Waktu kecil orang tua kandungku meninggalkanku di panti asuhan.
Hingga akhirnya aku diangkat oleh sepasang suami istri.
Mulanya hidupku sangat bahagia.
Mereka menyekolahkanku,
Mereka memberikanku fasilitas yang memadai,
Aku merasa di sayangi.
Hingga...
Kiara's POV Aku menatap sendu barang-barang yang baru selesei kubereskan untuk di bawa pulang. Rasanya aku tak rela untuk pulang hari ini. Tapi apa yang bisa kulakukan? Mevil memutuskan untuk pulang hari ini dan dia tak ingin mengundur kepulangannya. Padahal aku sudah merengek untuk tinggal lebih lama di sini, bahkan satu hari pun tak apa untuk bisa bersamanya lebih lama. Dia seakan narkoba dalam hidupku, entahlah bagaimana caranya dia bisa mengisi relung hatiku yang kosong. Kini ketakutanku terbukti nyata, aku jatuh cinta dengan pria itu. Dan aku harus bersiap menerima semua konsekuensi dari cintaku yang sudah pasti bertepuk sebelah tangan. Aku kembali melemparkan tatapan cemberutku kearah koper-koper itu dengan perasaan yang begitu sedih. Aku seakan tak rela terbangun dari mimpi indahku dan kembali ke rutinitasku. Terdengar pintu kamar mandi yang terbuka dan langkah kaki yang mendekat, sudah pasti itu Mevil yang baru saja selesei mandi. Kurasakan usapan ringan di kepalaku, entahlah mengapa, dia begitu suka mengusap kepalaku dan hal itu sudah menjadi kebiasaannya selama beberapa hari di pulau Jeju. Tentu saja aku tak keberatan, bahkan aku merasa senang saat dia mengusap kepalaku dengan lembut seperti itu. Akhirnya kami berteman dan sepakat untuk saling menjaga satu sama lain, ya,ya, hanya sebatas teman yang mengikuti surat kontrak pernikahan. Hanya sebatas teman yang saling menguntungkan, tapi tetap saja aku dengan bodohnya menaruh hatiku kepadanya.
"Hei, apa yang sedang kau pikirkan?" Tegur Mevil sambil masih mengusap kepalaku ringan.
"Aku tak mau pulang, aku mau di sini lebih lama." Jawabku sambil memasang wajah memelas dan memainkan jariku ke arahnya.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Sudah menjadi kebiasaanku memainkan jari saat meminta sesuatu kepada orang lain, terlihat dia yang tersenyum menatapku dan menggelengkan kepalanya dengan pelan kemudian beranjak ingin pergi mengambil baju. Aku menahan tangannya dan kembali merengek ke arahnya.
"Ayolah, satu hari saja. Satu hari lagi kita di sini, setelah itu kita pulang. Gimana? Aku masih ingin main di sini. Kita belum keliling ke semua tempat lo. Satu malam lagi kita tidur di sini ya,ya,ya,ya. " Kataku dengan meletakkan kedua tanganku di pipi sambil memasang wajah memelas ke arahnya.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Senyum tipisnya menghilang dan di gantikan dengan wajah datarnya. Aku memasang senyum jokerku dengan sabar kutunggu respon darinya, dia menatapku lama kemudian kembali menggelengkan kepalanya. Aku segera memasang wajah cemberutku setelah tau jawaban darinya. Aku beranjak ingin mandi, karena rasanya tak ada gunanya memohon dengannya seperti ini. Lagipula tiket pulang kami juga tertulis hari ini, jadi dia pasti tak mau membuang tiket itu sia-sia. Kemudian kurasakan sebuah tangan besar yang menghentikan langkahku, aku berhenti dan menatapnya. Terlihat dia yang mengangguk ke arahku, aku menatapnya dengan bingung kemudian dia berkata.