali mendengus kesal dan meneguk anggur dari gelasku, seolah tak percaya dengan kalimat yang barusan di lontarkannya.
Ya,ya,ya, aku juga tidak akan menjadikannya istriku kalau bukan karena ulah kakekku.
Bahkan aku akan segera mencoret namanya dari daftar calon istriku karena dia bukan salah satu calon ideal buatku.
Tiba-tiba terasa sesuatu yang berat bertumpu pada pundakku.
Kotolehkan kepalaku tepat kesamping dan terlihat dirinya yang tengah bersandar pada pundakku.
Demi apapun juga, seumur hidupku tak pernah ada wanita yang berani tertidur di pundakku dan hari ini dia berani melakukan itu.
Aku menepis kepalanya cukup keras hingga dia menjauh dari pundakku.
Kupikir dia akan terbangun, tapi nyatanya dia tetap tidur seperti bayi.
Entah mengapa seulas senyum terukir di bibirku.
Gadis aneh, dia bahkan tak peka dengan keadaan sekitarnya.
Aku kembali meneguk anggur dari gelasku dan mengedarkan pandangan keseisi pesawat.
Ternyata aku baru sadar bahwa kami cuma berdua di dalam kabin ini.
Kembali ketengok kesebelahku dan terlihat dia yang nampak jatuh bangun ingin mencari tumpuan agar bisa tidur dengan nyenyak.
Aku memandanginya cukup lama sampai seulas senyum kembali terukir di bibirku ketika dia terus saja terombang ambing akibat pesawat yang bergetar dan dia bahkan tak merasa terganggu hingga dapat bertahan tidur tanpa sekalipun menunjukkan wajah yang kesusahan.
Mataku kian memberat dan kepalaku kian memusing, tak terasa kelopak mataku mulai menutup dan aku terlelap.
☆☆☆☆☆
Author's POV
Pria tua itu nampak menegak minumannya berkali-kali, dia sangat kesal dan berulang kali memukulkan tangannya yang terkepal ke meja bar.
"Sialan, kemana dia membawa uangku pergi?"
Terlihat seorang lelaki muda yang nampak mendekatinya.
Dan menepuk pundaknya pelan.
"Aku bahkan tak membawa uangmu kemana-mana, jangan kesal seperti itu."
Pria tua itu lekas berdiri dan mencengkram erat kerah baju lelaki muda itu.
"Kau tak bisa di hubungi, kemana saja kau?"
"Hei, lepaskan tanganmu atau aku akan benar-benar membawa kabur uang itu."
Lelaki muda itu nampak tersenyum licik kearah pria tua itu.
Pria tua itu nampak mendengus kesal dan dengan enggan melepaskan cengkramannya pada kerah lelaki muda itu.
"Santai, aku tidak akan membawa kabur uangmu. Sesuai kesepakatan, aku mendapatkan bagianku dan kamu mendapatkan bagianmu. Aku cukup terkejut, ternyata putrimu memiliki harga yang begitu mahal. Bahkan dia menjadi keuntungan terbesar dalam 10 tahun aku melakukan bisnis ini."
KAMU SEDANG MEMBACA
The Wind Blows
Genç Kız EdebiyatıWaktu kecil orang tua kandungku meninggalkanku di panti asuhan. Hingga akhirnya aku diangkat oleh sepasang suami istri. Mulanya hidupku sangat bahagia. Mereka menyekolahkanku, Mereka memberikanku fasilitas yang memadai, Aku merasa di sayangi. Hingga...
