Kiara's POV
Walau jariku terasa perih tapi tidak bisa mengalahkan perihnya hatiku saat melihat Mevil yang menatap wanita itu dengan wajah yang melembut.
Jujur, Mevil tidak pernah menatap mataku dengan tatapan selembut itu, perasaan iri hati muncul kepermukaan.
Sorot matanya seakan menyampaikan bahwa dia merindukan wanita itu.
Apakah benar mereka adalah wanita yang sama?
Aku melihat wanita itu menatap Mevil dengan tampang kebingungan.
"Kau mengingatku?" Mevil kembali mengulangi pertanyaannya.
"Hei yah, aku pasti mengingatmu. Bagaimana mungkin aku melupakanmu?" Pria yang berada di samping wanita itu menjawab dengan senyum lebarnya.
"Aku tidak bertanya padamu, aku bertanya pada wanita ini." Mevil nampak mengabaikan pria itu dan menatap wanita itu dengan serius.
"Hei, mengapa kau berpikir pacarku bisa mengenalmu?" Pria itu nampak menanggapi Mevil masih dengan wajahnya yang tersenyum.
Tiba-tiba wanita itu nampak tersenyum dan mendekati Mevil.
"Maaf, aku tidak mengenalmu. Tapi kita bisa berkenalan sekarang." Wanita itu nampak mengulurkan tangannya ke arah Mevil.
Mevil menatap tangan wanita itu sebelum mengulurkan tangannya ke arah wanita itu.
"Angelo Mevil Armstrong, panggil saja Angelo"
"Suzy Christya Alexandra, panggil saja Christy"
Mevil nampak terdiam menatap wanita itu bahkan tidak melepaskan jabat tangan yang terjadi di antara keduanya.
"Hei,hei,hei, kenapa kau malah menggenggam tangan pacarku selama itu? Lepaskan,lepaskan." Pria yang sejak tadi berada di dekat wanita bernama Christy itu nampak melepaskan jabat tangan di antara mereka.
"Hmmm, Suzy Christya Alexandra." Mevil nampak kembali mengulangi nama wanita itu.
"Iya, ada apa?" Wanita itu nampak menatap Mevil dengan matanya yang bulat.
"Tidak apa, namamu familiar di benakku." Jawab Mevil sambil tersenyum singkat.
"Dan wanita yang cantik ini siapa? Dari tadi dia hanya diam di sana." Pria itu mulai bertanya ke arahku dengan senyuman hangat ke arahku.
"Oh iya, perkenalkan. Ini istriku. Panggil saja Kinara. Kinara, perkenalkan ini Archangel, adik angkatku." Mevil mulai memperkenalkan diriku.
Aku tersenyum ke arah pria bernama Archangel itu dan mengangguk kepada wanita bernama Christy yang menatapku dengan hangat.
"Maaf, Kinara adalah seorang tunarungu dan tunawicara, jadi dia tidak bisa menjawab semua perkataanmu." Kakek Angelo mulai menjelaskan.
"Ah iya, tidak apa-apa. Saya tau, sebenarnya saya salah satu penggemar berat anda." Archangel nampak tersenyum lebar ke arahku.
"Oh ya? Kau salah satu penggemar Kinara?" Tanya Mevil dengan mata yang menyipit.
"Ya, aku suka semua lukisan miliknya tapi setahuku saat ini dia sedang jalan-jalan keliling Eropa. Ternyata dia ada di Korea bahkan satu ruangan denganku. Luar biasa sekali ya berita yang beredar di luar sana. Tapi jujur, aku senang sekali bisa bertemu langsung dengan Kinara yang sangat sulit untuk di temui." Archangel nampak menggenggam tanganku dengan erat dengan senyum lebarnya.
Tiba-tiba saja jantungku berdegup dengan sangat keras karena Archangel meremas tanganku cukup kuat dan senyumannya seakan mengandung suatu makna tersirat. Dia nampak memandang langsung ke manik mataku dengan mata hitamnya yang berkilat terang.
"Ya, kami memang meminta stasiun televisi untuk merekam Kinara lebih dahulu dan menuliskan acara itu Live padahal sebenarnya itu acara yang sudah di liput beberapa bulan yang lalu." Dengan cepat Mevil menjawab perkataan Archangel.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Wind Blows
ChickLitWaktu kecil orang tua kandungku meninggalkanku di panti asuhan. Hingga akhirnya aku diangkat oleh sepasang suami istri. Mulanya hidupku sangat bahagia. Mereka menyekolahkanku, Mereka memberikanku fasilitas yang memadai, Aku merasa di sayangi. Hingga...
